
Mobil hitam tersebut membawa Nathan pada sebuah rumah yang terlihat begitu besar. Tampak dua orang itu turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan, seolah kedua orang tadi memang tidak menculik seorang gadis.
Di halaman itu terlihat seorang perempuan yang Nathan tebak umurnya masih muda dari mamanya namun entah kenapa wajah dan tubuh wanita tersebut terlihat lebih tua dibandingkan umurnya padahal dia tinggal di rumah yang cukup besar dan mewah yang berarti di sana berlimpah harta.
"Apakah dia cuma seorang pembantu?" batin Nathan. "Tapi bukankah seharusnya rumah yang mewah harus menjamin semua penghuninya sejahtera termasuk pembantunya juga?"
Nathan mencoba mendekat ke arah pagar dan melambaikan tangan kepada wanita tersebut. Wanita tersebut berjalan gontai ke arah Nathan dengan tubuh yang bergetar.
"Permisi apakah anda melihat mobil silver bernopol...?" Nathan menyebutkan plat nomor mobil tersebut. Perempuan itu tampak kaget. Dari raut wajahnya Nathan paham perempuan itu pasti tahu.
"Itu ... itu ..." Seorang satpam tampak mendelik ke arahnya hingga membuat nyali perempuan itu ciut kembali dan akhirnya memilih berbohong.
"Maaf saya tidak tahu." Perempuan itu berbalik lalu dengan langkah yang tergesa-gesa perempuan itu menuju pintu rumah. Terlihat ada anak kecil laki-laki yang menghampiri dan menggandeng tangan perempuan itu dan membawanya masuk.
Nathan mengernyit. "Aneh dari tingkah lakunya dia sepertinya ketakutan. Wajahnya tadi juga ada bekas tamparan. Apakah perempuan tadi mengalami penyiksaan berat hingga untuk mengobrol pun rasanya takut?"
"Ah sudahlah ada yang lebih penting yang harus ku urus sekarang."
"Nath, kami sudah menemukan mobil itu." Seorang polisi intel menepuk pundak Nathan.
"Eh Pak Bagas, dimana itu?" Nathan terlihat kaget dengan kemunculan pak Bahas dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Di rumah kosong di belakang rumah ini. Kita sudah mengepungnya tetapi pintu rumah tersebut sepertinya menggunakan sandi sehingga tidak bisa dibuka.
"Oke kita segera ke sana."
"Oke ayo."
Nathan pun memutar motornya dan mengikuti kemana gerakan polisi itu membawanya.
Sampai di belakang rumah itu terlihat beberapa polisi bersembunyi dibalik semak-semak, siap mengambil posisi masing-masing. Meski rumah ini tidak sebesar rumah yang di depan tetapi rumah ini juga terbilang cukup besar. Namun sepertinya rumah ini dibiarkan begitu saja, tidak terawat sama sekali.
Nathan dan pak Bagas melangkah menghampiri salah seorang anggota polisi yang sedang berusaha membuka pintu.
"Tidak bisa Nath, kami sedari tadi sudah melakukan berbagai macam cara tetapi belum berhasil juga."
"Kenapa tidak lewat jendela saja Pak?" tanya Nathan lagi.
"Tidak bisa seluruh ruangan rumah ini dilapisi dengan teralis besi yang kuat dan tebal."
"Oke biar saya coba dulu."
Polisi itu memberikan waktu kepada Nathan untuk berusaha membuka pintu. Setelah sekian lama Nathan mencoba mengacak-acak belum berhasil juga. Ia memikirkan bagaimana caranya bisa membukanya tanpa mereka-reka nomor sandinya. Kalau didobrak pun tidak mungkin karena pintu itu terbuat dari besi.
__ADS_1
"Pak sepertinya rumah ini sangat mencurigakan dan menyimpan banyak misteri."
"Ya kamu benar Nath dari gaya rumahnya pun kita sudah bisa menebaknya."
"Sebaiknya kita mencari alternatif lain selain lewat dari pintu ini." Sedang berkata seperti itu tidak sengaja tangan Nathan menyentuh sebuah lukisan yang terletak di samping kiri pintu besi tersebut.
Tiba-tiba,
Creeeet. Pintu yang disebelah kanan besi itu terbuka. Nathan dan semua polisi menganga karena kaget. Bagaimana tidak kaget pintu yang disangkanya dinding sedari tadi ternyata adalah pintunya.
"Berarti besi ini bukanlah pintunya Pak. Pintu besi ini hanyalah hiasan untuk mengecoh orang-orang yang ingin masuk ke dalamnya."
"Kamu benar Nath."
"Ayo kita masuk Pak."
"Baiklah ayo tetapi jangan lupa tetap waspada dan selalu hati-hati."
"Siap Pak."
Bersambung....
__ADS_1