Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
13 - ADA APA DENGAN HATI ZAFIRA?


__ADS_3

"Mengapa kamu menolak Wilda? Aku sering melihatnya mengajakmu berkencan tapi kamu selalu memiliki seribu alasan menolaknya," tanya Zafira saat mereka berjalan menuju kelas.


"Aku bukan type pria yang mudah berpindah hati," sahut Fariz pendek.


"Mengapa kamu selalu saja menolak setiap gadis yang mendekatimu? Padahal sudah banyak gadis yang berusaha ingin menjalin hubungan serius denganmu," tanya Zafira heran.


"Itu bukan urusanmu. Aku berkata jujur pun percuma, kamu juga tidak pernah mengerti," Fariz membalas ucapan Zafira dengan penuh tekanan.


"Aku mengerti perasaanmu padaku, karena itulah selama ini aku selalu menyuruhmu untuk melupakan segala perasaanmu itu dan mencari gadis lain, tapi kamu saja yang selalu mengikuti hatimu," tangkis Zafira tidak mau kalah.


"Sekarang aku tanya padamu? Seandainya ada seseorang yang menyuruhmu untuk melupakan dan meninggalkan Ronald, apa kamu bisa??," tanya Fariz membuat Zafira tersentak hingga tidak mampu menjawab kata-kata Fariz, gadis itu terdiam seribu bahasa.


Apa yang dikatakan Fariz memang benar, berpuluh kali bahkan ratusan kali sang mama, Laras, sering menasehati dirinya agar menjauhi Ronald dan memilih Fariz, namun Zafira tetap mempertahankan apa yang ada di hatinya, hampir lima tahun dia menjalin hubungan dengan Ronald dan mengabaikan keinginan sang mama.


"Mengapa diam? Kamu sendiri tidak bisa kan? Kamu masih saja mengikuti hatimu," ucap Fariz sekali lagi membuat Zafira terdiam.


"Masuklah ke kelasmu, aku juga akan masuk ke kelasku, nanti sore tunggu aku di kelas, aku akan menjemputmu di sini," ucap Fariz memutus pembicaraan lalu berjalan meninggalkan Zafira yang masih termenung memikirkan kata-kata sang sahabat.


Beberapa jam kemudian, Fariz sudah berdiri di depan kelas Zafira.


"Mau shalat dulu atau langsung pulang?," Fariz bertanya meminta pendapat sang gadis.


"Shalat dulu, biar tenang pulang ke rumah tidak diburu-buru," jawab Zafira.


"Baiklah," sahut Fariz mengikuti langkah Zafira yang sudah terlebih dulu melangkah ke arah masjid.


"Apa Zafran sudah memberitahumu kalau sore ini dia menyuruhku mengantarmu pulang?," tanya Fariz masih dalam perjalanan ke masjid.


"Iya, aku kesal Zafran suka mendadak membuat janji dengan temannya. Tadi dia mengatakan akan pergi ke rumah temannya setelah habis mata kuliah," ujar Zafira dengan wajah cemberut.


Bibir Fariz mendadak tersenyum mendengar penjelasan Zafira, karena Fariz sendiri yang menelepon Zafran, meminta sang sahabat untuk memberinya waktu mengantar Zafira pulang sore ini. Entah kemana sahabatnya itu, langsung pulang ke rumah atau justru nongkrong dulu di rumah temannya.


"Kalau aku tahu Zafran sore ini ada urusan, pasti tadi pagi aku membawa mobil sendiri. Jadi aku tidak perlu merepotkanmu untuk mengantarku pulang,"


"Hei, mengapa baru sekarang kamu merasa selalu merepotkanku? Bukankah selama ini, itu yang selalu kamu lakukan, tidak berhenti merepotkanku," gurau Fariz tertawa.


Memang benar apa yang dikatakan Fariz. Zafira selalu meminta bantuan Fariz, meminta antar ke sana kemari. Sebenarnya sebelum meminta bantuan atau meminta antar pada Fariz, Zafira biasanya terlebih dahulu meminta bantuan Zafran tetapi jika Zafran berhalangan, maka alternatif kedua adalah Fariz.


"Mengapa? Kamu merasa keberatan?," tanya Zafira mendelikkan mata ke Fariz yang berjalan di sebelahnya.


"Tidak, aku tidak pernah merasakan keberatan, aku malah senang bisa membantu dan mengantarmu kemana-mana," jawab Fariz dengan sejujurnya.


"Iyalah, kamu senang berdekatan terus dengan gadis cantik seperti aku," ucap Zafira sengaja meledek sahabatnya.


"Bukan hanya wajahmu yang cantik, tapi hatimu juga," batin Fariz melirik sekilas pada Zafira.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu, mereka telah keluar dari masjid dan saat ini mereka telah di dalam mobil perjalanan pulang, tiba-tiba Fariz membelokkan mobil masuk ke sebuah mini market.


"Kamu tunggu di mobil saja, aku hanya sebentar," pesan Fariz.


Setelah sepuluh menit, Fariz telah keluar dari mini market membawa dua es cream serta satu plastik belanjaan.


Setelah masuk ke dalam mobil, Fariz memberikan es cream rasa vanila kesukaan Zafira. Fariz juga sangat hafal jika gadis itu lebih menyukai es cream rasa vanila dibanding rasa cokelat.


"Ini kesukaanmu, makanlah sebelum cair," ucap Fariz memberikan es cream itu pada Zafira.


"Hmm, kamu tahu sekali kesukaanku, selalu membelikanku rasa vanila. Sini aku makan sekarang!," Zafira penuh semangat langsung mengambil es cream itu dan mulai menjilatnya.


Fariz tersenyum senang melihat sang gadis tampak begitu rakus menikmati es kesukaannya.


Zafira yang dengan lahapnya memakan es cream di tangannya, tiba-tiba menjadi tersadar saat melihat tangan sang sahabat tidak memegang es cream.


"Kamu tidak membeli es cream?," tanya Zafira heran.


"Tidak. Kamu sendiri yang melarangku minum es, katamu nanti tenggorokanku bisa terkena amandel kalau terlalu banyak minum es," jawab Fariz memberitahu.


Zafira langsung tertawa sambil menepuk dahi.


"Oh iya ya, aku sampai lupa. Aku sendiri yang membuat aturan, aku sendiri yang hampir melanggarnya," Zafira menggelengkan kepala menertawakan dirinya sendiri.


Fariz tersenyum melihat tingkah Zafira yang baginya selalu lucu dan tidak pernah membosankan. Pria itu terus menatap wajah Zafira yang tampak semakin cantik pada saat tertawa seperti itu, membuat hati Fariz terus berdebar menikmati wajah cantik itu.


Hati Fariz seketika bergetar, dadanya rasa berdebar saat Zafira berniat menyuapkan es cream ke mulutnya.


Fariz terdiam, bukan karena tidak mau memakan es cream itu namun karena dia merasa gugup memakan es cream dari tangan gadis yang selama ini telah membuatnya sangat jatuh cinta.


"Fariz, cobalah sedikit, tidak apa-apa kalau hanya sedikit," Zafira kembali menawarkan dengan masih menyodorkan es cream ke mulut Fariz.


Fariz pun tergagap dan berusaha menolak, dia tidak sanggup jika harus memakan es cream itu dari tangan Zafira.


"Tidak perlu, kamu saja yang makan," tolaknya menjauhkan muka dari tangan Zafira.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku habiskan ya," ucap Zafira kembali melahap es rasa vanila itu hingga tak tersisa.


Setelah melihat Zafira puas menikmati es cream kesukaannya, Fariz kemudian memberikan satu plastik belanjaan yang ada di pangkuannya.


"Ini untukmu,"


"Apa ini?," Zafira mengambil plastik itu dan segera membukanya.


"Fariz?," ucap Zafira dengan mata melebar dan langsung menoleh ke samping menatap Fariz penuh arti.

__ADS_1


"Kamu berhenti di mini market ini hanya untuk membelikanku es cream dan keperluanku?," tanya Zafira dengan tatapan kagum pada sang sahabat.


Ternyata Fariz membelikan tiga pack tissue basah serta tiga pack tissue kering yang saat di kampus tadi Zafira mengatakan kalau dia kehabisan tissue.


Zafira memeriksa semua isi di dalam plastik itu.


"Kamu baik sekali, beruntung istrimu kelak mendapat suami sebaik dan perhatian seperti kamu," ucap Zafira memuji Fariz.


"Aku hanya ingin menikah denganmu Zafira. Tidak ada gadis lain yang akan aku jadikan istri. Jika aku tidak berjodoh denganmu maka aku akan memilih hidup sendiri," batin Fariz menatap nanar Zafira yang masih sibuk melihat isi di dalam plastik.


"Aku merasa tidak enak kamu memperlakukan aku seperti ini, seharusnya kamu memperlakukan ini kepada pacarmu," ucap Zafira kemudian.


"Tidak perlu difikirkan, aku melakukan ini saat tidak ada Ronald di sampingmu, nanti kalau kamu sudah bersama Ronald, kamu pasti akan melupakanku,"


"Aku tidak pernah melupakanmu, buktinya aku masih di sini denganmu bahkan hampir setiap hari," Zafira menjulurkan lidah tersenyum simpul.


"Iya, saat tidak ada Ronald. Coba kalau ada Ronald, kamu lupa segalanya. Kamu fikir dunia ini milikmu sendiri, yang lain hanya mengontrak bulanan," Fariz mencoba membuat lelucon.


Zafira terbahak mendengar ucapan Fariz.


"Kamu cemburu? Makanya kamu mengatakan itu," ucap Zafira masih dengan bibir tersenyum.


"Tidak salah kan kalau aku cemburu? Dan tidak salah kan kalau aku tetap ingin menunggumu?," Fariz kembali keceplosan bicara.


Seketika senyum Zafira menghilang, matanya fokus menatap tajam pada Fariz yang belum menjalankan mobil, AC mobil pun masih tetap menyala.


"Mengapa kamu melihatku seperti itu? Apa perkataanku salah?," Fariz bertanya heran, karena merasa sorot mata Zafira begitu tajam memandangnya.


"Salah! Aku sudah mengatakan berulang kali padamu, jangan berharap apapun padaku," ucap Zafira mengingatkan sang sahabat.


"Dengar Zafira, hatiku milikku. Jadi aku bebas menentukan apa yang diinginkan hatiku. Jika hatiku menginginkan untuk menunggumu, maka aku akan melakukan itu! Tidak ada satu orang pun yang bisa mencegahnya!," tukas Fariz yang untuk ke sekian kali menjelaskan tentang perasaannya.


Zafira tercenung menatap nanar pada Fariz yang kini duduk mematung di jok kemudi.


Gadis itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia kehabisan cara untuk melarang Fariz agar berhenti mencintainya.


"Tapi aku tidak mau kamu menungguku terus. Kamu sudah melihat dengan mata kepalamu kalau aku sudah menjalin hubungan selama Lima tahun dengan Ronald. Meski pun Empat tahun terakhir ini aku dan Ronald menjalin hubungan jarak jauh tapi tidak mengurangi rasaku padanya. Dan mungkin kami juga akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, ke pelaminan,"


"Saat itulah aku akan pergi darimu dan berjanji tidak akan menemuimu lagi," sahut Fariz dengan penuh keyakinan.


"Deegg"


Hati Zafira terkejut dan berdetak keras. Entah mengapa, setiap kali Fariz mengatakan akan pergi darinya, hati Zafira merasa tidak ikhlas.


Memang terasa aneh, dia mencintai Ronald, namun setiap kali Fariz mengatakan akan pergi darinya, hatinya merasa tidak rela.

__ADS_1


Ada apa dengan hati Zafira? Apakah dia mencintai dua pria sekaligus? Apakah sebenarnya dia juga tertarik kepada Fariz? Atau tanpa dia sadari, ternyata ada cinta di hatinya untuk Fariz?


...*******...


__ADS_2