Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 56. Ide Tristan


__ADS_3

"Mau kemana Tris, kok mendadak begitu?" tanya Isyana kaget melihat Tristan nampak tergesa-gesa.


"Anu Ma, itu Ma ada job mendadak. Tristan pergi dulu ya Ma." Tristan menyalami tangan mamanya dan langsung berlari ke luar rumah.


"Aneh tuh anak nggak seperti biasanya," gumam Isyana.


"Kenapa Nak?" tanya Oma Laras yang melihat Isyana seperti orang bingung.


"Itu Ma si Tristan, buru-buru kayak ada yang gawat aja."


"Biarin lah namanya juga anak-anak jaman sekarang. Memang suka bikin kaget orang."


"Iya sih Ma tapi Syasa kok jadi khawatir ya, apa memang ada yang gawat? Aku kok jadi kepikiran sama Nathan ya Ma."


"Nggak mungkin lah kalau ada yang penting pasti Tristan ngomong sama mama."


"Iya semoga aja ya Ma nggak ada apa-apa. Soalnya sudah dua hari Syasa belum jenguk dia lagi."


"Berdoa saja Nak. Besok kita ke sana lagi."


"Mana Luk Abang?"


"Tuh di meja itu."


"Kenapa dia ditinggal sendirian?"


"Takut aku Tris. Ngamuk dia gegara dikasih botol bir yang isinya air doang."


"Ya sudah ayo kita bawa pulang."


Mereka pun berjalan ke arah Nathan.


"Pulang Bang!" ajak Tristan.


"Tidak aku tidak mau pulang."


"Pulang, tidak baik Abang mabuk-mabukan seperti ini."


"Aku bilang aku tidak mau." Nathan menghempaskan tangan Tristan.

__ADS_1


"Luk, paksa Luk."


Lukas mengangguk kemudian mendekati Nathan. Kedua orang tersebut bahu-membahu agar bisa membawa Nathan pulang.


Nathan tidak mau, ia memberontak terhadap Tristan dan Lukas.


"Mas bantu dong!" pinta Tristan kepada orang-orang yang berada di tempat tersebut. Beberapa orang mendekat. Karena Nathan terus memberontak saat ingin dipapah oleh Tristan dan Lukas akhirnya mereka semua berinisiatif untuk menggotong tubuh Nathan secara ramai-ramai.


Namun kekuatan Nathan masih besar. Dia malah mendorong setiap orang yang berani menyentuh tubuhnya dan bahkan memukul orang yang tetap memaksa dia untuk keluar dari tempat tersebut.


"Pergi! Jangan coba-coba menyentuhku."


"Luk dia mabuk apa kesurupan sih?" tanya Tristan heran. Orang mabuk berat kebanyakan kan lemah tetapi Nathan malah sebaliknya.


Lukas tampak mengendikkan bahu. "Dua-duanya kali. Kan orang mabuk disukai setan."


"Ya ampun Lukas. Kalau sudah tahu begitu kenapa kau bawa Abang kemari," protes Tristan.


"Loh kok nyalahin saya. Bukan saya yang bawa dia ke sini. Aku tadi dapat telepon dari seseorang bahwa Nathan ada di tempat ini. Kalau tidak mana tahu aku kalau dia sekarang mabuk."


"Ya sudah ayo bawa pulang. Kalau perlu kita seret saja dia."


Tristan terdiam sebentar, sepertinya dia harus menggunakan akal ketimbang tenaga untuk membuat Nathan mau pulang.


"Bang." Tristan mulai bicara halus.


"Abang mau ketemu Chexil kan?"


Mendengar nama istrinya di sebut, Nathan tampak sumringah.


"Kamu sudah menemukannya?" tanyanya antusias.


"Iya," jawab Tristan sambil tersenyum.


"Dia sekarang ada di apartemen, tapi kalau Abang tidak mau pulang ya Tris tidak bisa menjamin bahwa dia tidak akan pergi lagi."


"Kamu serius Tris?" Mata Nathan tampak berbinar.


"Iya. Kita pulang yuk!"

__ADS_1


"Baiklah tapi awas kalau kamu bohong."


Tristan menelan ludah mendengar ancaman Nathan. Namun tak apalah yang penting Nathan pulang dulu. Persetan dengan apa yang akan terjadi nanti pikir Tristan.


Nathan mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Dia mencoba berjalan sendiri keluar dari tempat tersebut tetapi sayang beberapa kali ia hampir terjatuh. Untung saja Nathan dan Lukas segera menangkap kemudian memapahnya.


"Mana kekuatanmu tadi? Giliran disuruh jalan sendiri malah oleng," protes Lukas.


"Luk!" Tristan melotot ke arah Lukas.


Setelah memasukkan tubuh Nathan ke dalam mobil. Tristan memutar tubuhnya dan masuk di kursi kemudi.


Baru saja duduk.


"Hoek, hoek." Nathan muntah-muntah dan cipratan muntahannya mengenai pakaian Tristan.


"Abang ah. Orang keren begini dijadikan tempat pembuangan sampah," potesnya sambil meraih tissue di dashboard mobil dan mengelap mulut Nathan kemudian bajunya sendiri.


Lukas yang melihat dari luar tertawa terbahak-bahak.


"Senang loh ya ketawa-ketawa?"


"Bukan senang tapi aku hanya ingin melihat kesabaran seorang adik yang merawat sang kakak dengan tulus."


"Udah ah kamu ngetawain kami. Sekarang tolong belikan kelapa hijau buat Abang dan bawa ke apartemen."


"Oke-oke."


"Tolong sekalian juga carikan orang untuk membawakan mobil Abang!"


"Oke Bos."


"Jangan cemberut, di sini kesabaran seorang sahabat diuji."


"Hm, iya deh," ujar Lukas sambil berjalan ke arah mobilnya sendiri sedang Tristan langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Ia sengaja tidak membawa Nathan pulang ke rumah karena takut akan membuat khawatir semua orang terutama sang kakek yang masih sering sakit-sakitan.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

__ADS_1


__ADS_2