
Sepeninggal Zafran, Zafira duduk tercenung membelakangi meja rias, menghadap ke arah pintu.
Perasaannya kini menjadi tidak tenang dan resah. Dia merasa terganggu dengan kata-kata Zafran yang mengatakan Ronald pria yang licik dan sangat pintar menyembunyikan sifat aslinya. Perkataan Zafran yang mengatakan jika Zafira mengetahui kebenaran tentang Ronald maka jangan pernah menyalahkan Zafran dan juga Fariz, membuat hati Zafira semakin diselubungi perasaan cemas.
Selama ini Zafira melihat sikap Ronald biasa-biasa saja, normal, seperti kebanyakan pria pada umumnya. Gelagatnya juga tidak ada yang mencurigakan.
Dan selama beberapa tahun mereka menjalin hubungan jarak jauh, Zafira di Indonesia, Ronald di Singapura, pria itu tidak pernah melupakan Zafira sedikit pun. Setiap hari selalu memberi kabar, sedang dimana, mau kemana, pulang jam berapa, dan dengan siapa.
Semua yang dilakukan Ronald itu telah membuat Zafira yakin jika Ronald pria yang baik dan benar-benar tulus mencintainya. Zafira telah menaruh kepercayaan penuh kepada kekasihnya dan dia tidak pernah berfikir jika sang kekasih akan mengkhianatinya.
Nasehat Fariz dan juga Zafran selalu diabaikan. Bahkan sang mama serta papanya pun telah berulang kali menasehati supaya menjauhi Ronald dan menikah dengan Fariz namun tak pernah diindahkannya.
Entah karena telah dibutakan cinta, entah karena terlalu bodoh, gadis itu mengabaikan semua nasehat orang-orang terdekatnya dengan alasan karena keluarganya memang telah menjodohkannya dengan Fariz sejak mereka kecil. Dan hal yang wajar jika mereka menyukai dan memilih Fariz untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Dan secara otomatis mereka menjadi tidak menyukai Ronald meski pun Ronald telah bersikap baik sekalipun, akan tetap dianggap salah di mata keluarganya.
Hal itulah yang membuat Zafira terus mempertahankan hubungannya dengan Ronald hingga di detik terpenting hari ini, yaitu pernikahan.
Kini aksi Zafran yang sengaja meracuni fikiran Zafira sedikit membuahkan hasil. Terbukti, telah mampu membuat hati Zafira mulai ragu dengan ketulusan Ronald.
Saat gadis itu tengah tercenung memikirkan perkataan Zafran, bergumul dengan perasaan ragu serta resah yang terus menghentak kepalanya, saat itu lah terdengar sebuah teriakan memanggil namanya yang membuatnya terlonjak kaget dan mencari arah suara itu.
"Zafira, tolong aku Zafira!,"
Satu sosok tiba-tiba saja berlari masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu dengan bantingan keras yang menimbulkan gema di seluruh ruangan.
Zafira semakin terperanjat melihat sosok yang tidak diundang, tiba-tiba dengan lancang telah memasuki ruangan dan langsung memeluk lututnya seraya menangis sesegukan dengan derai air mata di pipi.
"Zafira, tolong aku Zafira! Ini pertama dan terakhir kali aku meminta tolong padamu," ucap tamu itu memohon penuh pengharapan.
Zafira yang masih dengan rasa terkejutnya, menjadi membulatkan mata melihat sosok yang sudah memeluk lututnya dengan sangat erat.
"Aku terpaksa menemuimu di sini, karena hanya kamu yang bisa menolongku. Tolong kabulkan permintaanku. Sekali ini saja, Zafira," pinta tamu itu terus saja bermohon yang membuat Zafira kebingungan sambil berusaha menggerakkan kaki dengan pelan agar terlepas dari pelukan wanita itu.
"Siapa kamu? Mengapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?," Zafira bertanya dengan perasaan yang mulai diselimuti ketakutan.
Jantung gadis itu mendadak berdebar kencang. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi, mengancam pernikahannya.
__ADS_1
Dia belum bisa melihat wajah tamu yang sedang berlutut di depannya, karena wajah itu sedikit tertunduk sehingga membuat Zafira tidak bisa melihat dengan jelas siapa gerangan tamu tidak diundang itu.
"Zafira, hentikan pernikahan ini. Aku mohon hentikan!," tamu itu masih berlutut di hadapan Zafira dengan derai air mata terus mengalir sambil terus menundukkan muka.
"Apa??," Zafira terpekik demi mendengar permintaan tamu itu.
Seketika hati gadis itu tercekat, terasa ada petir yang menyambar hati serta tubuhnya.
Mengapa semua orang menginginkan dirinya membatalkan pernikahan ini? Tadi Zafran. Dan sekarang tamu ini. Ada apa dengan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Iya, aku mohon kamu batalkan pernikahan ini. Semua demi kebaikan kita. Kebaikanku dan juga kebaikanmu," isak tamu itu terdengar keras memasuki gendang telinga Zafira.
Dalam hitungan detik wajah Zafira berubah mendung mendengar kata terakhir yang diucapkan wanita itu. Apakah dengan membatalkan pernikahan dengan Ronald menjadi kebaikan bagi dirinya? Seburuk apakah sebenarnya pribadi Ronald sehingga semua orang melarangnya untuk menikah dengan pria itu?
Nyeri rasa di dada. Pelupuk matanya terasa ingin mengeluarkan buliran bening namun dia masih berusaha menahannya, sebelum dia mengetahui dengan jelas siapa gadis itu? Dia harus bertanya lebih detail, apa tujuannya datang ke sini? Bisa saja gadis itu hanya suruhan seseorang yang sengaja ingin menghancurkan pernikahannya.
"Siapa kamu? Angkat mukamu!," pinta Zafira dengan sekuat hati masih berusaha menguatkan diri dan berharap dia tidak mengenali gadis itu.
Mendengar perintah dari Zafira, gadis itu pun menurut dan dengan ragu mengangkat kepalanya mendongak ke atas, menatap Zafira. Tatapan mereka bertemu.
Zafira terkejut saat bersitatap dengan wajah yang berada di kakinya. Matanya terus menatap tajam menilik wajah yang masih bercucuran air mata itu. Dia menajamkan ingatannya, mencoba mengingat wajah di depannya. Dia merasa wajah itu tidak asing di matanya.
"Ka-kamu? Ka-mu Citra kan?," Zafira bertanya terbata dengan perasaan semakin berdebar.
Iya, Zafira masih ingat dengan wajah itu. Meskipun mereka belum pernah bertemu secara langsung tetapi Ronald pernah memperlihatkan foto-foto Citra di akun Instagram gadis itu. Saat itu Ronald menceritakan dia baru saja putus dengan Citra. Pria itu mempertegas bahwa Citra telah menjadi mantan dan sudah menjadi masa lalunya.
Bukan hanya itu, ingatan Zafira kembali terang. Fariz juga pernah menunjukkan foto gadis itu sedang merangkul Ronald, saat di resto delapan tahun lalu. Saat Fariz membuntuti Zafira ke mall dan melihat Ronald mencuri waktu, meninggalkan Zafira di resto demi menemui Citra. Saat itu Fariz berhasil mengabadikan moment Ronald dan Citra untuk diserahkan kepada Zafira sebagai bukti.
Tetapi bodohnya, saat itu Zafira tidak percaya dengan semua yang dikatakan Fariz. Dia lebih mempercayai Ronald yang licik dan pintar menyembunyikan keburukan.
"Jawab aku. Kamu Citra bukan?," Zafira mengulangi pertanyaan setelah sekian menit tidak mendapat jawaban dari gadis itu.
Gadis di depan Zafira mengangguk pelan.
"Iya Zafira, aku Citra. Aku mohon batalkan pernikahanmu dengan Ronald," gadis itu terus saja memohon agar Zafira membatalkan pernikahan dan tetap berlutut di kaki Zafira.
__ADS_1
Hati Zafira semakin sakit. Ternyata dugaannya tepat, gadis di depannya ini benar adalah Citra. Berarti selama ini, apa benar Ronald telah membohonginya? Apa mungkin waktu di resto, Ronald sebenarnya masih menjalin hubungan dengan Citra?
Dan tidak mungkin saat ini Citra rela mengemis bahkan berlutut kepada seseorang jika bukan untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting menyangkut dirinya.
"Apa yang kamu katakan? Ini hari pernikahanku. Mengapa kamu menyuruhku membatalkannya? Aku dan Ronald telah merancang pernikahan ini dari jauh hari, jadi bagaimana bisa aku membatalkannya?," Zafira masih tetap ingin melanjutkan pernikahan meski jauh di lubuk hati perasaan ragu telah menguasai hatinya.
"Zafira, kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Aku tidak memiliki salah apapun padamu, begitu pun sebaliknya. Kamu juga tidak pernah melakukan sesuatu yang salah padaku. Kita hanya tertipu karena rayuan dan kelicikan Ronald," ujar Citra yang membuat Zafira membuka mulut dan mata dengan lebar.
"Tertipu? Tertipu bagaimana maksudmu?," Zafira semakin tidak sabar menunggu penjelasan Citra.
"Iya, kita berdua sudah sama-sama tertipu dengan sandiwara Ronald. Aku tidak tahu kalau Ronald juga menjalin hubungan denganmu. Selama ini aku fikir, hanya aku satu-satunya gadis yang dicintainya. Tapi ternyata aku salah. Diam-diam di belakangku, dia memiliki gadis lain yang aku tidak tahu sejak kapan dia menjalin hubungan denganmu. hiks, hiks," gadis itu kembali menangis mengungkapkan rasa sakit hatinya.
Zafira menggigit bibir sekuat yang dia mampu, menahan perih yang menusuk hati yang nyaris menumpahkan cucuran air matanya. Penuturan Citra seakan membuka mata serta hatinya bahwa peringatan Fariz, Zafran, mama dan papanya yang selama ini diabaikannya, hari ini menjadi kenyataan, jika pria pilihannya itu bukanlah pria yang baik.
Dengan menguatkan hati, Zafira masih mencoba bertanya. Air mata yang nyaris tumpah itu, masih saja ditahannya.
"Delapan tahun lalu, kamu tidak sengaja bertemu dengan Ronald di Plaza Indonesia, apakah kamu masih ingat kejadian itu?,"
"Iya, aku masih ingat," jawab Citra cepat.
"Waktu pertemuan kalian yang tidak disengaja itu, apakah kalian sudah putus?,"
"Tidak Zafira. Saat itu hubungan kami masih baik-baik saja bahkan saat itu Ronald sempat membelikanku tas branded," jelas Citra dengan sangat jujur.
"Sreett"
Rasa nyeri kembali mengoyak hati Zafira. Dia tidak menyangka sejak delapan tahun lalu, Ronald telah membohonginya. Menyembunyikan semua kebusukan dengan rapi tanpa meninggalkan bau busuk sedikit pun yang membuat Zafira curiga.
Gadis itu kembali teringat kepada Fariz. Saat itu Fariz telah memberikan bukti beberapa foto kebersamaan Ronald dan Citra saat di Plaza Indonesia tetapi keterangan Fariz itu justru membuatnya menyuruh Fariz pergi dari resto. Sesal. Dia merasa menyesal tidak mempercayai perkataan Fariz. Seandainya waktu itu dia lebih mempercayai perkataan Fariz daripada perkataan Ronald, dia tidak akan sehancur ini. Dia merasa sangat terluka telah ditipu selama delapan tahun oleh laki-laki yang menurutnya sosok yang baik dan sangat mencintainya.
Di saat Zafira dan Citra tengah serius membahas tentang kelicikan serta kebusukan Ronald, tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata dan dua pasang telinga sedari tadi mengintip dan mendengarkan semua pembicaraan mereka dari balik pintu.
Dua orang yang sedang berdiri di balik pintu pun saling bertatapan, tersenyum penuh arti. Terlihat keduanya tersenyum penuh kemenangan. Keduanya pun saling berpelukan meluapkan rasa bahagia mereka.
...******...
__ADS_1