Terpaksa Mencintai.

Terpaksa Mencintai.
Ep.12 Membahas masalah perjodohan.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugas kuliah mereka, Dara segera pergi kedapur untuk membawa menyiapkan makanan kecil, dan minuman yang dibawah Adrian.


"Maaf ya Adrian! aku gak punya apa-apa, hanya ini saja. Itu juga, makanan, dan minuman yang kamu bawah tadi."


"Gak apa-apa, ini juga sudah enak. Aku yang sebenarnya minta maaf, karena sudah merepotkan kamu."


Hanya tertawa kecil, saat mendengar ucapan laki-laki tampan itu.


"Ya sudah ayo diminum, sama dmakan makanan ringannya." Seru Dara, dengan menyuguhkan minuman, dan makanan ringan itu.


"Tentu, Dara." Jawabnya, tersenyum.


Dara, dan Adrian menyantap makanan ringan yang di bawah, dan minuman yang di bawah Adrian,dalam suasana hening, dan tidak ada sepata katapun.Hingga tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Adrian menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, dan sedikit terkejut saat melihat waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Raa..., kayanya aku harus segera pulang deh! soalnya sudah malam banget."


"Iya" Kalau begjtu hati-hati yaa?!"


"Tentu, pasti aku akan hati-hati." Jawabnya, dengan keluar dari kamar kos Dara.


šŸ¢ MAHESA GROUPšŸ¢

__ADS_1


Di sebuah bangunan yang begitu megah, dengan Interior yang sangat mewah, dan gedung yang menjulang tinggi, dengan bertuliskan sebuah Logo MG di bangunan mewah tersebut. Dan dilantai duapuluh, tanpak seorang pria paruhbaya yang sedang memeriksa berkas-berkas, dengan tatapan serius.


Terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan tatapannya dari berkas-berkas tersebut.


"Masuk" Teriak Bobi Mahesa, dari dalam ruangan.


Pintu ruangan terbuka, dan menampakkan sosok Deni, sang sekretaris.


"Maaf Tuan, ada Tuan Ridwan. Beliau ingin bertemu." Ucap Deni.


"Suruh dia masuk." Jawab Bobi singkat.


Lalu Ridwan pun masuk kedalam ruangan, saat mendengar suara Bobi.


"Selamat pagi, calon besan." Sapa Ridwan tersenyum, dengan mengulurkan tangannya.


Silahkan duduk." Dengan mempersilahkan pria paruhbaya itu, untuk duduk.


Menduduki salah satu kursi, yang tersedia diruang kerja itu, dengan mengedarkan pandangannya kesegalah arah.


"Wah.." kelihatan nya lagi sibuk sekali." Ucap Ridwan, sekedar berbasa basi.


"Ahh" gak juga." Jawab Bobi, sembari melepaskan pekerjaannya.

__ADS_1


"Apakah aku mengganggu?!"


" Tentu tidak."


"Oh iya aku kesini untuk mengundang kalian sekeluarga makan malam dirumahku,dan tentu saja membahas perjodohan anak-anak kita."


"Tentu" dengan senang hati. Fan terima kasih sudah mengundang kami sekeluarga untuk makan malam."


Ridwan begitu mengagumi kemewahan ruang kerja itu, dan dia terlihat begitu bahagia.


"Anakku akan menjadi istri dari seorang pewaris tunggal Mahesa Group, dan otomatis nama perusahaanku akan ikut terangkat dengan pernikahan Adrian, dan Stella." Bathin Ridwan, yang terlihat begitu bahagia.


Kedua pria paruhbaya itu pun, kemudian melanjutkan obrolan mereka mengenai pekerjaan mereka masing- masing, anak-anak, dan kehidupan rumah tangga mereka, dan mereka terlihat begitu dekat.


"Sepertinya aku harus segera pulang, aku tidak mau mengganggu calon besanku ini, jangan sampai pekerjaannya terbengkalai gara-gara kedatanganku." Seru Ridwan, saat merasa kedatangannya sudah sangat lama.


"Tentu tidak, kehadiranmu sama sekali tidak mengganggu, malahan aku senang apalagi sebentar lagi kita akan menjadi besan."


"Ayo" kalau begitu aku antar kau, sampai ke depan lift." Ajak Bobi, dengan melangkahkan kaki, bersama Ridwan menuju lift.


"Aku pergi dulu." Pamit Ridwan, saat sudah berada didalam lift.


"Hati-hati dijalan, dan terima kasih karena kau sudah menyempat kan waktu untuk datang perusahaanku."

__ADS_1


"Sama-sama." Jawab Ridwan, dengan menekan tombol angka satu menuju lantai bawah.


Setelah pintu lift nya tertutup, Bobi langsung menghela nafas panjang, sembari mengusap kasar wajahnya. Dan sepertinya ada yang menjadi beban laki-laki paruhbaya itu.


__ADS_2