
Saat keluar dari kamar mandi, dia mendapati Adrian tengah melamun.
"Adrian?" Panggilnya, yang mengejutkan lamunan lelaki tampan itu.
"Ada apa, Raa?" Jawabnya, dengan menatap intens gadis cantik itu.
"Aku, lapar."
Menghembuskan napas kasar, saat merutuki kebodohannya sendiri.
"Ambilkan phonselku, yang dicas itu."
"Baiklah," Jawabnya, dengan menyambar phonsel Adrian yang terletak diatas meja samping ranjang. Saat mengambil phonsel, tatapan matanya sempat teralihkan pada layar phosel kekasihnya, begitu terkejut tapi dibuat setenang mungkin, saat melihat pada layar phosel tersebut photo Adrian bersama seorang wanita, dan itu bukan dirinya, atau pun Stella.
"Mungkinkah ini wanitaa yang dicintai Adrian, cantik namanya, Ayudia, seperti orangnya. Dan aku yakin, dia adalah wanita yang sesungguhnya dicintai Adrian." Gumamnya, pelan dengan terus menatap layar phosel tersebut.
"Mau sampai kapan, kau berdiri disitu terus. Tadi katanya kamu lapar, mana sini phonselnya, aku mau pesan makanan." Ucapnya, dengan nada ketus.
"Ma..maaf, ini phonselny." Jawabnya dengan sedikit gelapan, seraya menghampiri lelaki tampan itu.
Adrian segera menelpone restorant langganannya, lain dengan Adrian, lain halnya dengan Dara, gadis cantik itu tampak sibuk dengan lamunannnya, memikirkan hal yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"(Kenapa aku jadi terjebak dalam hubungan yang rumit ini, dia akan bertungan dengan Non Stella, dan tadi aku melihat photonya dia bersama wanita Ayudia, dan aku yakin dia begitu mencintai wanita itu. Dan aku yakin, gadis yang berada didalam photo itu berasal dari keluarga kaya. Tidak seperti aku, yang berasal dari gadis biasa.)"
"Kamu kenapa melamun?" Tanya Adrian, saat mendapati Adrian tengah melamun.
"Gak, aku gak melamun." Sangkalnya.
Tersenyum, saat mendapati jawaban Dara. Dan dia tahu, gadis itu berbohong. " Kamu itu berbohong, kamu mau aku cium."
"Gak, aku gak mau." Jawabnya dengan menggeleng cepat, seraya menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.
Hanya tersenyum, saat mendapati jawaban gadis itu. Duduk disampingnya, seraya menunjuk area sensiti milik Dara, yang membuat Dara begitu terkeju, dan menghindar.
"Semua yang ada pada dirimu, adalah milik aku. Milik Adrian Mahesa."
"Gak, siapa bilang. Memangnya kita sudah menikah apa?! lagipula, kamu men.." Dengan tidak, melanjutkan kata-katanya, saat menyadari apa yang akan dikatakannya.
Menghembuskan njapas kasar, karena sesungguhnya dia merasa lelah dengan hubungan ini. Apalagi mendapati photo Adrian dengan wanita lain, ditambah Adrian yang akan bertungan dengan Stella, yang merupakan sahabat baiknya. Membuat dia merasa lelah. "Adrian, bagaiman kalau kita pisah saja, kitakan masih bisa berteman Adrian?" Pintanya, dengan tatapan penuh harap.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?!"
"Tapi, Adraian?!" Belum selesai Dara menyelesaikan kalimatnya, Adraian sudah menyela ucapannya, dengan nada membentak.
"Diam, kamu Dara?!!"
__ADS_1
Hanya meneteskan airmata, saat mendapati bentakan Adrian.
Meraih jacketnya yang terletak diatas kursi, dan mengenakannya.
:"Sedikit lagi manakannya, sampe. Dan ingat jangan pernah berbicara, untuk berpisah lagi, karena itu tidak pernah terjadi." Ucap dengan nada tegas, dan berlalu begitu saja.
Hanya meneteskan airmatanya, memikirkan dirinya yang terjebak diantara hubungan yang rumit ini."Kamu mencintai wanita lain, dan sebentar lagi kamu akan bertungan dengan Stella, yang merupakan sahabat baikku, terus gunanya aku apa, Adrian?" Dengan derain, airmata.
🌟 Kediaman Bobi Mahesa🌟
"Adrian..?" Panggil Bobi, saat mendapati kedatangan Adrian.
"Paa, Maa," Jawab Adrian, dengan menghampiri kedua orangtuanya, yang tengah duduk diruang tengah.
"Duduk, Papa mau bicara." Titah Bobi, pada putranya.
"Ada apa, Paa, Maa," Jawabnya, dengan menduduki salah satu sofa tunggal.
"Kenapa kamu tidak mau acara pertungannya diselenggarakan dihotel? dan maunya dirumah saja."
"Ia Adrian, katakan pada kami. Kenapa kamu tidak mau acara pertungannya diselenggarakan dihotel. Jangan sampai, kamu masih mencintai Ayudia."
Menghembuskan napas kasar, dan tatapan matanya menatap kedua orantuanya. Dan dalam dirinya timbul rasa kasian pada ayah, dan ibunya yang begitu menyayangi Stella.
__ADS_1
"Adrian, kamu kenapa melamun? apakah kamu betul-betul masih mencintai Ayudia? ingat yaa, Adrian?! sampai kapanpun Papa, dan Mama gak akan menyetujui hubunganmu, dengan gadis itu." Ucap Bobi, dengan nada yang terdengar kesal.
"Paa. Maa, aku memang sangat mencintai Ayudia, tapi itu dulu. Dan mengenai pertunangannya aku tetap ingin diakan dirumah saja, dan aku mohon jangana paksa aku. Kalau begitu aku kekamar dulu." Pamitnya, dengan berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya.