
"Kalau ketahuan sama orang tua kamu atau si Nathan kamu bisa dibilang mempermalukan mereka."
"Ah aku nggak peduli yang penting aku tidak nyuri dan kerjaku halal," ujar Chexil mantap.
"Ya sudah kamu mandi sana dulu, aku mau beli makanan di warung buat makan siang. Kamu nggak apa-apa kan?"
"Maksudnya? Nggak apa-apa gimana?"
"Makan nasi warung," ujar Fani sambil nyengir.
"Nggak masalah sama-sama makanan kan?"
"Iya sih cuma takutnya kamu nggak terbiasa sama makanan warung, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Sebenarnya menu dari Bu kos untuk makan siang mereka sudah ada tetapi ya begitulah menunya begitu-begitu saja. Mungkin saja tidak cocok buat Chexil pikir Fani. Oleh karena itu Fani memilih membeli di luar.
"Iya sana buruan cacing di perutku udah berisik nih, protes minta makan sedari tadi."
"Iya-iya."
Fani pergi membeli makanan sedangkan Chexil masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ah segarnya." Setelah membersihkan diri dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya sangat nyaman apalagi setelah setengah hari ia harus berkeliling di mall menjajakan dagangannya. Akibat rasa lelah, kantuk menguasai dirinya. Ia terlihat beberapa kali menguap dan akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata hingga akhirnya tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian Fani datang. Dia menggerutu sendiri melihatnya Chexil malah tertidur.
"Nih anak katanya lapar kok malah tidur." Padahal dirinya sendiri kalau sedang lapar tidak bisa tidur.
"Xil bangun! Makan dulu baru tidur." Fani mengguncang-guncang tubuh Chexil beberapa kali sayang wanita itu masih tertidur dengan nyenyaknya tanpa terganggu sedikitpun oleh gangguan Fani.
"Xil bangun!" Fani terus berusaha membangunkan Chexil.
"Gempa! Gempa!" teriak Chexil dan langsung terduduk. Dia berusaha mengumpulkan nyawa yang belum menyatu dengan raganya.
Fani terkekeh. "Mana ada gempa?"
"Ah kamu ngagetin orang tidur aja," protes Chexil setelah sadar dengan apa yang terjadi.
"Sorry, makan dulu yuk baru tidur. Aku tidak mau kamu sakit karena biasa makan teratur nggak seperti aku yang nggak ada aturannya. Makanya aku bangunin kamu."
Chexil hanya mengangguk dan menerima nasi bungkus dari tangan Fani. Kemudian mereka makan siang bersama.
Setelah makan mereka berdua sama-sama naik ke atas ranjang untuk tidur siang. Namun sebelum tidur Fani menyetel alarm agar mereka tidak kebablasan dan akhirnya terlambat kuliah.
________________________________________________________
Sudah seminggu Chexil di tempat Fani. Entah Nathan atau kedua orang tuanya mencari dia atau tidak. Yang jelas Chexil senang berada di tempat Fani terutama dengan pekerjaannya. Dia juga yakin kedua orang tuanya tidak akan mencari karena menyangka dirinya tinggal bersama Nathan.
"Ayo Fan cepetan! Bu Anya sudah menunggu kita sedari tadi." Dengan semangat 45 Chexil sudah siap dengan pakaiannya dan menuggu Fani di depan pintu.
"Iya bentar Xil aku masih sakit perut ini!" teriak Fani dari dalam toilet.
Chexil melihat jam di tangannya sudah lewat jam 7. Entah apa yang dimakan Fani semalam sehingga pagi ini harus bolak-balik ke toilet.
Karena takut dapat teguran atau malah dipecat Chexil menghampiri Bu Anya ke mobil.
"Mana Fani?"
"Masih di toilet Bu. Sepertinya dia sedang diare soalnya sedari tadi tidak berhenti keluar masuk toilet."
"Oh, nggak apa kita tunggu sebentar," sahut Bu Anya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Fani muncul.
"Nah itu dia orangnya. Gimana sudah tidak sakit perut lagi?" tanya Anya.
"Sudah Bu. Ah kok sakit lagi? Aku izin aja ya Bu kok sepertinya perutku belum stabil. Nggak apa-apa kan Bu?"
"Tida apa-apa. Baiklah kalau begitu kita berangkat saja."
"Kamu tidak apa-apa kan Xil tanpa aku?" tanya Fani khawatir.
"Nggak apa-apa Fan, aku nggak akan tersesat kok," canda Chexil. "Kamu baik-baik ya, jangan lupa minum obat."
"Oke thanks."
"Sudah ya Fan kami pergi dulu, bye." Teman-temannya melambaikan tangan ke arah Fani dan gadis itu membalas dengan satu tangannya sedang tangan yang lainnnya terulur memegang perut sambil meringis.
Kali ini Bu Anya memilih mall lain untuk melepas anak buahnya.
"Gimana sudah siap semuanya?"
"Sudah Bu," jawab mereka serentak.
Bu Anya pun membagi-bagikan barang dan melepas mereka setelah memberikan semangat.
Seperti biasa mereka langsung berpencar sesuai arahan Bu Anya.
Chexil naik ke lantai 2 Kemudian menjajakan jualannya. Seperti biasa aksinya selalu menarik perhatian banyak orang sehingga terjadi kerumunan di sekitarnya.
Tidak menunggu lama, ia yang memang pandai merayu plus kecantikan wajahnya membuat daya tarik tersendiri. Beberapa set kosmetiknya langsung terjual.
"Ah tinggal 3 set lagi. Kalau habis semua aku ambil lagi nggak ya?" gumamnya sendiri.
Seperti biasanya Chexil tersenyum ramah dengan orang-orang yang menyapanya. "Ada apa Mas?"
"Saya ingin membeli kosmetik untuk kekasih saya. Saya lihat anda sedari tadi menawarkan kosmetik pada orang-orang. Bisa jelaskan kegunaan dan keunggulan masing-masing setiap produk?"
"Bisa Mas," sahut Chexil lalu satu demi satu dia merinci kegunaan setiap jenis kosmetik tersebut. Pria itu tidak mendengarkan malah menatap tak berkedip ke arah wajah Chexil.
"Sudah mengerti Mas?" tanya Chexil setelah menyelesaikan penjelasannya.
"Oh yang ini apa tadi?"
"Serum Mas, gunanya ...." Perkataan Chexil terpotong kala tangan pria itu tidak dapat dikendalikan malah meraba-raba ke tubuh Chexil.
Chexil langsung menghempaskan tangan pria itu dan langsung bersiap untuk kabur. Namun tangan pria itu menahannya. "Mau kemana gadis cantik? Kau tak boleh pergi."
"Lepaskan!"
"Aku bisa membayar sepuluh kali lipat dari harga kosmetik itu asalkan kamu ...," bisik pria tersebut dan langsung dipotong oleh Chexil.
"Aku bukan wanita murahan yang bisa kau beli. Lepaskan!" Sontak mereka menjadi perhatian orang banyak. Ada beberapa yang menghampiri mereka dan berusaha menolong Chexil.
Namun pria itu berkata, "Jangan ikut campur, dia istri saya!"
Chexil membelalak mendengar ucapan pria di hadapannya. "Dia bukan ...." Ketika Chexil hendak menjelaskan mulutnya segera ditutup oleh pria itu.
"Kita bicarakan masalah kita di rumah." Mendengar perkataan pria itu orang-orang yang mendekat akhirnya menjauh.
"Lepaskan!" Chexil mencoba mengibas-ngibaskan tangannya yang dipegang erat.
__ADS_1
Dari arah lain seorang pria bersama gadis kecil berjalan ke arahnya.
"Sudah sana pilih apa yang kamu inginkan. Abang tunggu di sini saja ya."
"Oke Abang tapi jangan Kemana-mana ya? Chila takut tersesat."
"Oke."
"Lepaskan!" Chexil terus saja memberontak hingga barang-barangnya terjatuh di lantai.
Pria itu menoleh. Nafasnya tiba-tiba menggebu dan segera berlari ke arah Chexil.
Bug-Bug-Bug.
Bogeman mentah secara bertubi-tubi mendarat di tubuh pria tersebut hingga babak belur. Pria itu lalu memukul wajah pria jahat itu tanpa jeda sehingga tidak
ada waktu untuk melawan. Pria jahat itu tersungkur di lantai dengan darah yang mengalir di pelipis dan di kedua sudut bibirnya.
Chexil mundur takut menjadi target sasaran yang salah dari keduanya.
"Ingat! Sekali lagi kau berani menyentuh dia habis kamu di tanganku." Pria itu memegang kerah baju pria jahat itu lalu mendorong ke belakang.
Pria itu menoleh pada Chexil.
Chexil membelalak. "Nathan?"
"Pulang!" perintahnya sambil memegangi pergelangan tangan Chexil.
"Tidak aku tidak mau pulang," ujar Chexil sambil menghempaskan pegangan tangan Nathan kemudian memunguti kosmetik yang tercecer di lantai.
"Apa itu?" Nathan mengambil kosmetik itu dari tangan Chexil.
"Kamu jualan ini? Berhenti dan pulanglah!"
"Tidak aku tidak mau. Pekerjaan ini halal dan aku tidak mau pulang."
"Kenapa?"
"Karena aku masih membencimu!" ujar Chexil ketus dan langsung berlari meninggalkan Nathan."
"Haah." Nathan mendesah kesal.
Bersambung....
Jangan lupa like-nya!🙏
Sambil menunggu Author update lagi, mampir ke sini dulu yuk! Dijamin ceritanya bakal seru dan bikin nagih.
Blurb:
Yusuf, seorang duda beranak satu yang baru saja ditinggal oleh Aisha–istrinya yang meninggal karena kecelakaan. Dia harus membesarkan Asiah–putrinya– seorang diri karena ibunya harus merawat ayahnya yang sakit stroke. Yusuf dan Asiah tinggal di apartemen milik perusahaan yang khusus diberikan oleh Sarah, CEO sekaligus putri pemilik perusahaan tempat dia bekerja sebagai Direktur Keuangan. Yusuf juga bertetangga dengan Zulaikha, seorang siswi SMA yang kurang kasih sayang orang tua dan suka menggoda dirinya, tetapi begitu sayang kepada Asiah. Zulaikha juga selalu terang-terangan bilang cinta dan sayang sama Yusuf. Namun, Yusuf selalu menganggapnya angin lalu.
Asiah selalu dititipkan di sebuah penitipan anak yang merangkap dengan lembaga pendidikan anak dini. Di sana mereka bertemu dengan Bilqis, mahasiswi magang yang mengingatkan pada sosok Aisha. Membuat Yusuf mulai terpaut hatinya karena kealiman dan kelembutan sifatnya. Namun, cintanya mendapat pertentangan dari keluarga Bilqis karena statusnya duda beranak satu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah yang aktif dan sering membuatnya mati kutu?
Siapa yang mendapatkan cinta Yusuf?
__ADS_1
Sarah anak perawan yang anggun dan cerdas? Zulaikha anak perawan penggoda dan jahil? Atau Bilqis anak perawan yang sholehah dan penyabar?