
Zafira Mutia Wibawa
Fariz Erlangga
*****
"Kalau memang permintaanmu ingin aku mengikhlaskanmu, aku akan memenuhinya. Aku juga akan selalu mendukung semua keputusanmu. Sama seperti Zafran dan keluargamu, aku juga ingin melihatmu bahagia. Siapa pun laki-laki pilihanmu untuk menjadi teman hidupmu, aku akan merestui. Dan jika Ronald adalah laki-laki yang bisa membahagiakanmu, maka aku ikhlaskan kamu bersamanya," ucap Fariz terus mengusap lembut rambut Zafira dengan ketegaran yang melebihi kokohnya batu karang.
Matanya memang tidak dibiarkannya menangis, tetapi batinnya-lah yang terus menangis dalam kebisuan meratapi cintanya yang tidak berbalas.
"Jika kamu bahagia dengan pernikahanmu maka aku juga akan ikut bahagia. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Mulai sekarang tidak perlu merasa bersedih lagi. Meski pun nanti kita tidak bisa bertemu setiap hari dan tidak bisa sebebas ini setelah kamu menikah, tapi aku akan tetap menjadi sahabatmu,"
Zafira terdiam di dalam pelukan Fariz, mendengarkan ucapan pria itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara bahagia dan juga sedih. Bahagia karena Fariz telah memberinya restu, sedih karena merasa telah melukai hati pria itu. Isakan Zafira pun masih terdengar di balik dada Fariz.
"Terima kasih kamu sudah menyetujui dan merestui keputusanku. Aku tidak tahu betapa sedihnya hatiku jika sampai kamu tidak merestui pernikahanku apalagi sampai berniat menjauhiku," ucap Zafira belum juga melepaskan pelukan dari tubuh tinggi itu.
"Itu tidak akan terjadi. Kamu jangan sedih. Bukankah tadi sudah kukatakan, aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan menjauhimu. Jadi sekarang jangan mengkhawatirkan hal itu lagi. Aku dan Zafran akan terus bersamamu," ucap Fariz meyakinkan keraguan yang sedari tadi dipertanyakan Zafira.
"Cintaku ini tulus Zafira, jadi aku akan melakukan apapun demi membuatmu bahagia. Walau aku yang harus terluka, aku rela," Fariz hanya mampu membisikkan kalimat ini di dalam hati.
Fariz yang mendengar suara isakan Zafira, menunduk mengamati kepala sang gadis yang terbenam di dadanya. Perlahan-lahan Fariz melepas pelukan dan menatap wajah Zafira yang masih dengan linangan air mata di pipi.
__ADS_1
"Heeii, mengapa kamu menangis? Mukamu terlihat sangat jelek kalau menangis seperti ini. Jangankan Ronald, aku saja tidak mau menjadikanmu istri dengan wajahmu yang buruk ini. Jelek dan terlihat tua," Fariz tersenyum lebar berusaha menghibur kesedihan Zafira walau sesungguhnya hati pria itu jauh lebih sedih dari pada yang dirasakan Zafira.
Dia tidak ingin gadis yang dicintainya menyambut hari pengantinnya dengan kesedihan. Fariz ingin melihat Zafira bisa tersenyum bahagia menjelang pernikahannya seperti gadis-gadis lain yang tertawa penuh kebahagiaan menanti moment penting dalam hidup mereka.
"Jangan pernah mengatakanku tua! Umurku saja baru dua puluh empat. Seenaknya saja kamu mencelaku!," rutuk gadis itu yang membuat rasa sedihnya teralihkan karena celaan yang dilontarkan Fariz, menatap kesal pada sahabatnya.
"Haha, haha, apalagi kalau kamu marah seperti ini sudah seperti nenek-nenek," Fariz kembali menggoda Zafira dengan harapan gadis itu tidak bersedih lagi.
"Ah! Kamu selalu tidak pernah bisa diajak bicara serius! Menyebalkan!," Gadis itu manyun tetapi air matanya masih tersisa di kedua sudut mata serta pipinya.
"Dengarkan aku. Aku serius kali ini," ucap Fariz menatap lekat gadis di depannya.
Fariz menyentuh wajah Zafira lalu mengusap titik air mata yang masih menyembul di sudut mata gadis itu dengan ujung ibu jari serta mengeringkan tetes air mata yang masih tersisa di pipi sang gadis dengan jari telunjuk, tengah dan manis.
Zafira terenyuh. Menatap Fariz lekat, wajah itu tetap terlihat teduh dan selalu tenang.
"Dengar Zafira, kamu harus bahagia di hari pengantinmu. Ingat, ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Jadi aku tidak ingin melihatmu sedih seperti ini. Setelah pernikahanmu, aku juga akan membuka hati untuk gadis lain dan mencari calon istri. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Nanti kamu bisa melihat sendiri seberapa banyak gadis yang akan aku perkenalkan padamu. haha, haha," hibur Fariz sengaja melepaskan tawa walau sebenarnya itu hanya kiasan belaka. Fariz memang tampak tertawa lepas tetapi jika diperhatikan dengan teliti, tawa itu terlihat hambar.
Fariz tidak benar-benar ingin mewujudkan ucapannya, karena baginya hanya Zafira yang sampai saat ini masih melekat di dalam hatinya. Dan entah kapan pria itu bisa menyingkirkan nama Zafira dari hatinya.
Zafira memperhatikan dengan sangat lekat wajah di depannya. Zafira merasa, kalau sebenarnya Fariz hanya berpura-pura bahagia dan memaksa tertawa demi membuatnya tidak bersedih lagi. Rasa ingin tahu itu pun segera diutarakannya tanpa menutupi segala yang mengganjal di benaknya.
"Fariz, kamu berpura-pura tertawa?," Zafira berkata sambil tetap mengamati gurat di muka Fariz dengan sorot mata penuh keingintahuan.
"Siapa yang berpura-pura tertawa? Coba kamu lihat wajahku. Masih tampan kan?," Fariz sedikit membungkuk men-sejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang gadis dan memasang senyum semanis mungkin di depan wajah Zafira.
__ADS_1
"Iih kamu selalu memuji diri sendiri. Aku serius, Fariz!," Zafira bersungut, mengerucutkan bibir lalu membuang pandangan ke arah danau.
"Aku juga serius. Coba perhatikan mukaku," pinta Fariz yang membuat Zafira menggerakkan kepala yang sedang menatap danau dan mengarahkan kembali pandangan kepada pria di hadapannya.
Setelah Zafira mengarahkan kembali wajah menghadap Fariz, pria itu pun melanjutkan ucapannya.
"Apa aku menangis? Tidak kan? Itu artinya aku baik-baik saja. Aku ingat pesan mama. Kalau memang kita tidak berjodoh, maka aku harus meng-ikhlaskanmu. Dan aku akan menuruti nasehat mama, akan meng-ikhlaskan semuanya. Sekarang aku tahu, kalau jodohmu itu bukan aku tapi Ronald. Jadi mulai sekarang, aku juga tidak akan mengharapkanmu lagi. Memangnya gadis di dunia ini hanya kamu saja? Tidak kan? Masih banyak gadis di luaran sana yang mau menjadi menantu mamaku. Iya kan?," jelas Fariz panjang lebar sambil memutar tubuh ke kanan menghadap danau.
Fariz berdiri tegap menghadap danau sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. Menikmati bentangan air danau yang tampak begitu tenang dan jernih. Zafira pun ikut memutar tubuh ke kiri mengikuti Fariz, memandang lurus ke depan.
Zafira masih terdiam. Namun kepala serta telinganya terus mencerna dan mendengar kata demi kata yang diucapkan Fariz tanpa melewatkan satu kata pun.
"Dan kamu juga harus ingat satu hal. Aku ini Direktur Utama. Aku laki-laki mapan, tampan dan punya jabatan. Pasti banyak gadis yang mengantri ingin menjadi istriku. Fariz dilawan!," ujar Fariz tertawa memuji diri sendiri sambil mengeluarkan satu tangan dari saku celana menepuk dada, tetap mencoba menghibur Zafira agar kembali tersenyum.
"Kumat lagi. Aku heran, mengapa kamu suka sekali memuji diri sendiri?," gerutu Zafira melirik Fariz sekilas yang masih tertawa hingga terlihat bahunya sedikit berguncang.
"Kenyataannya memang seperti itu kan?," kini pria itu menetralkan tawa menjadi sebuah senyuman kecil lalu mencuri pandang gadis di samping yang wajahnya sudah terlihat kembali berseri.
Zafira tidak menjawab. Fariz pun akhirnya ikut terdiam.
Untuk beberapa menit suasana pun kini menjadi sunyi. Zafira masih mencerna semua ucapan sang sahabat. Hingga pada akhirnya dia pun kembali membuka suara.
"Fariz, benarkah kamu akan mulai membuka hati dan mencari istri?," tiba-tiba Zafira bertanya dengan nada serius.
Pandangannya yang sedari tadi hanya tertuju pada danau di hadapannya, kini beralih memandang lekat pada pria di sampingnya dan tak sabar menunggu jawaban keluar dari bibir pria itu.
__ADS_1
...*******...