Terpaksa Mencintai.

Terpaksa Mencintai.
Ep .30 Tangisan Dara


__ADS_3

KOS-KOSAN DARA


Setelah dengan kegiatan mandinya, Dara segera mengenakan pakaian yang dapat menutupi hingga area leher, agar dapat menutupi tanda merah yang bertebaran dilehernya.


Terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan perhatian gadis muda itu.


"Siapa sih yang datang?" Bertanya pada diri sendiri, dan seraya berjalan kearah pintu. Dan saat membuka pintu, betapa terkejutnya dia saat mendapati keberadaan Stella, dan Adrian.


Dara terlihat begitu syok, tapi sebisa mungkin dia menahannya. Ingin menangis, tapi sebisa mungkin dia membendung airmatanya. Apalagi mengingat semalam dia baru saja menghabiskan waktu, bersama Adrian.


"Non Stella, Tuann Adrian ayo masuk?" Ucap Dara, dengan berusaha untuk tersenyum, ditengah kepedihan yang teramat sangat.


Adrian tampak begitu cuek, dann sama sekali tidak memperdulikan Dara sama sekali, seolah kejadian semalam sama sekali tidak berpengaruh untuknya.


"Ayo Sayang, ayo kita masuk,'" Ajak Stella, dengan menggandeng manja lengan kekasihnya.


"Iya sayang," Dengan melangkahkan kaki, kedalam kamar kos Dara.


"Maaf yaa Dara, kalau aku, sama calon suamiku gak ngabarin sebelum kita mau kesini, soalnya aku rindu sekali sama kamu. Karena sejak pertemuan kelurgaku, sama keluarga calon suamiku, kamu gak pernah kerumah lagi."

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, Non Stella, Tuan Adrian, aku malah senang kok, kalau kalian, datang kesini."


Adrian terus menatap Dara, dengan tatapan intens, terutama cara berpakaian gadis itu, dan ia tahu, Dara sengaja memakai baju yang dapat menutupi hingga area lehernya.


"Dia sengaja memakai baju ini, agar dapat menutupi tanda kepemilikan dariku." Bathinnya, dengan terus menatap Dara.


"Sayang kamu tunggu disini yaa? aku mau bicara, sama Dara sebentar."


"Baiklah,"


"Ayo Dara, ikut aku sebentar," Ucapnya, dengan langsung berjalan kearah belakang, dan di ikuti oleh Dara, dari belakang.


Stella hanya tersenyum, saat mendapati pertanyaan dari Dara, sahabat baiknya. "Gak ada masalah Dara, semua baik-baik saja. Aku hanya mau pinjam, kamar kamu saja." Jawabnya, tersenyum.


"Pinjam Kamar? untuk apa Non?" Bertanya dengan nada penasaran, hingga kedua bolamata itu menatap dengan intens, akibat rasa penasaran yang teramat sangat.


"Meemmm.." Ucapnya, dengan sedikit malu-malu


Aku mau bermesraan, dengan calon suamiku.

__ADS_1


Begitu terkejut,dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Dan dia terlihat begitu syok, karena Dara sudah sangat memahami dengan apa yang dimaksud Stella."


"Ia Non, boleh." Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Tersenyum, dan dia terlihat begitu bahagia, saat Dara menyetujui keinginannya. " Makasih ya Dara? kamu memang sahabat terbaikku."


Kedua gadis cantik itu, kembali menyambangi Adrian


"Tuan Adrian, permisi aku keluar sebentar," Pamit Dara, dengan berlalu begitu saja.


Raut wajahnya tampakm bingung, saat Dara memutuskan untuk meninggalkan dia, dan Stella sendirian. Dann setelah kepergian Dara, Stella langsung menutup pintunya.


Langkahnya terasa gontai, saat berbalik kebelakang pintu kamar telah tertutup. Dara hanya bisa meneteskan airmatanya, menangis, dan menangis saat menuruni barisan tangga menuju, lantai bawah. Menyandarkan tubuhnya pada sudut ruangan, dan menangis tersedu-sedu.


*****


Adrian sedikit terkejut, saat Stella menutup pintunya. Dan dia sudah sangat paham, apa yang diinginkan oleh gadis, yang sebentar lagi, akan menjadi tunangannya.


Setelah menutup pintu kamar, Stella langsung menyambangi pria itu, dan duduk dipangkuannya. Mencium bibir Adrian, dengan begitu gairahnya, dan mengarahkan tangan lelaki tampan itu, kearea sensitifnya. Adrian yang semula ingin menolak, akhirnya terhanyut oleh permainan yang diciptakan oleh gadis itu,

__ADS_1


Dara yang berada tidak jauh dari kamarnya, semakin menangis, saat mendengar desahan-desahan kenikmatan dari kamarnya."Adrian, kamu jahat?! Kamu tegah sama aku." Ucapnya, dengan terus menangis.


__ADS_2