
Arghh!" Tristan melempar apa saja yang ada di hadapannya. Hari itu moodnya benar-benar hancur.
Chila yang sedang berjalan ke arah kamar Tristan kaget karena mendengar bunyi pecahan barang-barang dalam kamar kakaknya.
Chila mengintip dari balik pintu, ternyata benar Tristan terlihat sedang marah. Chila mengurungkan niatnya untuk menemui Tristan. Ia merasa takut karena Tristan tidak seperti biasanya. Ia lalu berbalik keluar.
"Kenapa kembali Chila?" tanya Nathan yang juga ingin menemui Tristan.
Chila menggeleng.
"Jangan takut sama abang, kan abang bukan hantu."
"Iya bang, sebenarnya Chila mau tanya pr sama bang Tris, eh ternyata dianya lagi marah-marah. Chila kan jadi takut."
"Kenapa dengan bang Tris?"
Chila menggeleng lagi. "Chila tidak tahu."
"Ya sudah kalau begitu kamu balik ke kamar dulu biar nanti bang Nath yang ngajarin. sekarang Abang mau menemui bang Tris dulu."
"Iya bang," jawab Chila lalu beranjak pergi.
Nathan lalu masuk ke dalam kamar Tristan. Ia mengerutkan dahi melihat Tristan mengacaukan kamarnya sendiri.
Nathan mendekati Tristan dan menepuk pundak pria itu sambil berkata, "Hei Tris ada apa? Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, cerita sama abang."
"Bang bantu Tris dong."
"Oke asal abang bisa, abang janji akan bantu."
"Bang tolong gantikan aku menikah Chexil."
"Apa?!" tanya Nathan tersentak.
"Aku kadung terikat janji sama om Dion untuk menikahi Dilvara nantinya. Aku bisa dibunuh kalau berkhianat."
Apa yang sebenarnya kamu lakukan Tris? Kenapa kamu harus menikahi Chexil? Jangan-jangan kamu melakukan hal-hal yang mesum ya sama dia," tuduh Nathan.
__ADS_1
"Abang kok berpikiran seperti itu juga sih," protes Tristan.
"Terus kalau tidak begitu kenapa kamu harus nikahi dia?"
"Ceritanya panjang Bang, tetapi yang jelas aku dan Chexil tidak ada hubungan apa-apa. Mereka semua salah paham dan mengancam untuk melaporkan aku sama Papa."
"Untuk apa takut? Kalau kamu memang tidak berbuat mesum tolak saja permintaan mereka. Gampang kan?"
"Itu tidak semudah yang Abang pikirkan."
"Soal mudah atau sulitnya tentang sebuah permasalahan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau kamu memang tidak mencintainya ya sudah tidak perlu ada pernikahan."
"Tapi Bang mereka mengancam akan mengusik perusahaan, dan kalau opa tahu akan hal itu maka ia akan drop lagi. Aku tidak mau penyakit jantungnya kambuh. Abang tidak mau kan kehilangan opa."
"Tentu saja tidak, tapi aku akan melawan mereka."
"Abang jangan menambah masalah semakin rumit."
"Terus aku harus apa?"
"Abang mau kan menikahi Chexil mengganti aku? Mereka pasti tidak akan curiga karena kita mirip. Abang belum punya pacar kan?" Aku tidak mau mengecewakan om Dion yang berakhir akan kecewa pada papa."
"Ayolah Bang, please bantu aku sekali ini saja!" mohon Tristan.
"Kamu pikir menikah itu mudah Tris. Seperti membalikkan telapak tangan begitu? Kamu pikir mama Syasa tidak akan curiga kalau tiba-tiba saja aku mengutarakan keinginan untuk menikah."
"Asal Abang bersedia aku akan mengatur semuanya."
"Baiklah terserah kamu," ucap Nathan sambil beranjak keluar dari kamar Tristan.
"Beneran Abang mau ya?"
"Atur saja semuanya!"
"Oke Bang siap."
Nathan berlalu pergi. Setelah Nathan hilang dalam pandangan Tristan mengepalkan tangannya sambil melompat kegirangan. "Yes!" Wajahnya yang memerah karena amarah tadi berganti ceria kembali.
__ADS_1
Tristan kemudian duduk di pinggiran ranjang sambil termenung. Kali ini dia harus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa memberitahukan kepada Zidane dan Isyana tentang pernikahan Nathan tanpa mereka curiga.
Sedangkan Nathan masih tampak cuek. Ia pergi ke kamar Chila tanpa beban apa-apa. Kalau memang tidak ada apa-apa antara Tristan dan Chexil ia yakin pasti Chexil tidak akan berharap banyak pada pernikahannya nanti. Untuk apa dia cemas?
Tok tok tok.
Nathan mengetuk pintu kamar adiknya. Dengan sikap Chila membuka pintu.
"Bagaimana, sudah selesai atau masih butuh bantuan Abang?"
"Masih," sahut Chila sambil menunduk.
Nathan mengucek rambut adiknya karena gemas. "Ya sudah ayo duduk, katakan apa yang tidak kamu mengerti."
Chila pun menyampaikan apa yang dia tidak tahu. Dengan telaten Nathan mengajari Chila.
"Bagaimana sudah mengerti?" tanyanya pada sang adik saat ia sudah menjelaskan.
"Sudah Abang terima kasih ya."
"Iya lain kali kalau butuh bantuan lagi jangan sungkan-sungkan ya bertanya sama bang Nath."
"Baik Abang," ucap Chila sambil menutup bukunya.
"Tidurlah sudah malam."
Chila hanya mengangguk dan naik ke atas ranjang. Ia lalu memejamkan mata. Nathan membenahi selimut Chila kemudian kembali ke kamarnya.
Setelah Nathan pergi Chila membuka mata kemudian duduk kembali. Ia mengambil ponselnya dan mulau menonton sinema kesukaannya.
Nathan duduk di tepi ranjang. "Chexil ya?" Ia mengingat berapa kali dia sudah bertemu dengan gadis itu.
"Kenapa aku seolah tidak bisa lepas dari bayang-bayang dirinya? Apa dia jodohku?" gumam Nathan seorang diri.
"Akh sudahlah, apapun yang terjadi semoga ini adalah pilihan terbaik daei Tuhan," batin Nathan pasrah.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏