Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 72 Ketahuan


__ADS_3

"Sudah buka bajumu cepat!"


"Iya Bang, iya." Tristan masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan milik Nathan.


"Nih Bang." Tristan memberikan bajunya pada Nathan.


Nathan menerima lalu bergegas ke ruang ganti setelah itu langsung bergegas keluar.


"Tunggu!" Tristan menahan Nathan.


"Abang sebenarnya mimpi apa sih kok mau jadi artis lagi?"


Nathan menghentikan langkahnya. "Siapa yang mau jadi artis?"


"Tuh Abang kan kepengen nyanyi. Apa namanya kalau tidak pengen jadi artis?"


"Abang hanya ingin bisa keluar dari rumah biar bisa menemui Chexil. Soalnya kalau tidak menyamar jadi kamu nggak bakal boleh sama mama."


"Abang! Profesiku dipertaruhkan loh. Masa Abang bohong mau gantiin Tris," protes Tristan.


"Kamu kan punya banyak baju. Nanti kalau aku sudah berhasil keluar kamu baru nyusul keluar."


"Yaaah bisa telat deh aku," keluh Tristan. Dia pikir Nathan memang mau menggantikan dirinya.


"Sudah ya aku pergi." Nathan melenggang keluar kamar.


"Eh Bang tunggu!"


"Apalagi Tristan, adikku tersayang?"


"Cih kalau ada maunya. Kalau nggak Tris-Tris doang padahal aku mah manggilnya Abang."


"Sudah ah kalau tidak ada yang mau diomongin aku pergi."


"Akting dulu jadi Tris biar mama nggak curiga."


"Oke."


Nathan pun belajar menirukan gaya dan nada bicara Tristan.


"Kurang tengil."


"Astaga Tris sama mama doang."


"Ya sudah kalau mau mama curiga."


"Ya udah aku ulang lagi."


Nathan pun mengikuti arahan Tristan.


Kalau bukan karena kamu Xil mana mau aku berlagak kayak anak setengah miring ini. Nathan merengut kemudian terkekeh sendiri.


"Oke sip, sudah mirip Tris."


Nathan mengangguk dan langsung pergi keluar.


"Selamat malam Ma." Nathan berjalan menirukan gaya Tristan.


"Kok kayak aneh nih anak," batin Isyana melihat tingkah Tristan yang agak kaku.


"Mau kemana Tris?"

__ADS_1


"Biasa Ma mau manggung dulu biar cewek-cewek Tambah ngefans sama Tris."


Tristan yang mengintip dari pintu kamar di lantai atas tampak cekikikan.


"Oke."


"Ya udah Ma, Tris pergi dulu."


"Iya."


Nathan bernafas lega. "Syukurlah mama tidak curiga," ucapnya dalam hati.


"Eh tunggu Tris!" Isyana menahan Nathan dan memegang tangannya.


"Ada apa Ma?"


"Kembali ke kamar!" perintah Isyana.


"Ma Tris bisa telat nanti. Please ya Ma Tris harus pergi sekarang."


"Nathan kau tidak pandai berakting. Lagi pula kau lupa ya bahwa yang punya tahi lalat besar dipergelangan tangan kanan itu kamu bukan Tristan."


Nathan mematung mendengar perkataan mamanya. Ia hanya bisa menelan salivanya.


"Ma please izinin Nathan nungguin Chexil di rumah sakit malam ini ya."


"Besok," ucap Isyana dengan nada yang tegas.


"Ya." Nathan berbalik ke dalam.


"Ma Tris pergi dulu." Tristan yang sudah siap dengan pakaian lainnya akhirnya bergegas keluar saat mengetahui rencana sang kakak gagal.


"Tris Mama mau bicara."


"Nih anak ...." Belum selesai dengan perkataannya Tristan langsung berlari keluar.


"Tris!"


"Gini Bang kalau ngadepin Mama harus gesit," ujar Tristan sambil terkekeh dan langsung pergi.


Isyana hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang satu itu.


"Ma ...."


"Nathan, mama bilang kembali ke kamar. Nemuin Chexil-nya besok saja biar tuh anak merenungkan dulu sebenarnya ingin apa."


"Baik Ma." Akhirnya Nathan pasrah. Sampai di kamar ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan mata meski tetap tidak bisa terlelap.


Di rumah sakit tampak kacau. Louis dan Lukas kewalahan mengatasi Karla yang nampak memberontak. Dia tidak mau petugas medis mencabut alat-alat yang menempel di tubuh Felix meskipun suaminya sudah divonis meninggal.


"Suamiku belum meninggal."


"Iya kan Dad, kau belum mati kan? Kau berjanji akan menemaniku, kan? Kau bilang akan berhenti dengan pekerjaanmu dan akan selalu berada di sampingku kan? Ayo Dad bangun! Putrimu Chexil membutuhkanmu, hiks hiks hiks."


"Tante yang sabar ya Tante. Om Felix sudah tiada, jadi Tante harus bisa ikhlas biar arwah om Felix bisa tenang di alam sana nantinya," ujar Lukas sambil mengusap punggung Karla agar wanita itu bisa tenang.


"Kau bicara apa Luk?"


Brak.


Karla mendorong tubuh Lukas hingga tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Tante ...." Lukas hendak protes namun ucapannya segera dipotong oleh Karla.


"Jangan katakan suamiku mati, dia masih hidup. Kalau sampai terjadi sesuatu sama dia kau yang harus bertanggung jawab."


"Apa maksud Tante? Aku yang bertanggung jawab?"


"Karena kau sama Nathan kan yang melakukan ini?"


"Apa? Gila, Tante menuduh orang sembarangan. Bukan aku yang menembak om Felix."


"Kau pasti berbohong kan?"


"Tidak Tante."


"Kau bohong Luk kau sama saja dengan Nathan."


"Tante ...." Lukas nampak emosi.


"Sudah Luk, jangan diperpanjang. Kau lihat sendiri dia lagi syok. Penjelasan apapun tidak akan masuk di akalnya."


"Iya Om." Emosi Lukas langsung merendah.


"Jangan dilepas!" Karla berteriak dan menepis tangan dokter saat hendak melepaskan alat-alat medis.


Dokter tersebut melihat ke arah Lukas dan Louis.


"Biarkan saja Dok, jangan dilepas alat-alatnya."


"Baiklah." Dokter itu membenarkan alat-alat itu kembali.


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan Dok."


Setelah dokter keluar barulah Karla terlihat sedikit lebih tenang. Dia hanya terlihat menangis di samping Felix tanpa banyak bergerak.


Di ruangan lain Chexil tampak memberengut. Dia merasa tidak ada yang perduli padanya. Baik Karla maupun Nathan tidak ada yang menepati janji. Mereka sama-sama tidak kembali.


Ia menatap Davin dan Nenek Salma yang masih tampak mengobrol di sofa.


"Mengapa harus mereka lagi yang ada di saat-saat aku membutuhkan seseorang yang peduli. Mereka yang orang lain sedang keluarga sendiri malah tidak ada," gumamnya.


Davin mengernyit melihat perubahan muka Chexil. "Kenapa Xil, lapar? Kalau lapar aku belikan makanan."


"Nggak usah Dav, aku tidur saja."


"Baiklah good night!"


Chexil hanya mengangguk dan merebahkan tubuhnya kembali. Dia memaksa dirinya agar kali ini dia bisa benar-benar tidur tidak hanya sekedar memejamkan mata saja.


"Nek apakah dia harus tahu kalau Daddy-nya sudah tiada?" Davin bertanya dengan suara berbisik.


"Jangan dulu Dav, biarkan dia tidur dulu. Kasihan dia belum istirahat dari tadi."


"Baiklah Nek tapi bagaimana kalau dia menyalahkan kita karena tidak diberi tahu?"


"Kita pura-pura saja tidak tahu."


"Baik Nek."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak! Jangan lupa mampir juga yuk di karya Ummu Salamah dengan judul My Love Forever dijamin ceritanya seru dan bikin baper🙏



__ADS_2