
Dari seberang sana penelpon menelan ludah mendengar ancaman majikannya yang tidak pernah main-main.
"Bagaimana ini?" tanya anak buah Felix pada anak buah yang lainnnya. Mereka semua tampak berpikir keras karena tahu akan sangat susah melepaskan tawanan dari tangan Maximus, bisa saja mereka ikut masuk dalam perangkap mereka. Yang mereka tahu siapa saja yang sudah masuk ke sarang Maximus tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Mereka semua tampak berembug, memikirkan strategi yang tepat untuk membebaskan anak bosnya.
Saat-saat berdiskusi salah seorang dari mereka melihat ke arah luar pagar rumah.
"Eh ... eh ... lihat itu." Salah seorang mencolek paha yang lainnya.
"Kenapa? Kamu punya ide bagus?" tanya yang dicolek.
"Sepertinya kita tidak butuh mengatur rencana untuk membebaskan nona Chexil." Orang itu berkata sambil tersenyum sedang matanya fokus memandang ke arah rumah Felix.
"Alah ... mau elo, tinggal kepala doang?" tanya orang tadi yang ternyata adalah bos dari keempatnya.
"Dengarkan dulu, tanpa kita bergerak non Chexil sudah kembali ke rumah," ucap orang itu sambil menunjuk ke arah Chexil yang baru turun dari motor Nathan. Bersamaan dengan itu Felix menelpon kembali.
"Bagaimana? Apa kalian sudah memiliki rencana untuk membebaskan putriku?"
"Belum Tuan tapi ...."
"Anak buah Payah," potong Felix langsung tanpa mau mendengarkan pernyataan lebih lanjut dari anak buahnya.
"Dengarkan dulu Tuan! Nona Chexil sudah kembali."
"Bagaimana mungkin dia berhasil membebaskan diri dari anak buah Max?" Suara Felix terdengar tak percaya.
"Benar Tuan, tetapi dia tidak sendiri. Nona Chexil kembali dengan diantar oleh seorang pemuda."
Sedangkan Nathan setelah menurunkan Chexil, meraih ponselnya di saku celana jeans-nya karena terdengar berdering.
📱"Halo Nath."
📱"Iya Pak?"
📱"Saya cuma mau memberitahukan bahwa kamu tidak perlu kembali ke tempat ini karena sekarang kami sudah mau balik."
📱"Loh kenapa Pak?"
📱"Karena kami tidak menemukan apa-apa di tempat ini. Mungkin gadis tadi disekap di sini hanya karena rumah ini kosong."
📱"Tetapi Pak, bukankah Bapak lihat sendiri bahwa rumah itu memiliki keanehan. Bukankah bapak yang berkata sendiri bahwa mobil yang bapak kejar hilang saja di depan pintu besi. Apakah Bapak tidak penasaran?"
📱"Entahlah, lebih baik kita selidiki lain waktu saja. Saat ini masih banyak tugas lain yang harus kami urus."
📱"Baiklah Pak kalau begitu."
"Terima kasih ya Tris," ucap Chexil sambil melambaikan tangannya. Nathan hanya menjawab dengan mengangkat satu tangannya karena masih serius teleponan dengan pak Bambang. Membuat gadis itu ngedumel sendiri.
"Pria aneh sikapnya berubah-ubah. Kadang dingin, kadang ramah, kadang super cerewet. Aakh ... pokoknya aneh." Chexil menggaruk-garuk kepalanya sendiri lalu berjalan ke arah pagar rumah tanpa mau menoleh lagi. Meskipun dia merasa berhutang budi pada pria itu tetapi dia sangat kesal karena dicueki.
"Kalau begitu cari tahu tentang identitas pria itu."
__ADS_1
"Baik Tuan, perintah akan segera dilaksanakan." Pria itu menunjuk empat orang anak buah supaya mengikuti Nathan. Sedangkan anak buah yang ditunjuk itu tampak mengerti, setelah mengangguk mereka langsung bersiap-siap.
Setelah menutup telepon pria itu berkata, "Cari tahu identitas pemuda itu dan kabarkan segera!"
"Baik Bos." Mereka pun langsung beraksi mengejar motor Nathan.
"Ternyata pria itu tinggal di sini," ujar salah seorang anak buah Felix kepada rekannya saat melihat motor Nathan masuk pekarangan rumah.
"Tunggu ... tunggu ..., bukankah ini adalah rumah tuan Alberto, pengusaha kaya itu?"
"Kamu benar. Berarti pemuda tadi adalah cucunya. Bukankah tuan Alberto hanya memiliki satu anak laki-laki yang sudah beristri?"
"Sepertinya iya."
"Bang darimana saja sih?" tanya Tristan ketika Nathan masuk rumah. Pria itu sudah berdandan rapi, aroma parfum maskulin menguar dari tubuhnya.
"Apa pak satpam tidak menjelaskan tadi?" tanya balik Tristan.
"Menjelaskan apa?" tanya Tristan bingung.
"Nggak beliau cuma bilang kalau motor dibawa Abang," lanjutnya.
"Aku habis nyelamatin cewek kamu dari penculikan."
"Cewekku? Siapa? Dilvara maksud Abang?"
"Bukan!" seru Nathan sambil berjalan menapaki tangga menuju kamarnya.
"Terus siapa dong?"
"Bang!"
"Apalagi?"
"Mana kunci motornya?"
"Nih tangkap!" teriak Tristan dari atas sana sambil melempar kunci ke arah Tristan.
Tristan pun menanggkap kunci tersebut dan bersenandung kecil berjalan keluar rumah.
Saat hendak keluar pintu, Isyana menyapa, "Mau kemana lagi Tris?"
"Biasa Ma, syuting."
"Pake motor? Kenapa nggak bawa mobil saja?"
"Nggak Ma enakan bawa motor nggak kena macet."
"Tapi penampilan kamu entar hancur lagi kena angin."
"Kalau Tristan mau diapain aja masih tetap ganteng kok Ma. Jadi Mama tenang saja."
Isyana menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah kamu deh Tris."
__ADS_1
"Lagian di sana kan ada tim make up-nya. Ya sudah Ma Tristan berangkat dulu ya," pamit Tristan pada Isyana sambil menyalami kedua tangan mamanya.
"Iya hati-hati ya Nak, jangan kebut-kebutan."
"Iya Ma tenang saja Tris udah atur waktu kok supaya bisa datang tepat waktu tanpa harus kebut-kebutan. Tristan kan tidak punya dua nyawa seperti abang."
"Ekhem-ekhem." Nathan berdehem dari atas tangga karena mendengar perkataan Tristan.
"Eh Abang kok sudah turun lagi? Emang nggak mau mandi?"
"Haus," jawab Nathan singkat dan padat kemudian berlalu meninggalkan Tristan menuju dapur. Isyana hanya menggeleng melihat kelakuan kedua putranya yang kelihatan tidak akur tetapi sebenarnya mereka itu akrab kalau di rumah.
"Abang ikut." Chila sang adik memegang tangan Tristan saat pria itu sudah hendak keluar pintu.
"Waduh bakal lama deh kalau harus berhadapan dengan Chila dulu," batin Tristan.
Sepertinya dia harus putar otak dulu agar tidak ada drama menangis di rumah itu. Sikap Zidane yang selalu menuruti keinginan anak bungsunya itu membuat Chila menjadi anak manja dan selalu ingin terpenuhi keinginannya.
"Chila mau ikut lagi?" tanya Tristan.
"Boleh Abang?"
"Boleh dong." Padahal Tristan merasa ngeri kalau membawa Chila ke studio televisi, mengingat momen beberapa waktu yang lalu gadis kecil itu malah tertidur pulas. Saat dibangunkan gadis kecil itu tidak bangun-bangun padahal Tristan kan membawa motor. Alhasil dia harus meminta rekannya untuk mengantarkan Chila pulang dan Tristan tidak mau merepotkan mereka lagi.
"Wah makasih Abang," ucap Chila sambil tersenyum sumringah.
"Eits, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Buatkan abang es jeruk dulu, abang haus."
"Oke Abang." Chila langsung berlari ke arah dapur.
"Ma Tris berangkat dulu."
"Loh Tris adik kamu?" tanya Isyana heran.
"Nggak boleh ikut soalnya hari ini Tris nge-MC sampai larut malam Ma, nggak baik anak kecil begadang sampai malam."
"Jadi kamu PHP-in adik kamu hah?"
"Terpaksa Ma Tris nggak tega kalau denger dia nangis. Udah dulu ya Ma. Assalamualaikum," ucap Tristan sambil nyengir lalu bergegas pergi sebelum Chila kembali.
"Wa'alaikum salam," jawab Isyana.
"Salam buat Oma dan opa juga ya."
"Iya-iya cepetan sana pergi!"
Tristan lalu berlari ke arah motor yang terparkir lalu naik dan melajukan dengan kecepatan sedang.
"Itu dia, pemuda itu kembali keluar. Kita ikuti dia!" perintah anak buah Felix pada anak buah yang bertugas menjadi sopir di mobil yang mereka bawa.
__ADS_1
"Kok perasaanku tidak enak ya, seperti ada yang mengikuti gitu," batin Tristan. Ia bergidik ngeri takut yang mengikuti dirinya adalah begal. Dia langsung tancap gas dan mengemudikan motornya dengan kecepatan penuh.
Bersambung .....