
🌟 Setelah kepergian Adrian🌟
Menghembuskan napas, yang terasa sesak didadanya. Tak bisa dipungkiri dia begitu mencintai, lelaki tampan itu. Bergumam sendiri, dibalik rasa sedihnya.
"Adrian, aku juga sangat mencintaimu. Kamu membuat aku semakin tengggelam, dengan perasaan ini. Kamu tidak tau, aku begitu menderita dengan perasaan ini. Apalagi kamu akan bertungan, dengan sahabat baikku sendiri." Gumamnya, dengan raut wajah sendu, hingga tidak terasa airmatanya membasahi pipinya.
**************
Melangakahkan kaki, ditengah keheningan malam. Dinginnya udara, tak menyurutkan niatnya, untuk terus melangakahkan kaki, ditepian pantai. Memijakkan kaki menatap lurus kedepan, dengan tatapan yang kosong.
"Ahhhhhhh....."Teriaknya, yang begitu menggelegar, memecahkan keheningan malam.
Menjatuhkan diri, dan bersimpuh diatas pasir. Hingga tidak terasa, ada buliran airmata yang m'embasahi pipinya.
"Kenapa kau tida berkata jujur tentang perasaanmu Dara, kamu tidak tau bagaimana menderitanya aku, saat ini." Gumamnya, ditengah kesedihan, yang dia rasakan.
Roi melangahkan kaki, dengan sedikit tergesa-gesa, setelah mendapatkan pesan dari sahabat baiknya itu. Dan saat sudah berada diarea pantai, lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok Dara. Dan dari kejauhan, dia mendapati keberadaan Adrian, dan diapun langsung menyambangi sahabat baiknya itu.
"Adrian.." Panggilnya,.
"Roi..." Jawabnya, dengan seringai dibibirnya, yang menunjukkan kehampaan hatinya saat ini.
" Adrian, kamu kenapa? apakah ada sesuatu yang telah terjadi? katakan padaku." Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Aku akan bertungangan dengan wanita pilihan orangtuaku, tapi aku begitu menyukai Dara. Melihat dia didekati pria lain, membuat hatiku teramat sakit. Apa yang harus aku lakukan Roi?! aku harus bagaimana?" Dengan guratan kesedihan, yang terlihat jelas diwajah tampanna.
Roi begitu terkejut, saat mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Hingga bolamata itu, nyaris menyeruak dari tempatnya.
"Jadi kamu, kamu akan bertunangan?" Beratanya dengan nada penasaran.
__ADS_1
"Ia aku akan bertunangan dengan gadis pilihan orangtuaku, disatu posisi aku begitu menyu,kai Dara, dan disatu posisi aku begitu menyayangi kedua oratuaku. Dan aku tidak bisa melihat Dara bersama pria lain." Jawabnya, dengan linanga airmata.
"Apa? jadi kamu sangat meyukai Dara?" Bertanya, dan seolah tidak percaya dengan apa yang tidak dengar.
"Aku tidak tau apa yang aku rasakan, tapi melihat dia bersama pria lain aku tidak bisa. Dan aku tidak tau, ternyata dia bersahabat dengan wanita yang akan bertunngaku."
Roi begitu terkejut dengan kenyataan yang baru ;saja dia dengar, kalau gadis yang bertunangan dengan Adraian, ternyata bersahabat baik dengan Dara."Jadi mereka berteman baik?"
"Ia mereka berteman baik, dan Bibinya bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Stella."
"Aku yakin Dara, sangat menyukaimu. Tapi dia terpaksa berbohong karena, Stella, adalah sahabatnya.Dan kedua, karena Bibinya mengais rejeki, dirumah gadis itu. Jadi aku yakin, disini bukan kamu saja yang menderita, tapi Dara juga." Jelasnya, panjangn lebar.
Hanya menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. "Jadi aku harus, bagaimana?"
"'Ini merupakan keputusan yang sangat berat, tapi apapun itu aku akan selalu mendukungmu."
Menghembuskan napas kasar, seraya menghampiri sahabatnya. "Sebaiknya kita pulang, ini sudah larut malam."
"Baiklah, ayoo?!"
*********
Mengantarkan diri untuk kembali menyambangi Dara. Mendengar suara kketukan pintu, membuat Dara, terjaga dari tiddurnya.
"Siapa?!" Bertanya, dengan nada penasaran.
Tidak menjawab, dan dia tetap mengetuk pintu.
Karena rasa penasaran, dan pintu yang terus diketuk. Darapun memutuskan untuk membuka pintu. Dann dia begitu terkejut, saat melihat keberadaan Adrian yang tampak kacau.
__ADS_1
"Adraian?!" Dengan bolamata, yang nyaris menyeruak..
"Dara?!" Dengan langsung memeluk gadis itu, menumpakan kesedihan yang mengganjal.
"Adrian, kamu kenapa?"
Tidak menjawab, dan hanya terdiam. Seolah lidahnyapun, terasa keluh, dan tak sanggup lagi untuk berbicara.
"Baiklah, ayo kita masuk."
"Dara?" Panggilnya.
"Ada Apa?" Bertanya balik, dengan nada penasaran.
"Malam ini, aku ingin tidur dikosmu. Dan aku janji, tidak akan melakukan apapun."
"Baiklah, kalau begitu tidurlah. Aku akan tidur dikursi panjang itu." Ucapnya, dengan ingin melangkahkan kaki, tapi seketika tangannya langsung dicekal oleh Adrian.
"Tidurlah bersamaku, aku janji tidak akan melakukan hal itu.''
Tidak menjawab, dan dia memutuskan untuk langsung berbaring disebelah pria tampan itu. Terus saling menatap dengan pandangan sulit diartikan.
"Bisakah kamu tetap bersamaku, walaupun aku akan menjadi milik wanita lain." Dengan menatap dalam, bolamata gadis itu.
"Maksud kamu, apa Adrian?"
"Seestt...!" Dengan menaruh jarinya, diatas bibir gadis itu.
Jangan tanya alasannya, karena akupun tidak tau jawabannya. Yang aku tau, aku ingin kamu selalu bersamaku."
__ADS_1