
"Sebelum Nathan jatuh cinta sama wanita itu, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku." Chexil tersenyum sambil menuangkan air panas pada bak mandi.
Beberapa saat kemudian Chexil keluar dari kamar mandi dan memanggil Nathan. "Airnya sudah siap."
Nathan mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Diluar sana Chexil sedang kebingungan apakah dia harus menyiapkan pakaian Nathan seperti ajaran Mommy-nya ataukah tidak, sebab dia takut dikatakan lancang bila membuka koper milik Nathan tanpa izin.
"Ah sudahlah terserah nanti, kalau dia marah aku tidak akan mengulanginya lagi." Chexil beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dimana koper Nathan diletakkan. Setelah mencari pakaian yang dikiranya cocok untuk sang suami dia lalu meletakkannya di atas ranjang.
Sesaat kemudian Nathan keluar dengan mantel mandinya. Ia tersenyum melihat pakaian sudah siap di ranjang. Ia kemudian melangkah ke arah Chexil yang masih fokus menata pakaian ke dalam lemari.
"Tidak usah ditata besok kita pulang ke rumah papa," ujar Nathan.
Chexil menoleh lalu mengangguk kemudian memasukkan baju-baju Nathan ke dalam koper kembali sedangkan Nathan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Sementara Nathan di kamar mandi seseorang mengetuk pintu. Chexil berjalan ke arah pintu meraih handle dan membukanya. Ternyata seorang pengantar makanan yang datang. "Ini makanan pesanan Nona." Pria itu menyodorkan makanan ke tangan Chexil.
Chexil meraih makanan tersebut, setelah membayarnya ia langsung menata di atas meja.
Ketika Nathan selesai mandi Chexil langsung mengajak makan.
"Makan siangnya sudah siap," ujar Chexil pada Nathan dan pria itu hanya mengangguk lagi. Chexil mendesah, kenapa harus dirinya yang selalu mengajak Nathan bicara sedangkan Nathan tidak ada inisiatif untuk mengajak dirinya bicara lebih dulu.
"Xil aku melupakan sesuatu," ujar Nathan kemudian, membuat satu senyum terbit di bibir gadis itu.
"Sesuatu? Apa itu?"
"Tadi Lucas menitipkan oleh-oleh buat kita. Aku tadi taruh di sofa, jadi kamu bisa membukanya nanti."
Setelah berbicara Nathan langsung bergegas menuju meja. Ia menarik kursi dan duduk serta langsung mengambil makanan dan menaruhnya ke piring sebab perutnya sudah teramat lapar sedangkan Chexil malah beranjak ke sofa dan sekarang sibuk membuka oleh-oleh dari Lucas. Wanita itu terlihat kaget saat mengetahui benda apa yang Lucas pilihkan sebagai oleh-oleh untuknya.
Saat mulai menyendok makanan ke piring tiba-tiba saja Nathan teringat kalau Chexil tidak ada di sampingnya. Ia menoleh dan langsung memanggil Chexil.
"Tinggalkan itu, kita makan dulu!"
Chexil mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan serta ikut makan bersama.
"Maaf seharusnya aku melayanimu makan," ucap Chexil dia lupa dengan tugasnya karena belum terbiasa.
"Tidak masalah aku bisa mengambil makanan sendiri. Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Nathan khawatir takut Chexil sakit padahal gadis itu hanya merasa malu mengingat oleh-oleh yang diberikan Lucas.
__ADS_1
"Tadi mama sama Tristan ke sini," ujar Chexil untuk mengalihkan pertanyaan Nathan. Sontak Nathan menghentikan makannya.
Pantas saja Tristan tahu aku keluar dari pagi.
"Mereka nanyain aku?" tanya Nathan khawatir takut Chexil melapor pada Isyana bahwa dirinya meninggalkan Chexil di hotel seorang diri.
"Iya," jawab Chexil sambil mengangguk.
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang kamu pergi ke rumah Mommy untuk mengambil bajuku." Jawaban Chexil membuat Nathan bisa bernafas lega.
"Baguslah kalau begitu. Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Nathan hati-hati.
"Boleh, tanya apa?"
"Jawab dengan jujur. Sebenarnya kamu dan Tristan ada hubungan apa?" tanya Nathan penasaran.
"Tidak ada, kami hanya berteman biasa."
"Oh." Lelaki itu hanya ber oh ria.
"Sebenarnya kami terjebak dalam situasi yang tidak memungkinkan dan orang-orang malah menyangka aku sama Tristan berbuat mesum. Padahal kami tidak melakukan apa-apa tetapi kabar buruk itu begitu cepat sampai ke telinga Daddy makanya aku dipaksa menikah dengan Tristan. Tristan pun tidak mau ambil resiko, karena takut nama baiknya tercemar ia malah mengiyakan," jelas Chexil panjang lebar.
"Ya sudah makan lagi!"
"Terima kasih ya," ucap Chexil lagi.
"Atas?"
"Pertolonganmu waktu itu. Aku pikir kamu dan Tristan adalah orang yang sama, maaf."
Nathan mengangguk lagi. Dia kemudian teringat dengan rumah aneh itu. Terbersit di hatinya untuk pergi ke tempat itu lagi tapi tentunya pada saat yang tepat bukan sekarang.
Selesai makan Nathan langsung beranjak ke sofa dan membuka bungkusan yang diberikan Lucas khusus untuknya sedangkan Chexil masih berkutat dengan piring-piring, beberes.
Nathan terlihat senang melihat oleh-oleh yang dibawakan Lucas. Berbagai macam camilan khas daerah Garut, Lucas bawakan untuknya. Namun dari sekian banyak macam hanya satu yang paling disukai oleh Nathan. Dodol Garut, ya meskipun harganya terbilang murah namun rasanya tidak murahan apalagi Nathan memang menyukai makanan yang manis-manis. Oleh karena itu meski sudah makan ia tetap menikmati camilan itu.
Selesai menikmati camilan Nathan meraih paper bag yang diberikan Lucas untuk Chexil. Matanya melotot tatkala melihat pakaian yang tipis dan minim itu.
"Apa-apaan sih Lucas malah bawa-bawa pakaian macam ini," keluhnya. Ia langsung menelepon Lucas dan melayangkan protes.
__ADS_1
"Astaga Bro, kudate banget sih. Itu pakaian wajib buat istri yang mau perang sama suaminya." Terdengar kekehan dari balik telepon.
"Perang-perang. Perang dunia sudah berakhir. Lain kali kalau tidak punya uang buat beli oleh-oleh baju nggak usah beli." Nathan langsung memutus sambungan teleponnya.
"Diputus lagi sambungan teleponnya, mau dibantu tidak mau." Lucas cekikikan membuat mama Janet curiga dengan sikap putranya.
"Ada apa sih Luk? Ketawa sendiri kayak orang gila," protes mama Janet.
"Lagi senang aja," jawab Lucas sambil bangkit dari duduknya dan meninggalkan mama Janet pergi.
"Tunggu dulu Luk!"
"Ada apa sih Ma, Lucas mau mandi dulu."
"Bagaimana keadaan Nela?"
"Sudah baik kok Ma cuma dia manja, ya udah tak tinggalin aja."
"Astaga nih anak." Mama Janet geleng-geleng kepala dengan sikap putranya.
Sedangkan Chexil yang mau menghampiri Nathan malah maju mundur melihat wajah Nathan yang nampak emosi.
"Sini!" panggil Nathan. Chexil pun mendekat dengan sedikit rasa takut. Dia pikir dia telah melakukan kesalahan terhadap sang suami sehingga membuat pria itu emosi.
"Kamu suka dengan baju ini?" Nathan bertanya sambil menunjukkan lingerie yang diberikan Lucas.
"Ti ... dak," jawab Chexil gugup.
"Kalau begitu buang!" perintahnya pada Chexil. Chexil mengangguk dan meraih baju itu dari tangan Nathan dan langsung membuangnya ke tempat sampah.
"Baju aneh," gumam Nathan seorang diri.
Bersambung....
Hai teman-teman sambil menunggu othor update lagi kalian bisa mampir ke sini dulu yuk!Dijamin ceritanya seru dan bisa bikin kalian teraduk-aduk emosinya.🙏
Judul : Dendam
Karya : nazwa talita
Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
__ADS_1
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?