Terpaksa Mencintai.

Terpaksa Mencintai.
Ep.40 Penasaran.


__ADS_3

"Makasih ya Arman, sudah ngantarin aku." Seru Dara, saat mobil Arman sudah terparkir didepan kos miliknya.


Dan saat akan turun, Arman langsung mencekal tangannya.


Ada apa, Arman?" Bertanya, dengan tatapan penasaran.


"Apa jawabanmu, karena selama ini kamu belum menjawabnya." Dengan menatap lekat, wajah cantik itu.


"Maaf Arman, aku.." Dengan menjeda kalimatnya, karena bingung harus menjawab apa.


Dara tampak merasa bersalah, dengan laki-laki tampan itu. Ingin dia membuka hati untuk Arman, walaupun sesungguhnya tidak mencintai. Tapi mengingat video itu, membuatnya tidak berdaya.


"Tidak masalah. Aku juga tidak mau memaksamu, untuk harus menjawabnya sekarang." Dengan berusaha tersenyum, dibalik rasa kecewanya.


Dara hanya tersenyum kecil, dan memutuskan untuk turun dari mobil.


"Kalau begitu, aku turun dulu. Malam Arman." Dengan menurunkan kedua kakinya, dari mobil mewah itu.


"Malam, Dara..?" Dengan suara parau, seraya menatap nanar Dara yang telah masuk dalam gerbang kosnya.


Dara melangkahkan kakinya menuju lantai 2,kamar kosnya.


Dara sedikit terkejut,ketika membukakan pintu,tapi pintunya tidak di kunci.


Dan ketika ia menyalakan lampu, Dara sangat terkejut mendapati Adrian telah berada dalam kamar kosnya.


" Adriaann" ucapnya dengan sedikit ketakutan


" sudah selesai kencannya" ucapnya dengan nada sinis.

__ADS_1


" kencann!! jawab Dara dengan bingung


" yaa,kamu baru habiskan pacaran sama Arman buktinya aq sampe, tapi kamu belum juga pulang" ucapnya dengan nada sedikit tinggi.


"bu,bukan begitu Adrian" tadi aq sama Arman masih singgah di apotik,dia membeli salap buat ku" ucap Dara dengan sedikit ketakutan


Adrian hanya tersenyum sinis,tanpa berbicara pria tampan itu langsung meraih kantong plastik yang berisi salab dari tangan Dara ,dan membuangnya keluar dari lantai 2


" Adrian kenapa di buang salapb nya?? tanya Dara dengan bingung


" kenapa kamu tidak suka" jangan buat aq bertindak kasar padamu" ingat Dara kamu hanya milik Adrian Mahesa" camkan kata- kata ku" ucap Adrian dengan nada membentak.


Dara hanya meneteskan air mata, dengan perkataan Adrian , dan lebih memilih diam.


" berbaring lah di ranjang" ucap Adrian memerintah


Adrian duduk di tepi ranjang, pria tampan itu mengeluarkan salab yang tadi di beli dari saku jacketnya ,dan mengolesnya di kaki Dara yang terinjak duri.


"sebenarnya dia betul - betul mencintaiku / hanya terobsesi dengan ku" gumam Dara sambil terus menatap Adrian.


" masih sakit" tanya Adrian pada Dara


" sudah berkurang " ucapnya sambil tersenyum


" kamu sudah makan belum? tanya Adrian


" belum " jawab Dara sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


" ya sudah kamu mau makan apa biar aq pesan sekarang? tanya Adrian yang terlihat begitu perhatian dengan Dara

__ADS_1


" meeemm,aq pesan nasi goreng sifud aja Adrian" jawab Dara


Lalu Adrian mengeluarkan phonshel, dan menelpon salah satu restorant nya,yang kebetulan menyediakan menu nasi goreng sifud.


📲 percakapan lewat phonshel📱


Edi manajer :" mat malam tuan muda ,ada yang bisa saya bantu


Adrian :" kamu antarin sekarang 2 porsi nasi goreng sifud,sama steak daging sapi, kamu suruh salah satu karyawan antarkan ke kos Mery dengan alamat XXXX, aq tunggu sekarang


Edi :" baik tuan muda, saya akan menyuruh Anto untuk mengantar pesanan anda.


Adrian:"baiklah aq tunggu sekarang,sambil menutup telponnya.


" Adriaannn" panggil Dara pelan


" meeemmm" jawabnya singkat


" aq takut non Stella, mencurigai kita berdua, apalagi ,ia sudah mengetahui kita teman satu kelas" ucap Dara yang terlihat begitu khawatir jika Stella mengetahui kalau ia memiliki hubungan dengan Adrian.


Adrian menghela napas panjang.


" kalau itu sampai terjadi " kamu akan tetap aman selama kamu masih berada di sisiku" karena Stella hanya hitungan bulan menjadi istriku" jawabnya santai


" maksud kamu" tanya Dara yang begitu penasaran.


" suatu saat kamu akan mengerti" jawabnya dengan terus memainkan phonshelnya.


minta dukungan buat author yaa,like,komnt,vote.

__ADS_1


__ADS_2