Terpaksa Mencintai.

Terpaksa Mencintai.
Ep.102.Ekstrapart Terpaksa mencintai


__ADS_3

🏨 Hotel🏨


Tersenyum, saat melihat istrinya tampak begitu tertawa lepas dengan kedua sahabat baiknya itu.


Sejak lulus dibangku kuliah, merekapun sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing.


Rian bekerja diJakarta, dan Dina sibuk dengan membantu mengelola perusahaan milik Suaminya.


Dan Dara memilih menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya.


Terus menatap mereka bertiga, hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang dari dulu sangat dibencinya.


" Apa kabar..? Sebuah pertanyaan yang mengejukan dia, sehingga mengalihkan pandangannya.


" Kau...! Serunya, seolah mewakili kalau ia tidak suka dengan kedatangannya.


Tersenyum, dengan reaksi Adrian.


" Kau masih saja membenciku." Seru Arman, sembari tersenyum.


Mendengus kesal, menatap lelaki tampan yang tengah menghampirinya.


" Hanya buang -buang waktuku saja jika aku membencimu, dan bagaimana kabarmu sekarang, apakah kau masih setia menunggu cinta istriku..? Tanya Adrian kesal.


Senyuman kecil, terlihat diwajah tampannya.


" Tentu saja, aku masih setia menunggu hingga Dara menjadi janda. Seru Arman, sembari tersenyum.


Tatapan mata yang sedari tajam, kini lebih menghunus saat mendengar perkataan Arman, yang menunggu Dara menjadi janda.


" Kau...! Dengan tatapan tajamnya, tapi teralih dengan kedatangan Dara.

__ADS_1


" Sayang.., ayo kita pulang aku sudah ngantuk. Serunya, sembari merajuk manja.


" Arman...!! Seruan Dara, saat mendapati keberadaan lelaki yang pernah menaruh hati padanya itu.


" Bagaimana kabarnya Dara..?, dan berapa usia kandunganmu.


Menatap tidak suka, saat Dara, dan Arman terlibat perbincangan serius, hingga mengabaikan kehadirannya.


" Kabarku" Seru Dara, yang belum menyelesaikan ucapannya, tapi Adrian sudah menyela, ucapannya.


" Seperti yang kau lihat istriku sangat baik keadaannya, dan kandungannya sudah berusia delapan bulan, dan sebentar lagi kami akan dikaruniai bayi perempuan.


Hidupku sangat sempurnah bukan..?, mempunyai istri yang cantik, dan anak yang lucu.


Makanya aku sarankan, kau segerahlah menikah. Seru Adrian, dengan tatapan sinisnya.


Menghembuskan nafas kasar, dan merasa tidak enak hati dengan Arman.


Melewati malam dengan suara mesin mobil, dan tak ada satu katapun yang keluar dari bibir mereka saat dalam perjalanan menuju rumah mereka yang berada salah satu perumahan elite yang terletak disalah satu kawasan Kute - Bali.


Suasana sedikit mencekam, dan Dara mengetahui kalau Suaminya tengah kesal terhadapnya.


" Sayang..., apakah kau marah padaku..? Tanya Dara, memecahkan keheningan yang tercipta didalam mobil.


Sedetik tatapan melirik sinis istrinya, yang menantikan jawabannya.


" Apakah kau masih mencintainya..?, v


bahkan didepanku saja kau membelanya. Serunya dengan volume suara yang terdengar kesal, dan terlihat kerutan di keningnya yang mewakili suasana hatinya yang begitu buruk.


Tersenyum lembut, dan ia sangat mengerti dengan sifat suaminya yang begitu pencemburu.

__ADS_1


"Kau tau kita banyak melewati tantangan, hingga bisa bersama, dan sebentar lagi anak Baby girl kita akan lahir, itu sangat membuktikan kalau aku sangat mencintaimu. Ucapnya lembut.


Hati yang tadinya begitu mengeras, seketika mencair begitu mendengar ucapan istrinya.


" Maafkan aku Sayang.., mungkin karena terlalu mencintaimu membuatku jadi seperti ini." Serunya dengan mencium sekilas jemari istrinya, sambil menyetir kendaraan beroda empat itu.


Detik demi detik terus berjalan, hingga mencapai bulan.Dan kini tidak terasa, kandungan Dara sudah berusia sembilan bulan.


Dan pagi ini, seperti biasanya Dara melakukan jalan paginya, ditemani Bibi Ati.


" Bibi akhir - akhir ini, aku sering merasakan kontraksi palsu. Keluh Dara, pada Bibi kesayangannya.


" Kandunganmu sudah berusia sembilan bulan, jadi wajar kau merasakan hal itu.


Apakah kau akan melahirkan normal, atau Caesar Dara..? Tanya Bibi Ati.


" Aku mau melahirkan normal Bibi..? Serunya tersenyum, dengan mengelus perutnya yang semakin membuncit.


Tersenyum, sembari menatap keponakan satu - satunya.


" Bibi, selalu mendukung setiap keputusanmu anakku, apapun itu.


Ayo kita lanjutkan jalannya. Ajaknya, sembari menggenggam jemari keponakannya.


Melihat kedatangan ibunya, Reno langsung berlari memeluk Ibunya.


" Maa...!! Sambil berlari kecil memeluk Ibunya, sembari mendongakkan kepala menatap manja Ibunya Dara.


" Reno, larinya pelan - pelan nanti Ibunya jatuh gimana.., kan kasian Dede bayinya." Tegur Bi Ati.


" Maaf Oma." Serunya, dengan menunduk karena rasa bersalah.

__ADS_1


Oh iya Maa, Papa ada membeli banyak barang untuk adik bayi. Seru Reno, yang terlihat begitu antusias.


__ADS_2