Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 36. Permintaan Opa


__ADS_3

Nela menatap Chexil dengan kesal. "Chexil!" serunya dengan ekspresi geram sedangkan Chexil tertawa terpingkal-pingkal.


"Awas kamu ya." Nela berucap sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa enak kan? Mau cari di restoran manapun kamu nggak bakal nemu minuman begituan.


Nela mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan mulutnya karena kepedasan.


Di dalam kamar Nathan dan Lukas mengakhiri perbincangan. "Mengerti kan Nath?"


"Iya ngerti, minum dulu yuk!" Nathan mengajak Lukas ke meja tempat minuman terletak. Mereka berdua sama-sama duduk di tepi ranjang.


Nathan dan Lukas lalu meraih minuman di atas meja dan meneguknya.


"Seger Nath, istrimu tahu aja, kalau cuaca panas seperti ini emang enaknya minum yang dingin-dingin."


"Aku nggak ngerti kenapa musim hujan, siang-siang panas seperti ini. Malah kalau malam hari dingin banget karena hujan sering turun di waktu malam."


"Ya mau gimana lagi ini sudah kehendak Tuhan." Saat berkata seperti itu, kaki Lukas seolah menyentuhnya sesuatu di bawah ranjang.


Apa ini?


Ketika berjongkok hendak mengambil barang tersebut tiba-tiba Lukas mendengar suara teriakan dari Nela dari luar.


"Panas, tolong!"


"Ada apa itu?" tanya Lukas pada Nathan dia mengurungkan niatnya untuk memeriksa barang yang tadi sempat tersentuh kakinya.


"Barangkali barang milik Chexil yang terjatuh, biarlah nanti diambil sendiri," batin Lukas.


"Nggak tahu, ayo kita periksa keluar!" Nathan pun menarik tangan Lukas keluar.


"Jangan lebai kamu," ujar Chexil pada Nela sebab gadis itu berteriak keras seolah menggemparkan seisi apartemen.


"Ada apa ini?" tanya Nathan sambil mendekat ke arah mereka.


"Nath kamu punya istri tidak ada sopan santunnya ya, masa sama tamu iseng. Apalagi aku itu temanmu loh. Minumanku dia campur dengan serbuk cabe. Gimana kalau penyakit tifusku kambuh lagi kan aku tidak boleh mengkonsumsi cabe, apalagi dia masukinnya banyak sekali." Nela mengadu dengan mata yang berkaca-kaca dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


"Benar itu Chexil?" tanya Nathan langsung.


"Aku ... aku ...," ucap Chexil ragu. Ingin berbohong dia tidak bisa, ingin jujur pun rasanya sulit.


"Tuh kan dia tidak menjawab, berarti aku tidak bohong," ujar Nela lagi.


Nathan menatap Chexil lalu menggeleng seolah mengatakan aku kecewa padamu.


"Sudah kita pergi." Lukas menarik pergelangan tangan Nela ke luar apartemen Nathan.


"Kamu tidak membohongiku Nathan kan?" tanyanya penuh selidik.


"Apa sik Luk nuduh orang sembarangan. Si Chexil tuh memang kurang ajar sama aku nyampurin cabe ke dalam gelasku. Apa sih maunya dia? Apa dia cemburu ya karena aku dekat dengan suaminya."

__ADS_1


"Bukan kamu ya, yang bikin masalah lebih dulu? Tidak mungkin Chexil bersikap seperti itu kalau tidak ada alasannya. Mana mungkin ada asap kalau tidak ada api."


"Terserah kamu lah Luk, nggak percayaan aja sama orang."


______________________________________________________


"Kita siap-siap hari ini ke rumah sakit. Opa masuk rumah sakit lagi."


Chexil hanya mengangguk mendengar perkataan Nathan.


"Ingat jangan sampai ada yang tahu dulu dengan masalah kita. Kita harus baik-baik di depan keluargaku terutama di depan Opa," pinta Nathan, dan Chexil masih setia menjawab dengan anggukan.


"Sudah sana siap-siap! Kita langsung berangkat."


Chexil pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap begitupun dengan Nathan. Mereka pergi ke kamar masing-masing.


Tidak butuh waktu lama mereka kini berjalan beriringan menuju mobil tanpa ada yang bicara. Sampai di parkiran, Chexil masuk ke kabin belakang mobil. Dia tidak ingin duduk berdekatan dengan Nathan.


Mobil melaju kencang menuju pelataran rumah sakit dengan ekspresi pengemudinya yang tampak khawatir. Nathan begitu takut kehilangan opa yang begitu dekat dengannya dari kecil.


Sampai di sana seluruh keluarga tampak berkumpul di luar ruang rawat. Ada beberapa yang berdiri dan ada beberapa yang duduk di kursi panjang.


"Oma bagaimana keaadan Opa?" tanya Nathan begitu khawatir apalagi melihat mata Laras tampak bengkak akibat banyak menangis.


"Opa kamu belum sadarkan diri. Dokter masih memeriksanya di dalam."


Nathan terduduk lemas di kursi di samping Laras. Sedangkan Chexil setelah menyalami semuanya dia memilih bertanya pada Tristan tentang keadaan Tuan Alberto. Chila tampak menangis di pangkuan sang kakak.


"Bagaimana Dok kondisi papa?" tanya Zidane dengan ekspresi khawatir.


"Sudah siuman." Jawaban dokter membuat mereka semua bisa bernafas lega.


"Yang mana yang namanya Nathan?"


"Saya Dok," sahut Nathan.


"Tuan Alberto ingin bertemu anda dan istri anda."


"Baik Dok."


Nathan memandang ke arah Chexil. Wanita itu yang paham langsung mengangguk dan ikut masuk ke dalam. Meski Chexil masih marah terhadap Nathan atas tuduhannya terhadap sang Daddy tetapi dalam keadaan seperti ini dia harus menuruti keinginan Nathan dan mengesampingkan ego.


"Nathan ... Chexil ... beberapa hari ini opa merasa begitu khawatir dengan kalian, seolah kalian ada masalah." Tuan Alberto berkata dengan suara yang lemah.


Sontak Nathan dan Chexil saling tatap. Mereka berpikir bagaimana Tuan Alberto bisa tahu keadaan rumah tangga mereka.


"Apa opa punya indra keenam," batin Chexil.


"Tidak ada apa-apa kok Opa kami baik-baik saja kok," ujar Nathan menenangkan opanya.


"Benar Nak Chexil?" tanya Tuan Alberto pada Chexil untuk memastikan.

__ADS_1


"Iya benar Opa," jawab Chexil ikut berbohong.


"Baguslah kalau begitu, pokonya apapun yang terjadi opa tidak ingin kalian berpisah. Bagaimana dengan cicit opa, apa sudah ada hilalnya?"


Nathan terperanjat mendengar perkataan Opanya.


"Belum Opa, kami kan masih sama-sama kuliah jadi belum siap momong anak." Chexil yang menjawab karena melihat Nathan hanya diam saja.


"Oh begitu ya, kalau begitu tahun depan bisa berarti, kan Nathan sudah lulus kuliah."


"Insyallah Opa, doakan saja." Sontak Nathan langsung menatap tajam ke arah Chexil.


Chexil cuek saja toh dia berkata begitu hanya untuk menenangkan opanya bukan berharap lebih kepada Nathan. Dia sudah tidak ingin kecewa terlalu dalam.


Saat-saat mengobrol dengan Tuan Alberto tiba-tiba Lukas menelpon. Nathan baru sadar kalau dia ada janji dengan Lukas.


"Mau kemana Nath?" tanya Tuan Alberto ketika Nathan hendak bangkit dari duduknya.


"Mau menemui Luk ...."


"Jangan pergi! Dan tinggallah dengan opa beberapa hari saja," cegah Tuan Alberto.


"Opa masih kangen sama kamu dan juga mantu cucu opa."


Nathan menatap Tristan yang berjalan ke arahnya. Berharap Tristan akan membantunya untuk bisa keluar sebentar.


Ketika Tristan hendak bicara Isyana langsung berkata, "Tidak boleh pergi! Mau opa kamu kambuh lagi?" Padahal tidak ada hubungannya penyakit Tuan Alberto dengan Nathan tetapi ketika mendengar nama Lukas disebut tadi, Isyana tahu putranya ingin melakukan misi yang menurutnya sangat berbahaya.


"Tapi Ma, Nathan sudah janji ...."


Isyana langsung menarik ponsel Nathan. "Maaf Nak Lukas kali ini Nathan tidak bisa ikut karena opanya masuk rumah sakit," ujar Isyana lalu menutup panggilan telepon Lukas.


"Ah, Mama." Nathan mendesah kesal.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


Rekomendasi novel yang menarik untuk kalian semua. Yuk kepoin!



Blurb:


Steve terpesona pada gadis kecil adik sahabatnya. Dia tak menyangka gadis SMP yang dulu di lihatnya sudah berubah menjadi gadis imoet di matanya


Sari adalah gadis pintar. Namun dia terkenal dengan sebutan putri ice. Sari berprinsip tak mau pacaran bila belum selesai kuliah. Saat ini dia adalah mahasiswa tingkat akhir.


Perjuangan Steve untuk mendapat putri ice banyak sandungannya terutama dari mantan Steve yang tak ingin melepaskan Steve begitu saja


Akankah cinta Steve bisa berlabuh di hati anak bau kencur itu?

__ADS_1


Simak di cerita KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya


__ADS_2