Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 18. Seperti Orang Asing


__ADS_3

Sampai di dalam kamar pengantin kedua mempelai tampak canggung. Mereka berdua seperti orang asing yang saling tidak mengenal.


Chexil duduk di tepian ranjang menanti-nanti saat Nathan mengajak ngobrol dirinya, tetapi sayang yang ditunggu malah asyik dengan ponselnya. Seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar.


Merasa tidak dianggap Chexil merebahkan tubuhnya ke kasur hingga akhirnya ia tertidur.


Beberapa saat kemudian Isyana mengetuk pintu dan memanggil Nathan.


Tok tok tok.


"Nat buka pintunya, ini sudah sore, kalian harus dirias lagi untuk acara resepsi."


Meski acara tergolong kecil namun Zidane memutuskan mengundang beberapa kerabat yang dekat dengan keluarganya di acara resepsi. Awalnya Nathan menolak untuk diadakan resepsi tetapi karena hal itu menjadi tanda tanya bagi kedua orang tuanya akhirnya Nathan mengiyakan.


"Nat, buka pintunya Nak!" Isyana mengetuk pintu lagi karena belum ada yang membuka.


Zidane menghampiri sang istri yang masih berdiri di depan pintu.


"Sudah Sayang jangan diganggu, mungkin mereka masih bersenang-senang," ujar Zidane pada Isyana.


"Tapi Mas sebentar lagi acara akan dimulai, bagaimana mungkin pengantinnya tidak hadir. Kalau tidak dibangunkan sekarang nanti tidak ada waktu untuk dirias," protes Isyana.


"Acara masih lama kok beri mereka waktu lima belas menit saja."


"Baiklah." Akhirnya Isyana mengalah dan pergi dari depan kamar pengantin.


Lima belas menit kemudian kedua mempelai belum muncul juga. Mommy Karla yang merasa gelisah akhirnya memutuskan untuk menemui putrinya.


"Chexil bangun Nak!" Karla berucap sambil mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban dari dalam karena kedua penghuni sudah sama-sama terkapar.


Tok tok tok.


"Nak Nathan bangun Nak sebentar lagi resepsi bakal dimulai."


"Mommy." Chexil yang mendengar suara Mommy Karla langsung terbangun. Chexil duduk sebelum membuka pintu. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan. Ia tersadar kembali bahwa ia baru saja menikah. Ia tersenyum, tetapi kemudian senyumannya luntur tatkala melihat Nathan malah terlelap di sofa.


"Dia ketiduran di sana ataukah memang sengaja tidur di sana?" tanya Chexil dalam hati.


Tiba-tiba hatinya merasa tidak enak. "Apa jangan-jangan Tristan memaksa untuk menggantikan dirinya menjadi mempelai pria? Apa yang kamu pikirkan Chexil? Tentu saja ia. Seharusnya kau bisa berkaca sebelum berpikiran bahwa pria itu menawarkan diri dengan suka rela," batinnya. Chexil tersenyum pahit ketika melihat ekspresi Nathan saat tidur yang seolah wajahnya redup dan tak pernah bahagia dengan pernikahan ini.

__ADS_1


"Ah sudahlah, apa yang aku pikirkan belum tentu benar." Ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu.


"Lama sekali?" tanya mommy Karla setelah pintu terbuka.


"Aku ketiduran Mom." Ekspresi Chexil yang tampak tidak bergairah membuat Mommy Karla merasa curiga. Ia langsung membuka pintu lebar-lebar.


"Kenapa Nathan tidur di sofa?"


"Itu ... itu ... itu karena dia tadi tidak sengaja ketiduran di sana Mom."


"Tidak sengaja? Mengapa kamu tidak membangunkan dan memintanya untuk pindah ke ranjang?"


"Tadi kami teleponan sama teman-teman di kampus. Banyak teman-teman yang mengucapkan selamat dan menggoda kami. Chexil lelah Mom ngadepin mereka semua yang seakan tidak berhenti mengobrol jadi Chexil pamitan tidur duluan. Mungkin Nathan juga capek dan akhirnya ketiduran di sofa."


"Oh begitu ya, syukulah. Aku pikir dia tidak bisa menerimamu sebagai istrinya mengingat pernikahan ini mendadak, tapi Xil apakah kamu bahagia dengan pernikahan ini?"


"Tentu saja Mom Chexil bahagia. Mommy tahu dia pria pertama yang aku suka bahkan hingga saat ini." Chexil berusaha tersenyum manis pada mommy Karla agar mommy-nya itu bisa tenang.


Walaupun aku tidak tahu Mom sebenar dia menyukaiku ataukah tidak.


"Baiklah kalau begitu Mommy hanya ingin memberitahukan bahwa resepsi akan segera dimulai, jadi secepatnya kalian harus dirias."


"Bangunkan Nak Nathan, bilang tukang riasnya sudah menunggu."


Mommy Karla mengangguk kemudian berlalu pergi.


Selepas Mommy Karla pergi Chexil termenung. Dia berpikir bagaimana caranya membangunkan Nathan sedang keadaan mereka berdua seperti orang yang saling tidak mengenal.


Dengan terpaksa Chexil menghampiri Nathan dan berkata di depannya. "Hei bangun." Chexil mengucapkan kata-kata itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Nathan.


Sudah tiga kali Chexil melakukan itu tetapi ternyata tidak berhasil. Akhirnya ia mengguncang bahu Nathan.


"Hei bangun resepsi akan segera dimulai."


Mendapat guncangan dari Chexil Nathan langsung kaget dan terduduk. "Ada apa?"


"Para orang tua sudah menunggu kita di bawah."


Nathan hanya mengangguk. Chexil terdiam menunggu Nathan berkata.


"Kenapa masih diam? Mandilah sana dan turun lebih dulu, nanti aku menyusul."

__ADS_1


Chexil mengangguk sambil tersenyum. Dia sangat bahagia Nathan mau bicara padanya. Apakah itu artinya Nathan sudah menganggap kehadiran dirinya?


Chexil lalu bergegas ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri ia langsung turun ke bawah.


"Nak Chexil mana Nathan?" tanya Isyana.


"Masih mandi Ma," sahut Chexil.


"Oh begitu ya? Kalau begitu biar kamu yang dirias dulu."


🌟🌟🌟🌟🌟


Acara resepsi telah usai, para tamu undangan dan keluarga kini sudah kembali ke rumah masing-masing. Kini tinggal Chexil dan Nathan di ruangan paling atas di hotel milik sang ayah.


Saat masuk ke dalam kamar, Chexil langsung membersihkan diri setelah itu dia duduk di meja rias, membersihkan sisa-sisa make up yang masih menempel kemudian mengoleskan cream malam di wajahnya sebelum tidur.


Nathan yang juga sudah selesai mandi mendekat ke arah Chexil membuat degub dada Chexil terasa semakin kencang. Apakah tandanya Nathan akan meminta ia melaksanakan kewajibannya malam ini? Walaupun Chexil belum siap tetapi kalau sang suami sudah menginginkan dirinya ia akan menurutinya.


Nathan duduk di samping Chexil sambil menarik nafas dan menghembuskan. Deru nafas Nathan sampai ke wajah Chexil membuat gadis itu tersipu karena telah berpikir yang tidak-tidak.


"Xil." Setelah sekian lama duduk akhirnya Nathan buka suara.


"Ya?"


Nathan menarik nafas lagi dan menghembuskan secara kasar. "Aku tahu pernikahan ini adalah sebuah keterpaksaan."


Deg.


Belum selesai Nathan menyelesaikan kalimatnya hati Chexil sudah merasa tidak enak.


"Kamu tidak mencintaiku dan aku tidak mencintaimu."


Mengapa mendengar kalimat itu hati Chexil terasa sakit. Bukankah dia seharusnya siap dengan hal itu, toh pernikahannya memang adalah pernikahan yang tidak diinginkan. Perkataan ini ia ingin dengar setelah pernikahan tentunya dari mulut Tristan agar ia terbebas dari kewajiban yang harus dilaksanakan tetapi kenapa ketika kata-kata itu keluar dari mulut Nathan begitu menyakitkan?"


Chexil menekan dadanya yang terasa sesak, merasakan ruangan tempatnya duduk seolah membeku seketika.


"Maka dari itu kita tidak bisa tidur dalam satu ranjang. Kamu tidurlah di ranjang dan aku tidur di sini." Nathan lalu membentangkan karpet dan menaruh bantal di atasnya.


Ingin rasanya Chexil protes dan mengatakan perasaannya yang dimilikinya, tetapi ia urungkan ketika kata-kata Nathan tadi terngiang di telinganya.


"....... dan aku tidak mencintaimu."

__ADS_1


Mengapa begitu sakit ketika cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan. Seandainya Tristan yang mengatakan mungkin aku akan merasa bahagia malam ini.


Bersambung....


__ADS_2