
Tersenyum, mendengar permintaan maaf anaknya.
Sedikit membungkukan tubuhnya, mensejajarkan dengan tinggi putranya, walaupun agak kesusahan.
" Ayo, kita kedalam, Mama juga gak sabar, ingin tau apa saja yang dibeli sama Papamu." Seruan yang terdengar lembut, sembari menangkup kedua pipi chubby putranya.
Senyum merekah terpancar diwajah diwajah balita itu, sembari mengangguk antusias.
" Ayo Ma..!!" Ajaknya,dengan menarik pelan jemari Ibunya, berjalan kedalam rumah diikuti oleh, Bi Ati.
Dara sedikit terkejut, saat melihat begitu banyak barang yang menumpuk diruang tengah rumah mereka.
Mulai dari kereta bayi, dot, pakaian bayi, dan lain - lain.
"Sayang...," Panggilnya, hingga membuat lelaki tampan itu berbalik.
Kenapa kau membelikan banyak sekali barang, dan apa ini?, Dengan menjangksu sebuah gaun Kecil, untuk bayi perempuan mereka.
Dia bahkan belum lahir, tapi kau sudah membelikan dia gaun, inikan untuk usia dua tahunan Sayang....!! Seru Dara, dengan mimik cemberut.
Tersenyum, sembari berjalan menghampiri istrinya.
" Maafkan aku, karena terlalu bahagia menyambut kelahiran putriku.Membuatku, tidak mengontrol diri saat membeli kebutuhan bayi kita.
Tersenyum, sembari menampilkan wajah cemberutnya.
" Dia belum lahir saja kau sudah memanjakannya, apalagi kalau dia sudah lahir.
Menangkup kedua pipi istrinya, yang terlihat cemberut.
" Ayolah, jangan cemberut begitu." Seru Adrian, sembari tersenyum.
" Apakah, Papa, dan Mama sudah melupakan aku..?" Tanya Reno, sembari mendongakkan kepala,menatap kedua orangtuanya yang terlihat asyik, dengan perbincangan mereka.
Saling menatap, dan tertawa kecil sebab merasa lucu dengan hal yang ditanyakan anaknya.
" Tentu tidak anakku, manamungkin kami melupakanmu." Seru Adrian, sembari menggendong putranya.
Tawa bahagia terlihat jelas, diwajah pasangan Suami istri itu, bersama putra mereka Reno, dan mereka terlihat begitu bahagia.
Menyaksikan pemandangan itu, Bibi Ati hanya tersenyum, seolah merasakan kebahagian yang dirasakan keponakannya Dara, bersama keluarga kecilnya.
Detik terus berganti menjadi jam, dan berganti pula menjadi hari.
__ADS_1
Dan dihari ini pula, disebuah rumah sakit, Dara kembali memperjuangkan untuk melahirkan bayi perempuannya, secara normal.
Diluar ruang persalinan, Adrian teihat begitu gelisah. Kegelisahan itu, terlihat jelas saat tak henti - hentinya dirinya, sesekali menghampiri pintu ruangan untuk memastikan istrinya, sudah melahirkan atau belum.
" Kenapa lama sekali Bu..??" Tanya Adrian, dengan raut wajah terlihat cemas.
" Tenanglah Adrian, Dara adalah wanita yang kuat." Timpal Stella, menenangkan.
Terus menunggu, dan menunggu dengan raut masing - masing terlihat gelisah, diantara mereka.
Detik terus berjalan, hingga keheninganpun terpecah, dengan tangisan bayi, yang mengejutkan mereka semua.
" Oeekk....., Oeekk..."
Mendengar itu, senyum bahagia membingkai, diwajah mereka masing - masing saat mendengar suara bayi.
Kecemasan yang sedari tadi menyelimuti dirinya, berganti menjadi senyuman bahagia diwajah tampan Adrian.
" Anakku sudah lahir...,anakku sudah lahir." Seru Adrian, dengan bangun dari duduknya sembari menghampiri pintu ruangan persalinan, yang masih terkunci rapat.
Dan dari kejauhan, tampak sosok Reno yang datang bersama Pa Deni, dan Bibi Ati.
Memanggil ayahnya, saat mendapati keberadaannya.
" Papa adik bayi sudah lahir..?" Tanya Reno, yang terlihat begitu antusias,saat sudah berada di gendongan sang Ayah.
Tersenyum, menatap wajah putranya yang terlihat begitu antusias, menyambut kelahiran adiknya.
" Iya adikmu sudah lahir." Jawabnya, sembari mengecup singkat pipi putranya.
" Apakah aku sudah boleh menemuinya, Paa..?" Tanya balita itu, dengan bolamata berbinar.
" Bersabarlah sebentar, sampai mereka memindahkan Ibu, dan adikmu diruang rawat."
" Baik Papa." Jawabnya, sembari mengangukkan kepala.
Disinilah mereka berada, dengan tangan masih terpasang infus, Dara terbaring lemah diatas bed hospital, dia terlihat begitu bahagia , walaupun wajahnya masih terlihat pucat, setelah berjuang melahirkan putrinya kedunia.
" Mama..,kok adik bayi belum datang ...?" Tanya Reno, dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa.
Sebab anak berusia lima tahun itu, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya yang baru saja lahir.
" Tunggulah sebentar, sedikit lagi suster akan membawa adikmu kesini." Jawab Adrian, sembari menenangkan putranya dari rasa gelisahnya.
__ADS_1
Terdengar suara orang membuka pintu, hingga mengalihkan tatapan semua orang, yang berada didalam ruang rawat itu.
Senyuman bahagia membingkai diwajah mereka masing - masing, dan wajah mereka terlihat begitu penasaran saat seorang suster menggendong bayi perempuan itu berjalan menghampiri Dara.
" Papa adik bayiku sudah datang..!! " Seru Reno, yang terlihat begitu bersemangat.
Mengulurkan kedua tangannya, saat suster itu menyerahkan bayi perempuannya.
Senyuman membingkai diwajahnya, dengan manik mata nyaris berkaca - kaca, karena terlalu bahagia bisa melihat secara langsung, dan menyentuh putri kecilnya.
" Anak Perempuanku" Gumamnya pelan, sembari terseyum bahagia.
Tatapan matanya penuh kebahagian, menatap bayi perempuannya.
Kaki kecil itu, melangkahkan kaki menghampiri adik, dan Ibunya yang berada diatas ranjang.
" Mama..., Mama..., aku mau lihat adik bayi." Pinta Reno, dengan merentangkan kedua tangannya, agar diangkat keatas ranjang tersebut.
Melihat itu, Adrian segera meraih tubuh putranya, dan menduduki tubuh Reno, disisi samping istrinya.
"Mama..., adik bayinya tidur terus ya..?" Tanya Reno, dengan terus menatap adik perempuanya, yang tertidur pulas.
" Iya Sayang...!!" Jawab Dara, sembari mengecup singkat pucuk kepala anaknya.
" Adrian siapa nama anak perempuanmu..?" Tanya Ayah Adrian, yang ingin tau nama cucu perempuannya.
" Iya Adrian, siapa nama cucu kami." Timpal Ibunya.
" Nama anak perempuanku, Rena Adriana Mahesa." Jawabnya tersenyum, sembari membelai lembut pipi putrinya yang masih terlihat merah.
" Nama yang bagus." Timpal Stella pula.
Reno yang mendengar itu hanya tersenyum, tatapan matanya kembali tertuju pada adiknya.
" Adik Rena , adik Rena..., cepat besar ya..., supaya bisa main bareng Kakak." Seru Reno, pada adik perempuannya, yang masih memejamkan mata.
Mendengar itu semua yang berada di ruangan itu, hanya tertawa dengan tingkah lucu, dari balita itu.
Dara, dan Adrian saling menatap, kemudian tersenyum, dan mereka terlihat begitu bahagia memiliki sepasang anak laki - laki, dan perempuan yang lucu - lucu.
"Terimah kasih Tuhan, kau sudah memberikan kebahagian yang sempurnah buat keponakanku. Dan aku turut bahagia untuknya." Bathin Bi Ati, dengan senyum kebahagian menatap Dara, bersama Adrian, dan kedua anak mereka.
__ADS_1