
"Iya Nak Chexil mama mau ketemu sebentar."
Gawat apa yang akan aku katakan?
"Kami boleh masuk kan?" tanya Isyana lagi karena melihat menantunya terdiam.
"Oh i ... ya Ma, silakan!" Chexil terlihat gugup.
Isyana masuk diikuti Tristan di belakang.
"Kamu belum selesai makan?" tanya Isyana karena melihat makanan di atas meja dan makanan yang ada di piring Chexil belum tandas.
"Oh iya Ma. Mama sama Tristan bergabung yuk, temani Chexil sarapan," ajak Chexil.
"Wah boleh tuh kebetulan aku sedang lapar dan menunya cocok," ujar Tristan sambil mengusap perutnya.
"Kamu tuh kalau lihat makanan pengennya makan mulu tapi tidak gemuk-gemuk," protes Isyana.
"Kan bagus Ma nggak perlu diet," sahut Tristan terkekeh.
"Ayo Ma silahkan," ucap Chexil sambil menggeser kursi untuk mertuanya.
"Kursi buatku mana?" Tristan mengerjai Chexil.
"Oh iya aku siapkan," sahut Chexil sambil menggeser kursi buat Tristan. "Silahkan!"
Tristan tersenyum kemudian duduk.
"Tris lain kali jangan suka nyuruh-nyuruh dia. Dia sekarang itu kakakmu, seharusnya dia yang nyuruh-nyuruh kamu." Tristan menelan ludah mendengar perkataan mamanya.
"Silahkan dimakan Ma."
"Iya Nak Chexil." Isyana mengambil makanan ke piringnya kemudian menawari Tristan. "Mau mama ambilkan?"
"Tidak usah Ma, saya bisa ambil sendiri," tolak Tristan.
Mereka pun melanjutkan makan. Chexil merasa lega karena sepertinya kedua orang yang ada di depannya kini melupakan tentang Nathan. Namun tetap saja pikirannya tetap melayang, memikirkan sang suami yang kata Fani sedang bersama seorang wanita.
Beberapa saat kemudian mereka menyelesaikan makannya. Oh iya Nak Chexil kami hampir lupa, Nathan mana?"
__ADS_1
"Dia keluar sebentar Ma."
"Keluar? Kemana?"
"Itu ... itu Chexil meminta tolong untuk mengambilkan dia baju di rumah mommy soalnya baju yang mommy bawa ke sini tipis-tipis jadi tidak cocok dipakai saat dingin seperti sekarang," jawab Chexil berbohong dalam hati berharap agar ibu mertuanya tidak menelpon mommy Karla.
"Mengapa tidak membeli saja?" tanya Isyana.
"Sebenarnya Nathan sudah menawarkan untuk membeli tapi saya menolaknya, maafkan saya ya Ma."
"Tidak apa-apa. Sebenarnya mama ke sini cuma mau menyampaikan titipan sahabat mama. Tante Janet dan Lucas meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam acara pernikahan kalian karena saat ini masih ada di luar kota. Mereka hanya menitipkan ini kepada mama lewat suruhannya." Isyana berucap sambil menyerahkan sebuah kotak kado kepada Chexil.
"Baiklah nanti Chexil sampaikan."
Di tempat lain, Nathan sedang memapah seorang gadis menuju ruangan dokter. Gadis itu nampak meringis kesakitan karena terkena tembakan di punggung. Ada darah yang mengalir di sana. Seorang dokter tampak mengeluarkan peluru kemudian menjahit punggung Nela sedang Nathan memilih menunggu di luar ruangan.
Beberapa saat kemudian gadis itu tampak keluar dari ruangan.
"Bagaimana sekarang Nel apa masih sakit?" tanya Nathan.
"Sudah mendingan tidak sepanas tadi," jawab Nela.
"Baiklah kalau begitu saya antarkan kamu pulang." Nela mengangguk kemudian berjalan dengan pelan menuju mobil Nathan.
"Aku semalam lembur kerja tiba-tiba ada seseorang yang tidak dikenal masuk ke dalam kafe dan melakukan penembakan brutal, aku terkena peluru nyasar." Nela beralasan.
"Tapi mengapa tidak ada yang menolongmu? Kemana pemilik kafe dan yang lainnya?"
"Mereka kabur semua karena ketakutan dan tidak sempat melihatku yang terkena tembakan."
"Oh begitu ya. Apa tidak sebaiknya kamu mengambil shif siang saja," ujar Nathan sambil menyetir mobilnya.
"Kan kemarin aku masuk kuliah, kalau masuk kuliah aku memang menggantinya dengan kerja malam," ujar Nela.
"Katanya kamu sudah menikah ya, mengapa aku tidak diundang?"
"Ah itu acaranya cuma kecil-kecilan doang, kebanyakan yang diundang cuma teman-teman papa sama mama dan kerabat dekat."
"Teman-teman di kampus?"
__ADS_1
"Mereka tidak ada yang tahu kecuali Lucas sama Dimas, cuma Lucas-nya tidak bisa hadir karena ada di luar kota. Darimana kamu tahu aku menikah?"
Nela tidak menjawab. "Apa kamu mencintai istrimu?" tanya Nela penasaran. Dia merasa aneh bukankah Nathan adalah salah satu putra seorang pemilik perusahaan besar tetapi mengapa acara nikahannya tidak dirayakan besar-besaran. Nela yakin dan berharap pernikahan mereka adalah sebuah keterpaksaan.
Nathan menarik nafas panjang. "Setiap suami pasti akan menyanyi istrinya," jawab Nathan mematahkan keyakinan Nela.
Nela mengangguk dalam hati dia penasaran siapakah wanita yang telah berhasil membuat Nathan jatuh cinta padanya. Sedang dia tahu meski dirinya begitu dekat dengan Nathan, pria itu sama sekali tidak mau membuka hati untuknya.
"Kamu benar." Hanya itu yang bisa dikatakan Nela.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke rumah kontrakan Nela. Mereka turun dari mobil. Nathan mengantar Nela ke dalam rumah.
"Terima kasih ya Nat sudah mau menolongku, aku tidak tahu kalau kamu tidak datang mungkin aku sudah tiada. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu mengingat kau baru saja menikah, tetapi saya terpaksa menelponmu ketika Lucas mengatakan sedang tidak ada di kota ini."
"Tidak masalah, selama aku bisa aku pasti akan menolong siapapun yang membutuhkan. Kalau begitu aku pergi dulu." Nathan melangkah ke arah pintu.
"Auw." Tiba-tiba Nela mengaduh lagi kali ini di sertai dengan air mata yang menetes membuat Nathan membatalkan keinginannya untuk pulang.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nathan khawatir.
"Tiba-tiba sakit lagi, panas sekali," ucap Nela sambil terus menangis.
"Apa perlu kita kembali ke dokter?"
"Tidak perlu tapi kamu jangan pergi ya, aku mohon."
Nathan tampak berpikir kemudian dengan berat hati ia mengangguk. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Chexil seorang diri di kamar hotel tetapi dia juga tidak tega meninggalkan Neta dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau Neta pingsan atau terjadi hal buruk lainnya pada gadis ini sementara Neta juga tinggal seorang diri. Nathan tidak mau ambil resiko.
"Lebih baik kamu beristirahat di kamar biar aku jaga di sini," ujar Nathan sambil memapah Nela ke dalam kamar dan membantunya berbaring. Setelah itu ia kembali ke kamar tamu dan duduk di sofa. Sesaat kemudian perutnya berbunyi. Nathan baru ingat bahwa dia sedari tadi belum makan. Ia meraih ponsel dan memesan makanan secara online untuk dirinya dan Nela.
🌟🌟🌟🌟🌟
Setelah Nathan dan Isyana pergi Chexil langsung menelpon Fani dan meminta Fani supaya mengirimkan foto tadi. Fani langsung mengirimkan foto disertai video saat Nathan berbincang-bincang dan bahkan masuk ke rumah Nela. Ternyata Fani telah berhasil memata-matai Nathan.
Nathan menatap foto yang dikirimkan sahabatnya dan beberapa kali memutar video tersebut.
"Ternyata Fani tidak salah dia memang Nathan, tapi siapa gadis itu? Sepertinya mereka terlihat akrab. Apa mereka ada hubungan spesial? Jangan-jangan karena dia Nathan tidak ingin menyentuku. Apa Nathan mencintainya?" Chexil bicara sendiri, menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapapun dia, dia tidak berhak atas Nathan. Nathan hanya milikku tidak boleh jatuh ke tangan siapapun. Termasuk dia sekalipun meski dia adalah kekasihnya," tekad Chexil semakin bulat untuk bisa memiliki hati Nathan.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏