
"Tristan!" teriak Lukas geram. Dia dan yang lainnya pun menyusul Tristan ke dalam rumah.
Zidane dan Isyana juga Fani duduk di sekitar Felix. Mereka ikut bergabung dengan orang-orang yang penasaran dengan cerita Felix saat masih ada di liang kubur. Bahkan banyak orang terdengar tertawa melihat ada sebagian orang yang meminta air pada Felix barangkali bisa menyembunyikan penyakit mereka.
Berbeda dengan Tristan ia malah tidak fokus hingga mengejar Nathan ke depan kamar Chexil.
"Luk ngapain kamu ke sini?" tanya Tristan melihat Lukas mengejar dirinya.
"Ngikutin kamu lah emang mau kemana lagi?"
"Ampun, kenapa aku malah ke sini ya." Tristan menepuk kepalanya sendiri.
Lukas mengernyit. "Kau tidak sadar ya? Kupikir kamu mau mengintip Abang kamu." Lukas terkekeh.
"Cck, nggak ada kerjaan apa? Kupikir ini menuju kamarku juga, keinget di rumah. Ayo turun!"
Mereka pun berbalik dan hendak turun menapaki tangga. Namun, tiba-tiba langkah Lukas terhenti mendengar suara Nathan dan Chexil yang saling bercanda di dalam kamar.
"Apaan? Turun!" Tristan menarik tangan Lukas agar segera pergi dari tempat itu.
"Lepas!" Lukas turun dari tangga sambil menarik tangannya dari cengkraman Tristan.
"Kenapa sih kalian?" tanya Zidane melihat keduanya ribut-ribut.
"Nggak ada apa-apa Pa," jawab Tristan berbohong.
"Kalau orang jomblo dilarang mengintip nanti bisa bahaya," bisik Tristan di telinga Lukas.
"Siapa yang mau ngintip? Orang cuma nggak sengaja kok," gumam Lukas.
"Ayo, kalian berdua mau ngintip Bang Nath sama Kak Chexil ya," tuduh Fazila.
Semua mata tertuju pada keduanya.
"Ah nggak."
"Bohong." Fazila menggoda Tristan.
"Beneran Chila. Gara-gara kamu nih Luk aku tertuduh padahal itu semua tidak benar."
"Loh kok aku? Adik kamu nih yang main nuduh sembarangan. Eh daripada aku jomblo mending kasih adek kamu sama aku aja."
"Nggak boleh," ketus Tristan.
"Tapi kamu mau kan?" goda Lukas, duduk di samping Fazila dan merangkul gadis itu.
"Ogah." Fazila menghempaskan tangan Lukas dan pria itu malah terkekeh.
"Kecuali kalau ...."
"Kalau apa?"
"Kalau Bang Lukas gantengnya kayak dokter itu." Fazila melirik Davin.
"Anjir nggak ada yang benar ya kalian berdua. Yang dewasa naksir bocah nah yang bocah malah naksir yang lebih tua," protes Tristan.
"Boleh ya Bang sama dokter itu?"
"Nggak boleh."
__ADS_1
"Dih nggak nyadar ceweknya masih bocil," protes Lukas.
"Benar Bang Luk berarti boleh dong aku sama dokter itu. Toh Kak Dilvara boleh sama dia."
"Nggak boleh Chila, titik," tegas Tristan.
"Tapi belum tentu dokter itu mau loh sama kamu. Kalau Bang Luk sudah pasti mau." Lukas terus saja menggoda Fazila.
"Ogah aku maunya sama dokter itu." Saat berkata seperti itu Dokter Davin menoleh ke arah mereka dan hal itu dimanfaatkan oleh Fazila. Dia memberikan sun jauh pada Dokter Davin.
"Ampun nih anak ketularan Abangnya. Kayaknya kurang satu."
"Kurang apa?" protes Tristan.
"Kurang sedikit otaknya seperti pas ada pembagian rasa malu kalian berdua tidak hadir."
Plak
Tristan langsung memukul pundak Lukas tetapi pria itu malah terkekeh.
"Canda Tris gitu aja diambil hati." Lukas cekikikan. Eh itu pengantin baru yang tertunda turun," ujarnya kemudian sambil menunjuk ke arah Nathan dan Chexil yang menuruni tangga.
"Udah atraksinya?" tanya Lukas saat Nathan sudah sampai di lantai bawah.
Tristan melotot ke arah Lukas.
"Atraksi apaan?" Nathan malah bertanya pada Tristan.
"Nggak tahu tuh Bang dia dari tadi ngomongnya nggak jelas. Kesambet setan jomblo dia."
"Ih masa nggak ngerti sih? Chexil sudah dienggak-enggak belum sama Nathan?"
"Kalau di iya-iya, iya," jawab Chexil cekikikan.
"Ih ngeres nih orang. Emang kamu pikir kami ngapain Luk? Orang kami cuma melepas kangen doang, nggak ngapa-ngapain."
"Nggak percaya."
Tristan menoyor kepala Lukas.
"Tris demen banget sih ngedorong kepalaku. Tuh Dimas datang kepalanya saja kalau mau dijadikan sasaran."
"Cih orang baru datang juga, bukan ditanya kabar malah disuruh siksa." Dimas duduk di samping Fani.
"Abisnya kamu hari ini beneran ngeselin sih Luk rasanya ingin aku makan."
"Nih." Lukas melemparkan nasi kotak kepada Tristan. "Makan tuh ada timunnya biar tensi darahmu turun."
"Kalian kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi kucing dan anjing begini."
"Mereka saling menyalahkan Bang gegara ngintip Abang sama Kak Chexil tadi."
Kedua orang itu melotot ke arah Fazila.
"Kayaknya aku ketinggalan berita nih," celetuk Dimas.
"Ngintip kami? Ha ha ha, orang kami nggak ngapa-ngapain. Chexil itu baru keguguran mana mungkin aku pakai sekarang."
"Benar, nggak ada yang beres teman-teman kamu ini Nath."
__ADS_1
"Sudahlah nggak usah dipikirkan besok kita ke rumah sakit buat kontrol kondisi kamu."
"Oke."
"Aku ikut Bang."
"Ngapain?"
"Nemenin Kak Chexil."
Nathan memandang wajah Chexil untuk meminta persetujuan.
"Boleh," jawab Chexil.
"Yes." Gadis itu tersenyum senang.
"Nath kalau aku sama Chila boleh nggak?"
"Nathan mengernyit tidak mengerti arah pembicaraan Lukas."
"Mendingan kamu tuh sama Fani lebih cocok," ujar Tristan.
"Fani cocoknya sama Dimas," sahut Lukas.
"Boleh," ucap Dimas sambil tersenyum senang.
"Ogah ah malu aku kalau sama dia," ujar Fani.
"Malu kenapa? Wajahku nggak kalah cakep loh sama Tristan maupun Lukas."
"Cakep sih cakep tapi nggak punya baju sampai vampir aja menang darimu karena pakaiannya lebih sopan," ucap Fani kemudian tertawa lepas.
"Gara-gara kamu sih Tris, iklan itu malah masih tayang sampai sekarang."
"Loh-loh kok aku sih? Giliran yang enak diakuin giliran yang nggak enak dilimpahkan sama aku. Semua gara-gara aku," protes Tristan.
"Sudah-sudah kalian ngomong apa sih dari tadi. Nathan, Chexil kalian mau tinggal di rumah bareng kami atau mau kembali ke apartemen?"
"Jangan! Jangan pergi dulu ya, kalian tinggal di sini saja ya dulu," cegah Mommy Karla.
"Mommy masih takut sama Daddy," bisik Chexil di telinga Nathan.
"Baiklah Mom untuk sementara kami tinggal di sini saja," ucap Nathan.
"Selamanya juga boleh," ujar Mommy Karla lagi.
Nathan memandang wajah Mommy Karla kemudian beralih pada Isyana.
"Kalau kalian mau tinggal di sini terus ya tidak apa-apa, kami merestui kok," ujar Isyana.
"Benar Jeng?" tanya Mommy Karla tidak percaya.
"Iya Jeng, tinggal di manapun tidak masalah yang penting mereka bahagia."
"Nath?"
"Iya boleh," sahut Nathan membuat Chexil tersenyum bahagia.
Bersambung...
__ADS_1
**Jangan lupa like-nya!
Eh othor mau ngucapin terima kasih buat yang sudah memberikan tips berupa koin kemarin. Othor terharu banget karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan itu. Terima kasih ya dan maafkan othor yang tidak bisa konsisten up-nya. Buat readers yang lain terima kasih juga karena masih setia di novel ini. Love you full for all🥰🥰🥰**