
Fariz masih tidak menjawab perkataan sang mama. Sebenarnya hati pria itu masih sangat terpukul mengetahui Zafira telah membuat rencana akan menikah dengan Ronald. Dan dia juga belum siap jika hari ini bertemu Zafira. Emosi di dalam dirinya belum cukup stabil untuk berbicara empat mata dengan gadis itu.
"Masuk saja nak, pintunya tidak dikunci," teriak Tina dari dalam.
Daun pintu sedikit terdorong dari luar kemudian terbuka lebar. Tampak gadis cantik dengan rambut panjang diikat asal dan masih dengan pakaian kerja muncul dari balik pintu dan dengan kaki mungilnya melangkah masuk ke dalam kamar.
Tina beranjak dari ranjang menghampiri gadis itu.
Zafira mencium tangan Tina lalu memeluknya.
"Tante ada di sini rupanya? Zafira fikir tante sedang beristirahat di kamar. Bagaimana kabar tante? baik?," tanya Zafira sambil melepaskan pelukan.
"Alhamdulilah nak, tante baik. Kamu semakin cantik saja," puji Tina tersenyum memandangi anak gadis berparas ayu itu dan mengelus pipi lembutnya dengan penuh kasih sayang.
"Tante bisa saja. Nanti Zafira jadi besar kepala kalau dipuji seperti ini," seloroh Zafira sembari matanya melirik pada pria yang duduk termenung di ranjang, namun pria yang dilirik sama sekali tidak memperhatikan mereka. Tatapannya tetap tertuju pada layar televisi.
"Baiklah, tante keluar dulu. Kalian berbicara saja dulu. Ingat! Harus diselesaikan secara baik-baik. Kalian sudah dewasa, harus bisa menyelesaikan dengan kepala dingin," pesan Tina yang dibalas anggukan Zafira.
"Iya tante Zafira mengerti," jawab Zafira menuruti pesan Tina.
Wanita itu pun berjalan keluar menutup pintu dengan rapat.
Zafira meletakkan tas kerjanya di meja di samping tempat tidur yang ada di sebelah kanan, lalu berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di bibir kanan ranjang, di samping Fariz yang masih tidak merespon kedatangan Zafira. Kini, jarak mereka hanya satu meter.
"Fariz, kita makan di luar yuuk... Nanti aku yang traktir. Tadi kan kita belum sempat menghabiskan makanan. Aku tahu, ususmu itu panjang, pasti sekarang perutmu masih kelaparan meminta makan. Aku bisa mendengar suara cacing kriuk, kriuk, dari perutmu," Zafira mencoba menciptakan lelucon untuk membujuk Fariz seraya menunjuk perut pria itu.
Zafira menatap wajah kusut di depannya. Gadis itu faham, Fariz saat ini pasti sedang marah dan kecewa padanya dikarenakan rencana pernikahannya. Dia akan berusaha keras untuk membujuk dan menenangkan hati sahabatnya.
Pria itu masih diam, matanya masih menatap layar televisi tanpa menghiraukan gadis di sampingnya.
Zafira menggerakkan kepala, mengalihkan pandangan menoleh ke arah televisi. Tampak film Marvel sedang diputar di layar televisi.
"Kamu menonton film Marvel? Film kesukaanmu, pasti seru," gadis itu melihat ke arah televisi beberapa detik, kemudian mengalihkan kembali pandangan kepada Fariz, berusaha mengajak bicara namun tetap tidak ada respon dari pria itu.
Anak si mata wayang itu masih membisu. Zafira pun ikut diam. Untuk beberapa menit keduanya saling membisu sampai akhirnya gadis itu menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Fariz.
"Fariz, aku mohon, maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa kamu bersikap dingin padaku? Tolong katakan padaku, apa yang membuatmu tiba-tiba mendiamkanku?," Zafira memberanikan diri meraba lalu memegang tangan sang pria, namun dengan cepat Fariz menarik tangannya hingga genggaman Zafira terlepas begitu saja.
Gadis itu tertegun mendapat respon tidak menyenangkan dari Fariz. Tidak biasanya Fariz bersikap seperti ini kepadanya, apa mungkin hati pria itu sudah terlalu sakit sehingga dia tidak lagi selembut dulu?
__ADS_1
Terdengar Zafira menarik nafas panjang mendapat sikap dingin dari sang sahabat. Ada sekelebat kegelisahan di raut cantik itu.
"Bagaimana caraku meminta maaf padamu? Aku tidak tahu, kamu marah padaku atau pada Ronald? Bukankah kita tadi baik-baik saja saat makan di restoran? tapi mengapa sekarang kamu menjadi seperti ini? Apa karena aku berencana menikah dengan Ronald, yang membuatmu marah padaku?," tanya Zafira dengan suara pelan, gadis itu sudah merasa pesimis, dia merasa Fariz tidak akan memaafkannya dan akan menjauhinya sesuai ucapan pria itu saat di parkiran mobil.
Fariz tetap diam, tidak beringsut sedikit pun dari tempatnya.
"Fariz, bicaralah, jangan diam saja," pinta Zafira penuh permohonan.
Suasana hening. Fariz diam, Zafira pun ikut diam. Hanya suara televisi yang sedikit berisik menghangatkan suasana di dalam kamar yang tampak kaku serta dingin.
Setelah beberapa menit saling berdiam diri, akhirnya gadis itu kembali membuka suara.
"Fariz, aku mohon jangan diam terus. Seharian ini aku lelah. Lelah bekerja, lelah memikirkanmu. Aku mohon mengertilah. Aku ingin segera pulang, mandi dan beristirahat. Kalau sikapmu seperti ini terus, bagaimana aku bisa pulang?," suara Zafira mulai serak, mukanya terus memelas.
Fariz masih bungkam. Mulutnya terkunci begitu rapat. Dia masih tidak bisa mendinginkan hatinya yang terbakar cemburu serta luka batin yang begitu besar karena sang gadis pujaan akan segera mengakhiri masa lajangnya dengan menerima lamaran kekasihnya.
"Fariz, aku mohon bicaralah. Jika kamu marah karena rencana pernikahanku, maka aku minta maaf. Kalau kamu mau marah, silakan marah. Jangan diam seperti ini," berkali-kali gadis itu mengucapkan permohonan maaf namun hati Fariz tetap tidak tersentuh.
Fariz masih bertahan dengan mengunci mulut serapat mungkin. Zafira kehabisan kata serta cara. pria itu tetap tidak bergeming. Jangankan untuk memarahi Zafira, sebuah kata pun tidak meluncur dari mulut Fariz.
Dua puluh menit Zafira duduk di sana, bersabar membujuk sang sahabat namun tidak ada hasil yang didapat. Fariz tetap bungkam seribu bahasa. Gadis itu merasa kewalahan dan akhirnya memilih keluar dari kamar, karena pria itu masih tidak berniat memaafkannya.
Di luar kamar, Tina sengaja duduk di ruang tengah menunggu Zafira keluar dari kamar sang anak.
"Bagaimana? Apa Fariz sudah mau bicara denganmu?," Tina berdiri dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Zafira menggeleng dengan wajah yang tampak lesu.
"Fariz diam saja, tante. Zafira tidak tahu bagaimana harus membujuknya lagi," suara gadis itu terdengar pasrah.
"Hati Fariz pasti sedang kacau, kamu sabar ya sayang," hibur Tina mengusap-usap pundak gadis itu.
"Iya tante, Zafira bisa mengerti perasaan Fariz. Zafira keluar sebentar, nanti Zafira kembali lagi ke sini,"
"Kamu mau kemana nak? Ini sudah hampir magrib," Tina khawatir melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 17:30 sore.
"Zafira hanya pergi sebentar tante. Magrib pasti sudah pulang," ujar gadis itu menenangkan hati Tina.
"Baiklah, kamu hati-hati ya. Pelan-pelan saja bawa mobilnya," pesan Tina berjalan mengikuti Zafira yang telah melangkah keluar rumah.
__ADS_1
Dan hanya perlu waktu dua menit gadis itu telah melesat pergi mengemudikan mobil mewahnya meninggalkan rumah orang tua Fariz.
Tina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kepergian Zafira. Wanita itu tidak tahu apa yang akan dilakukan anak gadis itu di luar.
Sebenarnya Tina sangat berharap Zafira bisa menjadi menantunya, selain pintar, Zafira juga gadis yang baik dan penuh perhatian. Tina yakin, jika Zafira menjadi istri Fariz, hidup anaknya pasti akan sangat bahagia.
Namun raut mendung tiba-tiba muncul di wajah wanita itu. Dia tahu kalau Zafira tidak mempunyai perasaan apapun kepada putranya.
Hal itulah yang membuat Tina selalu memikirkan bagaimana masa depan Fariz jika Zafira menikah dengan laki-laki lain? Dan bagaimana nasib anaknya setelah ditinggal menikah oleh Zafira? Setiap kali memikirkan hal itu, membuat hati Tina menjadi sakit melihat cinta sang anak yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Tiga puluh menit kemudian, tepat suara adzan Magrib berkumandang, mobil Zafira telah memasuki halaman rumah orang tua Fariz.
Gadis itu datang dengan banyak bawaan di tangannya.
Ada sekitar sepuluh kotak nasi yang dibawanya.
Tina yang sedari tadi dengan hati was-was sengaja menunggu kedatangan Zafira di teras rumah, langsung menyongsong gadis yang baru keluar dari dalam mobil.
"Tante, ini Zafira beli nasi kotak, sekalian untuk para pekerja di sini," Zafira mengangkat sedikit kantong plastik di tangan kanan menunjukkan kepada Tina.
"Banyak sekali nak, di rumah ini hanya ada tujuh orang," jawab Tina memandangi plastik di tangan Zafira.
"Tidak apa-apa tante, kalau tidak habis, kan bisa untuk besok. Lauknya bisa ditaruh di kulkas biar tidak basi," ujar Zafira memberi saran.
"Iya sudah, ayo kita masuk, sini tante bantu membawanya," tangan Tina meraih plastik di tangan Zafira namun gadis itu menolaknya dengan cepat.
"Eh tidak perlu tante, ini hanya kotak nasi, bukan kotak harta karun. Zafira masih bisa membawanya sendiri," ucap gadis itu yang membuat Tina mendadak tertawa mendengar lelucon Zafira yang selalu hangat di telinga Tina.
"Ada-ada saja anak tante ini," Tina tertawa senang.
Keduanya segera memasuki rumah dan menuju dapur.
"Dua kotak ini untuk Fariz dan Zafira, tolong dipisahkan ya tante. Zafira shalat sebentar," ucap gadis itu meletakkan bawaannya di atas meja makan.
"Iya, shalatlah dulu, tante juga mau shalat. Kamu shalat di kamar tamu saja, ada mukena dan sajadah di sana. Nasinya nanti tante pisahkan,"
Zafira mengangguk kemudian berjalan ke kamar tamu yang tidak perlu ditunjukkan lagi oleh tuan rumah dikarenakan gadis itu sudah hafal seluk beluk rumah ini. Sejak kecil Zafira serta Zafran terbiasa main di rumah ini hingga dewasa pun mereka masih sering berkunjung ke sini bersama Laras dan Arga. Sehingga tidak heran, kalau gadis itu telah menganggap rumah orang tua Fariz seperti rumahnya sendiri.
...*******...
__ADS_1