
Gadis cantik itu berusaha menelan saliva dengan susah payah. Kerongkongannya mendadak kering. Dia sangat terkejut, gugup dan tidak menyangka dengan sikap berani suaminya. Selama menjadi sahabatnya, Fariz tampak sopan dan sedikit pemalu. Tetapi mengapa setelah menjadi suaminya, pria itu tidak malu-malu memperlihatkan segala sikap yang di luar dugaan.
Zafira pun terdiam membeku. Tak mampu mengeluarkan kata maupun tindakan untuk menghindar apalagi melarang pria yang sudah merebahkan kepala di pangkuannya itu.
Fariz pun ikut membeku di atas pangkuan Zafira. Jantungnya bergemuruh kencang bagaikan ombak di tengah lautan, tatkala merasakan kepalanya berada dan berbaring sempurna di atas paha sang istri. Dia pun tidak menyangka, bisa melakukan hal sekonyol serta seberani ini. Karena nalurinya yang butuh kehangatan serta haus sentuhan dari sang istri, membuatnya refleks menjatuhkan kepala di paha gadis itu, tanpa memikirkan akibat yang harus diterimanya setelah ini. Bisa saja Zafira akan memarahinya habis-habisan bahkan mengusirnya dari atas ranjang?
Tubuh keduanya pun meremang. Seketika debaran di hati berdendang indah tanpa alunan kata. Tak ada suara apapun yang terdengar. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Kamar itu mendadak sunyi senyap di antara gelapnya malam. Hanya nafas keduanya terdengar berhembus mulai tak teratur, mengisyaratkan bahwa ada sebuah kegugupan yang tak terhindarkan muncul di hati. Rasa gugup seketika menyambar bagaikan petir. Sambaran itu telah menggetarkan dada, membuat keduanya tidak mampu mengeluarkan sebuah kata maupun suara.
Zafira tertunduk melihat muka yang ada di atas pangkuannya. Kedua tangan gadis itu tiba-tiba terkulai lemas di atas kasur, terkepal, tanpa mampu melakukan gerakan apapun. Tangannya yang tadi sempat memegang selimut terlepas begitu saja dari pegangannya. Tenaganya seperti menghilang.
Begitu pun dengan Fariz. Mukanya tampak merah hingga ke daun telinga. Tak dapat dipungkiri, pria itu pun merasakan hal yang sama seperti yang dialami Zafira. Merasa gugup. Hanya matanya yang terus menatap zafira, menyiratkan sebuah makna, bahwa betapa besar cinta yang ada di hatinya untuk gadis cantik itu.
Mata Zafira masih terbuka lebar, terpatri pada wajah tampan di atas pahanya yang kini sedang menengadahkan kepala menatapnya dengan sorot mata tak bergeming.
Fariz terus terdongak, menatap dalam, wajah menawan di atasnya. Mata yang indah. Bibir yang lembut dan ranum. Bulu alis yang hitam dan alami tanpa dicukur. Kulit wajah halus dan terlihat terawat. Seluruh yang ada di diri Zafira membuatnya menjadi mabuk. Tak ada kata puas di hatinya menikmati wajah rupawan sang istri. Nafasnya naik turun, berhembus tak beraturan, berada serapat ini dengan Zafira. Dia dapat melihat dengan jelas wajah Zafira saat tertunduk seperti itu seolah ingin menciumnya. Sayangnya itu hanya pemikiran Fariz semata. Padahal gadis itu tertunduk bukan ingin menciumnya, melainkan merasa terkejut melihat badan besar itu tanpa permisi langsung merebahkan kepala di atas pahanya.
__ADS_1
Fariz menatap sepasang mata dengan manik hitam yang begitu indah. Muka Zafira terlihat merona. Kulitnya yang putih tampak sangat jelas melukis warna kemerahan. Seumur hidup, tidak pernah ada laki-laki yang berbaring di pangkuannya. Tetapi malam ini, dia merasa sangat gugup dan menjadi salah tingkah mendapati pria yang selama ini menjadi sahabatnya telah berbaring begitu nyaman di atas pahanya.
Fariz menduga, kulit wajah Zafira yang memerah disertai mata yang masih membuka lebar menatapnya, dikarenakan sedang menahan kesal padanya karena telah berani tanpa izin berbaring di pahanya. Tetapi pria itu sama sekali tidak merasa takut. Dia tidak peduli jika sang istri akan memarahi atau pun mengusirnya dari kamar. Dia akan menerima segala konsekwensi atas perbuatannya. Saat ini, yang terpenting, dia bisa bermanja-manja sebentar di atas pangkuan gadis cantik itu. Urusan dimarahi atau pun diusir menjadi nomor ke sekian. Bisa difikirkan lagi nanti.
"Ya Allah, aku merasa sedang bermimpi. Kali ini aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku alami. Ini seperti mimpi. Rasanya aku sulit mempercayainya. Benarkah aku sekarang berada di pangkuan Zafira? Gadis yang aku cintai selama ini? Hatiku benar-benar gugup berada sedekat ini dengannya," batin sang pria merasa tidak percaya. Matanya tak lepas memandangi wajah di atasnya.
"Fariz, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu berbaring seperti ini? Mengapa aku menjadi gugup berada serapat ini denganmu?," desis gadis itu dipenuhi berbagai macam pertanyaan dalam hati. Kedua tangannya masih terlihat kaku di atas kasur, tak menimbulkan gerakan apapun.
Kedua pengantin itu bergelut dengan perasaan yang berkecamuk di hati masing-masing. Sangat wajar jika keduanya merasakan perasaan gugup. Karena ini pengalaman pertama mereka berada seintim dan serapat ini setelah menjalin hubungan persahabatan selama puluhan tahun.
Zafira berusaha mengatur perasaan. Matanya yang tadi terbuka lebar, kini dibuat senormal mungkin untuk menutupi perasaan yang ada di hati, jangan sampai Fariz mengetahuinya. Perlahan-lahan dia mengalihkan pandangan, melirik ke samping. Melirik kemana saja, yang penting tidak beradu pandang dengan mata pria yang ada di pangkuannya.
Fariz menunggu beberapa menit. Menunggu serta memastikan reaksi selanjutnya dari sang istri. Apakah akan mengomeli, memarahi, mencekik, bahkan menendangnya dari atas tempat tidur? Apalagi posisi Fariz yang berada di atas paha sang istri, memudahkan gadis itu jika ingin menendangnya jatuh dari ranjang.
Setelah menunggu beberapa menit, tak ada reaksi apapun. Sang gadis masih terdiam membisu, membenturkan mata ke sisi kiri. Tidak ada larangan atau pun kalimat marahan yang ditunjukkan Zafira. Biasanya, jika ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan hati serta keinginannya, Zafira akan langsung mengomel, menghindar bahkan memarahi. Tetapi tidak kali ini. Gadis itu seakan membiarkan dan terkesan mengizinkan. Dia seolah memberi lampu hijau kepada sang suami untuk tetap berada di atas pangkuannya.
__ADS_1
Awalnya Fariz berfikir, Zafira akan memarahi dan mengusirnya karena telah berani berbaring di pahanya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tetapi setelah beberapa menit berlalu. Gadis itu tampak tenang. Tidak ada penolakan. Tidak ada semburan larva dari mulutnya yang terkadang sangat pedas dan mematikan. Dia membiarkan saja suaminya berbaring di pangkuannya tanpa mencetuskan larangan atau pun aturan-aturan lain yang dibuatnya sendiri.
Rupanya malam ini, kesempatan emas berpihak pada Fariz, datang menghampirinya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apalagi membuang-buang waktu yang ada. Itu artinya keberuntungan milik Fariz. Pria itu menarik senyum smirk, merasa lega karena tidak ada larangan yang tercetus dari bibir gadis itu. Fariz bisa melancarkan aksi yang lain. Mudah-mudahan saja sang istri akan bersikap seperti ini terus. Tenang. Diam. Menjadi patung. Itulah harapan yang ada di benak pria itu.
Tidak ingin menunggu lebih lama. Perlahan-lahan tangan Fariz terulur ke atas, menyentuh pelan pipi halus di atasnya.
"Glek"
Kembali Zafira menelan saliva. Matanya yang tadi sengaja melirik ke sisi kiri demi menghindari tatapan Fariz, kini refleks kembali tertunduk melihat muka tampan di bawahnya.
Tidak hanya Zafira, sang suami pun tampak masih kikuk membelai wajah istrinya. Maklum saja, seumur hidup, baru kali ini dia bisa seintim ini dengan gadis yang telah membuatnya tergila-gila. Beberapa tegukan air liur dilakukan pria itu untuk membasahi tenggorokan yang terasa mengering.
Tidak hanya sang suami, sang istri pun merasakan hal yang sama, tenggorkannya tiba-tiba terasa haus. Kulit wajahnya seakan terbakar saat tangan pria yang selama ini selalu dianggapnya sahabat menyentuh lembut pori-pori wajahnya. Dia dapat merasakan betapa lembutnya sentuhan tangan Fariz seolah mengalirkan buliran air cinta ke sekujur tubuhnya.
Fariz tidak menghentikan aksinya. Dia terus mengelus pipi mulus Zafira beberapa saat. Sambil tidak melepaskan tatapan lembut pada gadis cantik itu. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa bahagia hatinya saat ini. Perlahan tetapi pasti dia mulai bisa menyentuh beberapa bagian tubuh istrinya. Meskipun hanya pipi, tetapi itu sudah lebih dari cukup membuat hati pria itu melayang tinggi. Meskipun tidak langsung bisa menyentuh keseluruhan dari tubuh istrinya, namun setidaknya dia dapat menarik kesimpulan, bahwa Zafira tidak merasa keberatan dengan sentuhan yang dilakukannya.
__ADS_1
Pria itu berharap, dengan sentuhan-sentuhan kecil yang diberikannya dapat mengikis jarak yang telah dibentangkan oleh sang istri dalam biduk rumah tangga mereka.
...*******...