
Stella yang mendengar apa yang yang ditanyakan oleh Arman pada calon suaminya, sedikit terkejut hingga membuat dia menyela perbincangan mereka
"Tunggu, tunggu! tadi kamu bilang apa? Dara, dan Adrian satu jurusan? itu berarti kamu, satu kampus sama calon suamiku, Dara?!" Sebuah pertanyaan, yang terlihat penasaran.
Raut wajah Dara seketika terlihat pucat, dan dia terlihat sedikit gugup. Dan dalam dirinya timbul rasa takut, kalau Stella mengetahui hubungannya, dengan Adrian.
Adrian terus menatap Dara, dan dia tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Dan dialah yang menjawab, rasa penasaran calon istrinya, itu.
"Iya. Aku, dan Dara satu kampus, dan kami satu jurusan." Jawabnya, tegas.
Dara berusaha untuk tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Adrian. Sempat beradu pandang dengan kekasihnya, dan melemparkan kembali tatapannya.
"Dara?! kamu kok gak bilang kenapa gak bilang sama aku, kalau kamu sama calon suamiku ternyata satu kampus, dan juga satu jurusan." Dengan mimik cemberut, menatap Dara.
"Maaf, Non?!" Jawab Dara, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
"Calon suami?!" Kini giliran Arman yang begitu kaget, dengan apa yang dikatakan Stella barusan.
"Iya, Adrian adalah calon suamiku, dan kami akan bertunangan." Jawabnya, tegas.
Raut wajah Adrian seketika berubah kesal, karena sesungguhnya dia tidak mau orang mengtahui pertunangan dia, dan Stella yang akan diadakan sebentar lagi.
"(Gadis ini, benar-benar menyebalkan.)" Bathinnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.
"Oh.., begitu. Jadi kamu, dan Adrian akan bertunangan. Aku doakan, semoga semuanya lancar." Dengan senyuman, dan dia terlihat begitu bahagia.
"Terima kasih." Jawab Stella tersenyum, dengan terus menggandeng Adrian.
"Oh iya, dari tadi kita belum kenalan. Kenalkan, aku Arman. Aku satu kampus dengan Dara, dan Adrian. Hanya kami bedah, jurusan. Dan aku adalah, calon kekasihnya, Dara." Ucapnya, bangga.
Dara seketika menatap Arman, sebab dia sangat terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh lelaki tampan itu.
__ADS_1
"Arman, apa yang kamu katakan??"
"Kenapa. Apa aku salah berbicara seperti ini, kamukan gak punya pacar, aku juga. Jadi apa salah, jika kita pacaran?!!"
Terlihat wajah Adrian yang begitu memerah, dan tengah menahan kecemburuan yang teramat sangat.
"(Selama masih ada aku, aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki Dara. Tidak akan pernah.)" Bathinnya, dengan kemarahan yang teramat sangat.
Dara hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Arman. Dan ada pula rasa takut dalam dirinya, saat melihat tatapan Adrian yang menatapnya ,dengan tatapan yang begitu menghunus.
"A..aku, gak tau Arman." Jawab Dara, gugup.
"Mau sampai kapan kamu gak mau pacaran, memangnya kamu mau jadi perawan tua?" Ucap Stella, pada sahabatnya itu.
Tersenyum, dan menatap Dara seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Stella, barusan" Kamu serius, gak pernah pacaran, Dara..?!"
"Iya, aku memang gak pernah pacaran."
Dara tidak menjawab, dia hanya tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan Arman. Dan memutuskan, untuk pulang. "Kalian bertiga silahkan lanjutkan, aku akan pulang lebih dulu."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang." Celah, Arman.
"Boleh." Dan saat akan melangkah, tiba-tiba Dara merasakan nyeri pada kakinya, hingga membuat dia meringis kesakitan.
"Kamu kenapa? kaki kamu sakit?!" Tanya Adrian tiba-tiba, yang terlihat begitu khawatir.
"Iya, tadi gak sengaja aku nginjak duri."
"Pegang tanganku, agar kamu jalannya lebih muda." Tawar Arman, dengan mengulurkan tangannya pada Dara.
"Ta..tapi?" Jawabnya, ragu.
__ADS_1
"Sudahlah ayo..?" Dengan memegang, tangan Dara tanpa minta persetujuan gadis itu.
"Waah? kalian berdua, memang pasangan yang sangat serasi, iyakan Sayang..?"
Adrian hanya tersenyum, dan tidak menjawab dengan apa yang ditanyakan Stella padanya, sebab rasa cemburu tengah menyelimuti dirinya saat ini.
Raut wajah Dara terlihat begitu gugup, karena dalam dirnya tersimpan rasa takut, sebab dari tadi Adrian menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam."(Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya padaku, setelah kami bertemu nanti. Karena dari tadi dia menatapku, dengan tatapan yang begitu tidak bersahabat.)"
"Baiklah, kalau begitu kita berpisah disini saj." Ucap Arman, saat mereka telah tiba ditempat parkiran mobil.
"Senang berkenalan denganmu, Arman?" Seru Stella dengan senyuman, menatap laki-laki tampan itu.
"Aku juga Nona Stella, senang berkenalan denganmu."
Ayo Dara, kita pulang sekarang."
"Iya." Jawabnya singkat, dengan berjalan beriringan bersama Arman, menuju kendaraan roda empatnya.
Sepeninggal Arman, dan Dara.
"Stella kamu pulang naik taksi saja, karena aku masih ada urusan, yang harus aku bereskan sekarang juga."
"Tapi, Sayang?"
"Tolonglah, aku mohon. Karena aku harus pergi, sekarang juga." Ucapnya dengan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan wanita itu.
Stella terlihat begitu kesal. saat Adrian berlalu pergi meninggalkan dia begitu saja, dan gadis itu merasa begitu terhina.
"Dasar brengsek, kamu Adrian?! belum pernah ada pria, yang memperlakukan aku seperti ini padaku." Dengan raut wajah, yang begitu memerah.
Seketika senyuman mengembang diwajah cantiknya, dan teringat kembali akan Ryan kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa aku gak kepikiran, untuk menghubungi dia," Dengan senyuman, dan phonsel dari dalam tasnya.