
Hai BESTie-ku🫰
Mau ngasih tau sedikit ya, puisi di bawah ini adalah hasil karyanya pembaca setiaku kak @TinaWarsinoSenSen di Tangerang.
Widih nama akunnya panjang banget ya 🤭😁
Awalnya kak Tina sering berkomentar dengan puisi-puisinya yang menurutku sangat bagus.
Aku ingin karya kak Tina bukan cuma aku yang membacanya tapi aku berharap puisi ini bisa dibaca dan dinikmati oleh semua pembaca di novel ini sebagai bentuk supportku, supaya kak Tina terus mengembangkan bakat menulis puisinya ❤️
Dan beberapa minggu lalu, aku minta dikirimin sebuah puisi melalui inbox dan setelah membaca puisinya, aku pun merasa cocok jika puisi kak Tina ini dimasukkan di episode kali ini.
Semangat untuk terus menulis ya kak, makasih hasil karyamu, aku suka bgt 🙏❤️
*****
Fariz menyetir mobil dengan perasaan hancur. Rasa sedih menyebar di seluruh denyut nadi. Pria itu sengaja tidak ingin pulang ke rumah mamanya melainkan pulang ke rumahnya sendiri untuk menyendiri. Dia ingin menenangkan hati dan fikirannya yang saat ini tengah kacau.
Air mata yang sejak tadi ditahannya di hadapan Zafira, kini luruh sudah. Dia mengeluarkan semua rasa sakit hati dengan luapan air mata agar semua bebannya dapat sedikit berkurang. Sepanjang perjalanan, isi di kepalanya terasa ingin pecah berhamburan keluar memikirkan pernikahan Zafira yang tinggal menghitung hari.
Pria itu telah tiba di sebuah rumah besar berlantai dua dan membuka pagar sendiri. Karena dia tidak melihat siapa pun di depan pagar sehingga dia terpaksa membuka sendiri pagar setinggi dua meter itu. Setelah menutup pagar, dia pun langsung masuk ke dalam rumah setelah bi Senah membuka pintu menyambut majikannya itu.
"Mas Fariz, akhirnya datang juga. Sudah satu bulan tidak menginap di rumah ini. Biasanya satu minggu sekali mas Fariz rajin menginap ke sini," sambut bi Senah dengan senyum khasnya.
Fariz tersenyum menghentikan langkah. Berdiri di depan wanita itu.
"Iya bi, sedang banyak pekerjaan di kantor jadi aku tidak sempat ke sini," jawab Fariz sengaja menyipitkan mata agar bi Senah tidak melihat kalau mata itu habis menangis.
"Pantas saja bibi tunggu tidak datang-datang," kembali bi Senah tersenyum mengamati Fariz yang penampilannya terlihat awut-awutan.
Wanita itu ingin menanyakannya tetapi mulutnya terkunci, karena dia merasa ini bukan situasi yang tepat untuk menanyakan keadaan sang majikan yang mungkin saja saat ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Oh iya, kemana mang Karman? Dari tadi aku tidak melihatnya? Di depan pagar juga tidak ada," tanya pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari suami bi Senah.
__ADS_1
"Tadi sedang keluar mas, membeli pulsa bibi, habis. Bibi mau menelepon anak bibi di kampung," jelas bi Senah.
"Oh, pantas dari tadi aku tidak melihat mang Karman. Terus bagaimana keadaan anak-anak bibi di kampung?,"
"Alhamdulilah, mereka sehat mas,"
"Alhamdulilah kalau mereka sehat. Baiklah bi, aku masuk kamar dulu. Malam ini aku sedang tidak berselera makan bi. Jadi tidak perlu repot-repot menyiapkan makan malam untukku. Teh juga tidak perlu. Aku hanya ingin beristirahat dan tidur saja," ujar Fariz melangkahkan kaki, berjalan gontai meninggalkan bi Senah yang masih terbengong mendengar permintaan sang majikan.
Wanita itu sempat terkejut, merasa sangat heran dengan sikap Fariz. Sudah satu tahun wanita itu dan suaminya tinggal dan menjaga rumah ini, belum pernah satu kali pun majikannya itu datang dengan raut muka kusut, lelah, tidak bersemangat bahkan tidak berselera makan seperti malam ini.
Biasanya, meski pun Fariz tidak minta dibuatkan makan, setidaknya dia minta dibuatkan cemilan, teh hangat atau wedang jahe kesukaannya tetapi malam ini sangat berbeda, dia mengatakan tidak berselera makan ditambah penampilannya yang kusut serta mukanya yang tampak murung menambah keyakinan wanita itu kalau majikannya tengah memiliki sebuah masalah.
"Tidak biasanya mas Fariz seperti ini. Mukanya terlihat sangat kusut dan tidak bersemangat. Apa dia sedang putus cinta? Tapi siapa kekasihnya? Satu tahun aku di sini, mas Fariz belum pernah membawa seorang gadis pun ke rumah ini. Ah, tidak mungkin mas Fariz memiliki kekasih. Aku belum pernah melihatnya bersama seorang gadis," fikir wanita itu bertanya-tanya.
Fariz menutup dan mengunci pintu kamar. Melepas semua baju yang melekat di tubuhnya hingga tidak ada satu helai pun yang tersisa. Memasukkan semua pakaian kotor ke keranjang yang ada di sudut pintu kamar mandi.
Tampak tubuh bersih serta sixpack yang terawat. Fariz memandangi tubuhnya sendiri sambil tersenyum kecut. Tubuhnya memang terlihat begitu sempurna namun ternyata tidak dapat menarik perhatian sang gadis pujaan.
Beberapa menit kemudian, pria itu telah selesai mandi dan langsung menunaikan shalat Magrib. Sudah telat sebenarnya, tetapi lebih baik telat dari pada tidak ditunaikan sama sekali.
Menit berikutnya, Fariz menghempaskan tubuh di atas ranjang, menelentangkan tubuh panjang itu di kasur yang selama ini menjadi tempatnya berangan-angan dan berkhayal. Di kasur itu, dia sering berkhayal ingin menghabiskan waktu bersama Zafira di rumah ini, di kamar ini bahkan di ranjang ini.
Fariz meraba bagian bawah miliknya yang tampak meringkuk lemas seolah mengerti kalau hati, jiwa serta fikiran pemiliknya saat ini tengah bersedih dan terluka. Fariz memegang miliknya itu beberapa detik lalu kembali bibirnya tersenyum kecut membayangkan wajah Zafira.
Wajah cantik dengan senyum yang begitu manis dengan deretan gigi yang rapi saat ini menari di kepala pria itu. Terus menari-nari di sana seolah-olah sengaja ingin memberikan hiburan kepada pria yang tengah patah hati itu agar segera tersenyum.
"Setiap hari aku berkhayal. Membayangkan milikku ini akan kuberikan padamu dan menjadi milikmu. Tapi sekarang, justru aku sangat takut membayangkan milikmu harus dimiliki laki-laki lain," pria itu nelangsa, hatinya begitu terpukul menerima kenyataan bahwa sebentar lagi Zafira benar-benar akan menjadi milik orang lain, bukan hanya cintanya tetapi juga tubuh gadis itu.
Rasa perih kembali menyeruak di relung hati. Dia menyapukan pandangan ke seluruh tembok ruangan. Banyak sekali terpampang bingkai foto Zafira berukuran besar di sana.
Hingga saat ini Fariz masih merahasiakan tentang rumahnya ini kepada Zafira dan hanya menceritakan hal ini kepada Zafran. Dan Zafran pun telah beberapa kali datang ke rumah ini dan menyetujui keinginan Fariz untuk merahasiakan tentang rumah ini kepada Zafira.
Bukan tanpa alasan Fariz melakukan itu. Pria itu masih memiliki harapan yang begitu besar, suatu hari nanti dia bisa mempersunting Zafira menjadi istrinya dan menghadiahkan rumah ini untuk gadis itu.
__ADS_1
Namun sekarang apa yang terjadi? Harapan tinggallah harapan, kejutan yang dipersiapkan untuk Zafira tidak akan pernah menjadi nyata. Gadis itu telah memilih pria lain untuk menjadi suaminya.
Rumah yang Fariz persiapkan untuk Zafira, kini hanya akan menjadi rumah persinggahan bagi Fariz, karena pria itu enggan menempati rumah ini tanpa adanya Zafira di dalam sana.
Fariz beranjak dari kasur membuka lemari besar dan mengambil buku kecil yang tersimpan di dalam laci. Dia kembali duduk di pinggir ranjang mencoba menulis sesuatu di buku itu. Menumpahkan seluruh perasaannya menjadi sebuah puisi.
*Satu bulan sebelum pernikahanmu.
Aku masih di sini berdiri teguh mengharap cinta sang pujaan, menyandarkan segenap rasa hingga tanpa sisa.
Menitip mimpi indah di bait sebuah nama, mengikat setia pada anggun wajahnya...
Bertahun-tahun kubiarkan waktu terus berlalu dengan ribuan harap, namun kini harap pun terlempar menjadi serpihan luka...
Dirimu bagai Samudera luas yang tak mampu kuarungi hanya dengan segenggam cinta, dan dasar hatimu teramat dalam untuk kuselami hanya dengan sebongkah setia.
Cintamu pun laksana benteng karang yang tak tergoyahkan, hingga kau lebih memilih setia pada angin lalu yang hanya membisikkan semu.
Adakah kunci yang dapat membuka pintu hatimu? Dan adakah jalan yang dapat ku tempuh untuk membawamu datang ke hatiku?
Terlalu sempit kau beri celah untuk kusinggah, hingga asaku pun kini patah tak terarah.
Jika masih ada serpihan waktu untuk membalas rindu, aku masih di sini, akan setia menunggumu dan tak akan pernah berlari ke lain hati...
Fariz menaruh buku kecil itu kembali di laci, menyimpannya dengan rapi. Kemudian menunaikan shalat Isya' sebelum pergi tidur.
Selama tiga jam pria itu terus saja merasa gelisah di atas tempat tidur. Matanya tidak lekas terpejam. Fikirannya bergelayut tak menentu membuat bebannya semakin terasa berat.
Dia akhirnya beranjak dari ranjang lalu duduk berpindah tempat. Mulai dari duduk dan berbaring di sofa, pindah kembali duduk di pinggir ranjang. Pergi ke balkon dan duduk di sana hingga berjam-jam lamanya tanpa melakukan apa-apa.
Sedari tadi dia hanya meminum air putih. Perutnya terasa lapar namun nafsu makannya sama sekali tidak ada. Dia telah membayangkan semua menu makanan kesukaannya tetapi tetap saja tidak berhasil. Tidak ada makanan apapun yang dapat menggugah selera makannya.
Dan sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi tidur dalam keadaan perut kosong. Alhasil, sepanjang malam lebih dari sepuluh kali pria itu terbangun dari tidur, dia benar-benar tidak bisa merasakan tidur nyenyak malam ini.
__ADS_1
Hingga subuh saat pria itu terjaga, hatinya pun tetap sama. Terasa hampa dan gelisah. Hingga malam berganti pagi, dia tidak merasa tenang sedikit pun. Namun dia tidak bisa terus seperti ini, hidup harus terus berjalan. Apapun yang akan terjadi ke depan, dia akan terus mengingat nasehat sang mama. Berserah dan berpasrah diri kepada Allah. Hal itulah yang akan dilakukannya demi kebaikannya dan juga kebahagiaan Zafira.
...*******...