
Zafira dan Fariz masih sama-sama terdiam, hanyut dalam fikiran yang berkecamuk di kepala masing-masing.
"Apa maksud perkataanmu? Setelah aku menikah nanti, kamu mau pergi dan tidak ingin menemuiku lagi?," tanya Zafira memecah keheningan.
"Iya, saat kamu sudah memutuskan untuk melangkah ke pelaminan dengan laki-laki yang kamu cinta, saat itulah aku juga akan melepaskanmu dan takkan berharap apapun lagi padamu. Aku juga tidak akan menunggumu lagi seperti yang dari SMP hingga sekarang aku lakukan. Mungkin tugasku sudah selesai menjaga dan melindungimu. Saat kamu menikah nanti, suamimu lah yang akan menjagamu seumur hidupmu, jadi kurasa kehadiranku tidak akan diperlukan lagi dalam hidupmu,"
"Fariz, aku tidak pernah menginginkan kamu pergi dari hidupku. Kamu itu satu-satunya sahabat terbaikku, kamu saudaraku, aku tidak ingin kamu jauh dariku. Aku ingin kamu tetap ada di dekatku, sama halnya Zafran yang akan selalu ada di hidupku. Kalau ada sesuatu yang terjadi padaku, aku harus meminta bantuan siapa? Selain kamu dan Zafran," ucap Zafira sedih menundukkan muka.
"Aku tidak bisa Zafira, aku sudah memutuskan, jika kamu sudah memiliki suami, aku tidak akan menemuimu lagi. Bila perlu aku akan pindah dari kota ini,"
"Fariz! Kamu jahat! Mengapa kamu sampai harus pindah kota demi menghindariku?," Zafira mendadak meneteskan air mata, hatinya sedih jika benar suatu hari nanti Fariz akan meninggalkannya.
Aneh memang hati Zafira, belum saja perkataan Fariz menjadi kenyataan, gadis itu sudah menangis seakan-akan Fariz benar telah meninggalkannya.
Sejujurnya, gadis itu merasa bahagia ada Fariz yang selalu di sampingnya. Selama ada Fariz dan Zafran di sisinya, semua masalah serta beban yang dipikul akan selalu terasa ringan.
Setiap detik sahabat serta saudara kembarnya itu selalu setia membantu dan mencari jalan keluar untuk kesulitan Zafira, karena itulah Zafira tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka. Baginya Zafran dan Fariz sama berarti dalam hidupnya.
"Heeii mengapa kamu menangis? Bukankah kamu tidak pernah mencintaiku? Jadi untuk apa kamu menangisi hal tidak penting seperti ini?," Goda Fariz tetap mencoba tersenyum meski pun hatinya juga merasa sedih harus mengucapkan kata bahwa dia akan menjauhi Zafira jika gadis itu telah memiliki suami.
"Wajar saja aku menangis, kita sudah sangat lama berteman Fariz! Nanti tiba-tiba aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku pasti akan sangat sedih," ucap gadis itu polos serta jujur masih dengan tetesan air mata di wajah cantiknya.
"Zafira, jika kamu menangisi kepergianku dan tidak ingin aku jauh darimu, apa itu artinya kamu juga mencintaiku?," tanya Fariz kali ini dengan muka serius menatap lekat gadis cantik yang masih menundukkan muka.
Zafira tersentak. Mukanya yang tadi tertunduk sontak mendongak, pandangannya beralih menatap lekat pada pria tampan yang duduk di sebelahnya.
"Apa benar aku juga mencintai Fariz? Sejak kapan? Mengapa aku tidak menyadarinya? Aahh tidak mungkin! Selama ini aku hanya berteman, tidak lebih! Lagi pula aku sudah lama menjalin hubungan dengan Ronald bahkan sering membahas masalah pernikahan. Jadi tidak mungkin aku jatuh cinta pada Fariz. Ini hanya keinginan Fariz saja yang menginginkanku membalas cintanya," Zafira bergumam dalam hati.
"Tidak mungkin aku mencintaimu Fariz. Tebakanmu itu salah besar. Kamu juga sudah tahu, kalau aku sudah mencintai laki-laki lain. Tidak mungkin hatiku bisa mendua seperti yang baru saja kamu katakan. Tidak mungkin aku mencintai Ronald dan mencintaimu juga. Kamu ini lucu sekali," Zafira menggeleng-gelengkan kepala.
Hati Fariz rasa terhempas mendengar pernyataan Zafira, gadis yang selama ini dia cintai dari ujung kaki hingga kepala, dari pagi hingga malam.
Jangankan Zafira, Zafran saudara kembar Zafira pun sangat faham dengan perasaan Fariz kepada Zafira, sungguh besar cinta Fariz terhadap Zafira namun gadis cantik itu tidak pernah mengindahkan perasaan Fariz.
Namun ucapan yang baru saja Zafira lontarkan, sedikit banyak bisa diterima oleh akal sehat Fariz, tidak mungkin Zafira mencintai dua laki-laki sekaligus.
__ADS_1
"Baiklah, aku tahu itu. Tidak mungkin kamu mencintai Ronald dan aku secara bersamaan. Aku tahu posisiku. Menikahlah dengan Ronald, setelah itu aku siap melupakanmu,"
"Kamu tidak harus melupakanku. Meski pun nanti aku sudah menikah, kita tetap bisa menjadi sahabat dan saudara. Aku juga akan menjadi sahabat istrimu kelak,"
"Tidak semudah yang kamu katakan Zafira. Kamu tidak berada di posisiku jadi kamu tidak akan bisa mengerti rasanya jadi aku. Mana mungkin aku bisa kuat melihatmu seutuhnya menjadi milik laki-laki lain. Jalan satu-satunya untuk menguatkan hatiku adalah pergi dari kota ini," desis Fariz lirih dalam hati.
"Kamu sudah memiliki Ronald, dan aku menyerahkanmu padanya. Dia yang akan menjagamu,"
"Iya aku tahu aku sudah memiliki Ronald, tapi aku juga butuh kamu dan Zafran dalam hidupku! Kalian itu saudaraku! Kalau terjadi sesuatu padaku, apa kamu tidak kasihan?," Zafira sedikit meninggikan suara, mencoba memberi pengertian pada sang sahabat.
"Mengapa kamu takut? Bukankah Ronald selalu di sampingmu? Dia yang akan bertanggung jawab atas dirimu. Dia yang akan membantumu dalam segala hal. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti,"
"Kesal aku! Kesal padamu! Ayo kita pulang! Aku tidak mau lama-lama di mobil ini!," Teriak Zafira menghapus air mata dan menatap lurus ke depan.
Mata gadis itu masih saja menitikkan buliran air mata, selain perhatian dan berhati lembut, Zafira juga seorang gadis yang manja serta mudah sekali menangis.
Fariz melirik sesaat kepada Zafira. Dia tahu, jika Zafira selalu menganggapnya sahabat serta saudara. Tidak ada harapan sedikit pun bagi Fariz untuk mendapatkan hati gadis cantik yang sudah sepuluh tahun didambakan.
Namun dia terus berdoa, Allah memberinya kesempatan untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Entah, apa akan menjadi kenyataan, atau hanya harapan semata yang tidak akan pernah terwujud.
"Kamu ini, aku yang tersakiti tapi kamu yang menangis," gurau Fariz masih berusaha menghibur Zafira.
"Iya, iya, kita pulang sekarang tuan puteri cengeng," ucap Fariz menyalakan mobil lalu melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan Zafira hanya diam, Fariz telah mengajaknya mengobrol tetapi gadis itu tetap diam saja.
Setelah menempuh perjalanan dengan ribuan kendaraan yang memadati kota Jakarta serta kemacetan panjang di setiap lampu merah, akhirnya pria tampan dan gadis cantik itu sudah tiba di rumah Laras.
Tampak di teras ada si mama cantik, Laras, sedang duduk menikmati udara sore sembari menunggu Arga yang belum pulang kerja.
Fariz keluar dari mobil lalu seperti biasa akan selalu mencium tangan calon mertua, yang entah, apa julukan itu akan terwujud atau tidak.
"Ada Fariz, masuk nak, ambil minum dulu di dalam," sambut Laras dengan penuh perhatian.
"Makasih tante, Fariz langsung pulang saja, mau mandi, lelah seharian,"
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau tidak masuk lagi. Makasih sudah mengantar Zafira ya..," Laras tersenyum hangat pada anak sahabatnya.
"Sama-sama tante, Fariz pamit dulu. Assalam'ualaikum," ucap Fariz berjalan menuju mobil yang diiringi Zafira.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Laras mengantar kepergian Fariz dengan sorot mata kagum, karena semakin hari Fariz terlihat semakin tampan serta berwibawa, sangat cocok dengan Zafira yang cantik dan menawan.
"Aku pulang dulu, Assalamu'alaikum," ucap Fariz pula kepada Zafira yang mengantarnya sampai ke mobil.
"Wa'alaikumsalam. Makasih es cream dan tissue-nya," ucap Zafira tersenyum yang dibalas anggukan kepala dari sang sahabat.
Setelah Fariz menghilang dari penglihatannya, si gadis cantik duduk di kursi di sebelah sang mama.
"Apa yang kamu bawa?," Laras bertanya mengamati paper bag serta plastik yang ditaruh Zafira di atas meja.
"Biasa ma, ini mukena, kalau yang di plastik ini, Fariz yang membelikan,"
"Apa yang dibelikan Fariz?," tanya Laras penasaran membuka plastik di atas meja.
"Tissue? Mengapa Fariz membelikanmu tissue? Memangnya stok tissue kamu sudah habis?," Laras bertanya menatap sang putri.
"Tadi di masjid kampus, ada orang yang tidak sengaja menjatuhkan es cream di dalam sepatu Zafira. Terus Fariz membersihkan dengan sapu tangannya karena tissue di tas Zafira habis. Saat perjalanan pulang ke rumah, Fariz tiba-tiba berhenti di mini market membelikan tissue ini," tutur Zafira menjelaskan.
"Masya Allah, Fariz baik sekali. Itu salah satu alasan mama sangat menyukai Fariz dibanding Ronald. Fariz selalu memperhatikan serta memprioritaskanmu nak.., Mencari calon suami itu seperti Fariz. Anaknya baik, penyayang dan sholeh. Mama berharap suatu hari nanti fikiranmu terbuka dan memilih Fariz untuk menjadi teman hidupmu,"
"Mama mulai lagi kan? Selalu ini saja yang dibahas. Mama sama saja dengan Fariz, selalu membahas masalah ini," sahut Zafira bersungut.
"Semua ada di tanganmu, semua keputusan kamu yang menentukan. Mama hanya memberi saran tapi tidak memaksamu untuk memilih Fariz. Ikuti kata hatimu," Laras menenangkan hati Zafira.
"Zafira tetap memilih Ronald. Fariz itu sahabat Zafira ma.., Dan sudah seperti saudara. Zafira tidak mau dipaksa menikah dengan Fariz,"
"Tidak ada yang memaksamu sayang.., Mama hanya memberi pencerahan saja. Kalau kamu tetap pada pendirianmu ingin memilih Ronald, mama atau pun papa tidak akan melarang. Asal kamu bahagia, mama dan papa akan merestui..," ucap Laras meraih tangan sang putri lalu mengusapnya dengan lembut.
"Terima kasih ma.., Mama memang paling baik sedunia. Selalu mengerti perasaan Zafira dan tidak pernah memaksa. Zafira sayang mama..," ucap sang putri berdiri dari kursi lalu merangkul bahu sang mama dengan kedua tangan dan menempelkan pipinya ke pipi Laras.
Keduanya tersenyum bahagia. Wajah mereka sama-sama cantik dan rupawan, hanya saja mereka berbeda generasi, yang satu Ibu dan yang satu anak.
__ADS_1
Namun kecantikan keduanya tidak diragukan lagi, karena kecantikan itu tercipta sejak lahir dan merupakan anugerah yang paling indah untuk mereka. Maha Besar Allah telah menciptakan kecantikan yang hampir sempurna.
...*******...