
Fariz sengaja masih mengirim pesan dan tidak berhenti memberi perhatian kepada gadis itu. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Sudah terfikir di benaknya sebelum Zafira resmi menjadi istri orang, dia ingin terus mengirim pesan kepadanya karena setelah itu, mereka tidak akan bisa sedekat dan seintim ini, akan ada jurang pemisah yang teramat tinggi menghalangi mereka, yaitu Ronald, suami sang gadis.
Dia akan belajar melepaskan Zafira. Belajar menerima bahwa gadis itu bukanlah miliknya. Dan menerima takdir bahwa Zafira tercipta bukanlah untuknya.
Meski pun selamanya mereka akan tetap menjadi sahabat namun keintiman serta kedekatan yang terjalin seperti sekarang ini pasti akan berubah. Fariz tahu posisinya dan sudah memutuskan akan menarik diri dari kehidupan Zafira. Dia tidak ingin dikatakan sebagai laki-laki tidak punya rasa malu karena terus memaksakan diri berdekatan dengan istri orang.
Dan di detik-detik terakhir sebelum hari pernikahan Zafira tiba, dia akan terus memberikan sejuta perhatian kepada Zafira seperti sekian puluh tahun ini selalu dia lakukan. Setelah itu dia akan mengambil langkah meski pun akan terasa sangat menyakitkan baginya tetapi dia harus berusaha melangkah dan mengambil keputusan terberat demi kebahagiaan Zafira.
Demi dia, demi Zafira, gadis yang dicintainya, pria itu rela mengubur semua rasa cinta dan harapannya demi melihat Zafira bahagia bersama pria yang menjadi pilihan hatinya.
Demi dia, apapun akan Fariz lakukan untuk bisa melihat Zafira selalu tersenyum menjalani hari-hari.
Demi dia, Fariz akan mengikhlaskan semuanya. Meng-ikhlaskan Zafira hidup bersama laki-laki lain dan melihatnya bahagia meski pun dari kejauhan.
Zafira masih memandangi layar ponsel dan menghayati bait demi bait pesan yang terukir indah di sana dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya.
"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku," Zafira kembali mengirimkan balasan.
"Baiklah, aku juga sudah tidak mengkhawatirkanmu lagi. Kamu tidurlah sekarang. Jangan lupa kunci kamarmu! Kalau tidak, nanti tengah malam ada pria datang, masuk ke kamar dan mengganggumu. Saat kamu melihat pria itu, kamu bukannya takut tapi malah merasa senang, karena ternyata pria itu sangat tampan dan lucu. Dan aku yakin, kamu pasti akan menahannya untuk pergi dan menyuruhnya untuk tidur bersamamu! Haha, haha," isi pesan Fariz masih berusaha menggoda sahabatnya.
Fariz melakukan itu demi menghibur perasaan Zafira. Dia tidak mau menunjukkan sikap tidak ikhlas apalagi sampai bersikap dingin kepada gadis itu menyangkut rencana pernikahannya. Jika dia melakukan itu, maka bisa dipastikan gadis itu akan menyambut hari pernikahannya dengan kesedihan karena merasa kehilangan seorang sahabat.
__ADS_1
Fariz tidak mau di hari bahagia yang seharusnya menjadi moment terindah bagi Zafira yang tidak terlupakan seumur hidupnya justru membuatnya bersedih dan tidak bisa menikmati kebahagiaannya.
Keinginan Fariz hanya dua. Pertama, dia ingin Zafira tahu bahwa pria itu baik-baik saja, meski sesungguhnya yang terjadi adalah ada sebuah hati telah terluka. Kedua, dia ingin Zafira bisa berbahagia walau tidak bersamanya.
Ibarat memiliki benda kesayangan, yang sekian puluh tahun disayang, dijaga, namun tiba-tiba akan memberikannya kepada orang lain. Itu pasti sangat menyedihkan. Begitulah kira-kira yang terjadi kepada diri Fariz sekarang bahkan lebih menyakitkan dari itu.
Zafira tersenyum membaca pesan Fariz, sungguh lucu dan membuat hatinya merasa terhibur mendengar lelucon sahabat sekaligus sudah seperti saudaranya itu.
"Jika ada pria yang berani masuk ke kamarku, maka dia tidak akan aku biarkan keluar hidup-hidup. Aku akan mengurungnya di sini. Apalagi kalau pria itu seperti dirimu. Maka aku akan mengikat dan menyanderamu di kamarku! Dan aku tidak akan memberimu makan atau pun minum!," gertak Zafira mengirim balasan lagi sambil terus tersenyum.
"Haha, haha, salah satu yang membuatku takut padamu. Kamu cantik tapi kejam," Fariz pun membalas pesan Zafira.
Sungguh cinta yang tulus, Fariz masih bisa memberikan pesan yang menghibur sementara perasaannya saat ini sedang hancur dan terluka.
"Haha, haha, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku pasti kalah melawan gadis sepertimu. Baiklah, sudah malam, tidurlah," pesan Fariz mengalah.
"Iya, memang seharusnya begitu. Kamu harus mengalah padaku! Baik, aku tidur sekarang. Aku juga sudah mengantuk," akhirnya gadis itu menuruti perkataan Fariz dikarenakan matanya memang sudah sangat berat dan ingin segera meng-istirahatkannya.
"Baiklah. Selamat tidur Zafira. Jangan lupa berdoa. Mimpi yang indah..," pesan Fariz pun berakhir.
"Selamat tidur," balas Zafira pendek langsung meletakkan ponsel menjauh darinya, di atas meja.
__ADS_1
Zafira menyalakan AC lalu merebahkan tubuh di kasur. Menyelimuti tubuhnya hingga ke dada. Mulai memejamkan mata berharap segera terlelap.
Namun pada kenyataannya, mata itu terpejam namun fikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu dimana dirinya berpelukan begitu erat dengan Fariz dan mendengar detak jantung pria itu yang berpacu kencang merasuki telinga hingga masuk ke dalam relung hatinya.
Hingga detik ini, suara degupan jantung Fariz masih terdengar kencang serta masih lekat terngiang-ngiang di telinga gadis itu.
Hati Zafira terasa berbunga-bunga mengingat kejadian itu. Dan perasaan berbunga-bunga itu kian terasa saat menerima pesan dari Fariz. Terasa aneh memang, seumur-umur dia berkirim pesan dengan Fariz namun itu berjalan apa adanya tanpa ada perasaan berbunga-bunga seperti malam ini.
"Fariz, aku akan segera menikah. Semoga kamu juga akan segera menemukan gadis yang baik dan mencintaimu dengan tulus. Aku minta maaf kalau perjodohan kita tidak berjalan sesuai harapanmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," gadis itu berdoa dalam hati sambil memejamkan mata.
Antara bahagia, bingung, serta cemas kian menghantui dirinya, menunggu hari dimana Ronald akan melamarnya.
Bahagia? Pasti dia sangat bahagia karena pada akhirnya dia akan segera menikah dengan pria yang selama ini mencintai dan dicintainya. Setelah dari bangku Sekolah Menengah Atas mereka berkenalan hingga saat ini mereka masih bersama, sudah barang tentu, pernikahan menjadi pelabuhan terakhir untuk hubungan yang telah terjalin sangat lama itu.
Bingung? Iya, setengah hatinya merasa bingung dengan keputusan yang diambil. Akankah keputusan menerima lamaran Ronald menjadi keputusan yang tepat? Memilih Ronald dan menyia-nyiakan Fariz yang sekian lama telah menantinya. Akankah keputusan menerima lamaran Ronald bisa membuatnya bahagia atau justru akan menyisakan sesalan karena telah meninggalkan Fariz dan menentang perjodohan yang telah dibuat oleh kedua orang tua mereka?
Cemas? Apa yang Zafira cemaskan? Ya, dia cemas memikirkan pernikahannya. Setelah hari pernikahannya nanti, apakah Fariz akan menjauhkan diri darinya? Akan menjaga jarak dengannya? Bahkan pergi meninggalkannya dan tidak mau bertemu dengannya lagi? Hal itulah yang membuat hati gadis itu sangat cemas.
Kecemasan serta kebingungan terus membebani diri gadis itu. Hatinya belum bisa tenang jika belum mendapat restu dari Fariz. Karena dia sadar, bahwa keputusannya menikah dengan pria lain pasti sangat melukai hati sang sahabat.
Hampir dua puluh menit Zafira belum juga bisa tertidur. Memiringkan badan ke kanan, kemudian ke kiri. Menarik selimut, kemudian melepasnya dan memakainya kembali. Tampak jelas gadis itu begitu gelisah. Gerak tubuh yang bolak balik di atas kasur menunjukkan jika hatinya sedang galau.
__ADS_1
Setelah bergumul dengan fikiran yang membuat matanya susah terpejam, akhirnya beberapa menit kemudian, Zafira pun berhasil tertidur membawa semua perasaan yang berbaur menjadi satu teraduk-aduk di benak serta hatinya.
...*******...