
"Hm, iya deh," ujar Lukas sambil berjalan ke arah mobilnya sendiri sedang Tristan langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Ia sengaja tidak membawa Nathan pulang ke rumah karena takut akan membuat khawatir semua orang terutama sang kakek yang masih sering sakit-sakitan.
Sampai di apartemen Tristan langsung membaringkan Nathan di atas ranjang dan mengunci pintu kamar agar sang kakak tidak kemana-mana lagi sedangkan dirinya mencari baju Nathan di dalam lemari kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya sendiri yang kotor.
Beberapa saat kemudian terdengar pintu apartemen di ketuk.
"Sebentar!" Tristan beranjak ke arah pintu dan membukanya tanpa melihat ke arah Lukas terlebih dahulu Tristan langsung berkata, "Sudah dapat yang aku pesan?"
"Nih." Lukas menunjukkan dua buah kelapa muda di tangannya.
"Oke bagus."
Lalu Tristan nampak kaget karena melihat beberapa orang juga membawa buah kelapa di tangannya.
"Mereka siapa?" tanya Tristan masih dengan ekspresi terkejut.
"Mereka, aku yang meminta untuk membantu membawakan kelapa ke sini."
"Banyak amat si Luk. Kamu kira Abang mau dimandiin sama air kelapa apa atau kamu mau mabuk-mabukan dengan air kelapa," protes Tristan.
"Siapa tahu, satu dua kelapa belum bisa membuat mabuknya berhenti jadi apa salahnya aku antisipasi," sahut Lukas tak mau kalah.
"Sudah suruh mereka pergi saja dan yang kamu pegang, bawa masuk!"
Lukas pun mengangguk. "Kalian boleh minum sendiri air kelapa tersebut dan silahkan pergi."
Orang-orang hanya mengangguk kemudian berlalu.
Lukas lalu masuk ke dalam dengan dua buah kelapa muda di tangan dan membantu Tristan meminumkan pada Nathan.
"Mana Chexil Tris?" Nathan yang terbaring lalu bangkit kala mengingat Chexil lagi. Kini ia terdengar meracau kembali.
__ADS_1
"Tenang Chexil masih keluar. Abang minum air kelapa ini dulu barangkali mabuk Abang bisa hilang. Abang tidak mau kan kalau Chexil akan kecewa melihat Abang dalam kondisi seperti ini."
Nathan pun mengangguk dan menurut. Dia mau meneguk air kelapa yang disodorkan Lukas. Sedangkan Tristan mulai tampak risau bagaimana kalau Nathan tahu bahwa dirinya dibohongi, apa jadinya nasibnya nanti.
"Luk." Tristan tampak meminta ide dari Lukas tetapi Lukas tampak mengendikkan bahu dan wajahnya terlihat acuh.
"Br*gs*k Lo Luk," umpatnya kesal. Namun Lukas tampak terkekeh.
"Siapa yang yang berbuat dia yang bertanggung jawab. Siapa yang memberi harapan dia yang harus mewujudkan."
"Tega Lo Luk." Tristan tampak memelas.
"Berdoalah agar Abang kamu tidak ngamuk lagi," bisik Lukas di telinga Tristan.
"Kamu tuh sekarang berubah ya semenjak amnesia. Udah jadi penakut juga super tega. Untung masih ingat aku sama Abang."
"Ih bukan begitu, tetapi aku harus cari dimana lagi si Chexil. Dalam waktu sesingkat ini lagi. Sebenarnya mengenai amnesia itu ...."
"Siapa Tris?"
"Alhamdulillah, ternyata Tuhan mendengarkan doaku. Cepat buka Luk. Aku yakin dia itu Chexil."
"Baiklah." Lukas berjalan ke arah pintu.
"Masa iya sih itu Chexil? Panjang umur berarti tuh cewek, baru saja diomongin." Lukas mengintip tamu yang datang lewat Lubang intip pintu apartemen. Berharap memang Chexil yang datang agar sahabatnya waras kembali.
"Gawat, bukan Chexil tapi Nela." Lukas berlari ke dalam menemui Tristan kembali.
"Apa sih Luk kayak dikejar hantu saja," protes Tristan.
"Ini lebih dari hantu Tris, ini ratunya malah."
__ADS_1
"Ada-ada saja sih kamu Luk."
"Pokoknya kamu jangan bilang-bilang kalau aku ada di sini."
Tristan tampak menggeleng-gelengkan kepala. "Siapa sih tamunya? Jangan-jangan kamu hamilin anak orang lalu kabur ya?"
"Bukan Tris itu Nela."
"Sama Nela saja takut? Jangan-jangan kamu ikut tidak waras kayak Abang." Tristan langsung menutup mulutnya sendiri kalau Nathan menatap dirinya.
"Nanti aku ceritakan Tris, yang penting jangan kasih tahu kalau aku ada di sini."
"Palingan sudah lihat mobil kamu di bawah."
"Nggak, aku nggak bawa mobil. Aku ke sini bawa mobil Nathan. Mobilku sudah ada yang bawa pulang."
"Ya sudah cepetan saja sembunyi. Aku mau bukain pintu."
Lukas langsung berlari ke dalam kamar mandi.
"Eh jangan di situ!" cegah Tristan.
"Nggak takut Nela nanti numpang kamar mandi?"
"Terus dimana dong Tris?"
"Di dalam lemari," tunjuk Tristan pada sebuah lemari yang ada di pojok kamar.
"Baiklah." Lukas yang dalam posisi panik akhirnya menurut. Sedang Tristan langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak! 🙏