Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 52. Akal-Akalan Lukas


__ADS_3

Di sebuah kamar rumah sakit, seseorang yang selama ini kritis mulai tersadar. Jari-jemarinya Mulai bergerak walau masih terlihat lemah.


"Lukas kamu sadar Nak." Janet mulai tersenyum kembali melihat putranya ternyata ada perkembangan. Tidak sia-sia ia berdoa siang malam demi kesembuhan putranya. Ternyata doa Janet diijabah oleh Tuhan.


Janet bangkit dari duduknya kemudian membunyikan bel darurat yang ada di kamar rawat Lukas, berharap dokter segera datang dan menangani putranya tersebut.


"Ah lama sekali dokternya. Nela kamu tolong jagain Lukas ya Tante mau panggil dokter langsung."


"Iya Tante."


Janet keluar dari kamar rawat Lukas. Nela tampak mondar-mandir di ruangan tersebut. Ia gusar sendiri melihat Lukas sudah sadar dari masa kritisnya.


Saat Lukas masuk rumah sakit Nela selalu standby di rumah sakit untuk membantu Janet menjaga Lukas dan memastikan keadaan Lukas apakah masih bisa sembuh atau tidak.


Kadang Nela mencari celah untuk mencelakai Lukas agar ia tidak bisa cepat sadar karena dia tahu Lukas melihatnya ada di perahu waktu itu. Namun sayang Janet seolah punya kekuatan untuk tidak tidur selama beberapa hari ini. Terbukti selama ini ia jarang tidur ketika menjaga Lukas. Ia baru mau tidur kalau sang suami sudah standby di samping Lukas menggantikan dirinya untuk berjaga.


Beberapa hari ini Janet memang enggan meninggalkan Lukas. Kalau ada kepentingan ia akan menelpon seseorang untuk membawa apa yang dia butuhkan ke rumah sakit sehingga tidak perlu meninggalkan Lukas seorang diri atau dengan Nela sekalipun. Mommy Janet adalah tipe orang yang tidak percayaan kecuali dengan keluarga inti dan kerabat dekat yang dikenalnya baik seperti keluarga Nathan. Meski di luar penjagaan sering juga dipantau oleh polisi.


Nela melirik ke sana kemari, mencari cara bagaimana agar Lukas tidak jadi sadar. Ingin mencelakai Lukas tapi takut dia akan langsung tertuduh karena memang dia yang diminta oleh Janet untuk menjaga Lucas sekarang. Kalau terjadi sesuatu pastilah dia yang akan dimintai pertanggung jawaban.


Lukas yang sadar akhirnya berusaha melepaskan sendiri selang-selang yang menempel di tubuhnya lalu duduk di atas brankar.


Dia mengawasi gerak-gerik Nela yang seperti orang gelisah.


"Lukas syukurlah kamu sadar kembali. Tante Janet dan aku sangat mengkhawatirkan mu," ucapnya sambil berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang rumah sakit sambil tersenyum senang.


Lukas hanya terdiam, malas melihat senyum palsu yang tertoreh di bibir Nela.


"Lukas apa kamu baik-baik saja?" tanyanya pura-pura khawatir.


Lukas tetap terdiam.


"Kamu masih ingat aku kan?" tanya Nela memastikan karena melihat Lukas enggan bicara.


Mendengar perkataan terakhir Nela, muncul ide di kepala Lukas.


"Kau harus ku kerjain," batin Lukas.


"Masih ingat aku kan? Aku Nela sahabatmu."

__ADS_1


Lukas menggeleng. "Kamu siapa?"


"Aku Nela sahabatmu masa kamu lupa sih?"


"Sahabat? Kamu sahabatku?" Lukas nampak ragu.


"Jangan bercanda lah Luk, nggak lucu tahu, masa sama teman sendiri lupa." Padahal dalam hati sangat bersyukur dan bernafas lega


"Teman? Mana pernah aku punya teman perempuan. Kamu jangan ngaku-ngaku."


"Ih kok ngaku-ngaku sih, emang kenyataannya aku ini sahabat kamu."


Lukas hanya menggeleng.


Nela mengeluarkan handphone dari dalam tas. Beberapa saat kemudian menunjukkan foto Nathan kepada Lukas.


"Kamu tahu ini siapa?"


"Gawat, apa yang aku harus katakan? Kalau aku mengatakan masih ingat sama Nathan otomatis Nela akan curiga kalau aku berbohong tentang ingatanku. Nathan maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini," batin Lukas.


Lukas langsung menggeleng. Nela mengernyit. "Kamu yakin juga lupa sama dia?"


"Memang dia siapa?" tanya Lukas dengan ekspresi seperti orang bodoh.


Lukas masih menggeleng. "Aku tidak ingat apa-apa."


Saat mengatakan itu tiba-tiba Janet datang bersama seorang dokter.


"Apa yang kamu katakan Nak, kamu tidak ingat apa-apa?" tanya Janet dengan ekspresi khawatir.


"Iya Tante, sepertinya Lukas hilang ingatan." Nela yang menjawab sedang Lukas terlihat kebingungan.


"Dokter, ini kenapa bisa terjadi Dokter? Apa ada bekas benturan di kepala Lukas sehingga putraku jadi hilang ingatan begini? Mengapa Dokter tidak mengatakan bahwa ada kemungkinan putra saya amnesia?" Janet mencecar dokter tersebut dengan pertanyaan. Wajahnya nampak gusar.


"Tenang Nyonya, saya akan memeriksanya terlebih dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang kalau begini Dok?"


Janet berjalan mendekati Lukas. "Apa kamu ingat mengapa kamu bisa sampai berada di rumah sakit?" tanya Janet memastikan.

__ADS_1


Sekali lagi Lukas menggeleng.


"Jadi kamu lupa dengan kecelakaan yang hampir merenggut nyawa kamu itu?"


"Aku tidak ingat apa-apa," sahut Lukas.


"Sama mama kamu juga nggak ingat?" Janet berkata sambil menepuk dadanya sendiri.


"Tidak," jawab Lukas seperti orang yang tidak berdosa. Padahal di hati ia tertawa melihat ekspresi sang mama yang tampak memelas bercampur khawatir.


"Sesekali mengerjai mama tidak apa-apa," ucap Lukas dalam hati.


"Dokter," ucap Janet pada dokter u


yang berdiri di hadapannya masih dengan ekspresi memelas.


"Kalau begitu Nyonya dan Mbak nya bisa keluar dulu, saya akan memeriksa saudara Lukas terlebih dahulu apakah memang ada yang salah dengan otaknya."


"Baik Dok. Ayo Nela kita keluar dulu!" Janet menarik tangan Nela keluar ruangan dan perempuan itu hanya menurut.


Di luar Janet tampak menangis. Beberapa hari ini saat melihat Lukas kritis ia masih berusaha untuk bersikap tegar tetapi saat tahu setelah sadar Lukas tidak mengingat dirinya, dia nampak kecewa berat.


"Tante tenang ya, mungkin itu hanya untuk sementara saja. Nanti Lukas juga bakal mengingat Tante lagi kok," ujar Nela menghibur Janet padahal ucapan dan harapan dalam hati sama sekali tidak sinkron.


"Tapi sampai kapan Nela? Tante pernah dengar bahwa orang yang amnesia bahkan sampai ada yang bertahun-tahun. Kamu tahu Tantenya Nathan yang bernama Ara itu katanya lebih 10 tahun dia baru ingat lagi."


"Iyakah Tante? Mungkin setiap orang akan berbeda-beda Tante.


"Iya gadis ini benar Nyonya. Setiap orang yang amnesia akan memiliki respon yang berbeda-beda terhadap kesembuhannya. Tidak hanya kondisi pasien, tetapi lingkungan juga berperan penting untuk membuat ingatannya kembali," timpal dokter yang kini sudah berdiri di depan pintu.


"Apa itu tandanya putra saya benar-benar amnesia Dokter?"


"Maaf dengan berat hati saya harus mengatakan yang sebenarnya. Betul, putra anda mengalami amnesia."


"Dokter tidak berbohong kan? Mengapa begitu cepat anda memeriksanya. Apa anda tidak salah diagnosa? Tolong cek lagi Dok!"


Dokter tersebut nampak menggeleng. "Maaf putra Nyonya memang positif amnesia. Saya permisi dulu!" Dokter tersebut langsung meninggalkan ruangan dan Janet yang semakin menangis.


"Maafkan saya Nyonya saya terpaksa berbohong. Ini karena putra anda yang meminta," batin dokter tersebut sambil terus melangkah pergi.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like dan komentarnya. Kalau ada bunga atau vote juga boleh 🤭. Terima kasih 🙏


__ADS_2