
Sepulang kuliah Chexil langsung menunggu sang suami di dalam mobil. Nathan yang baru selesai kuliah berjalan beriringan dengan Lukas menuju mobil.
Sampai di samping mobil, Lukas menggaruk kepala, sepertinya dia melupakan sesuatu. Melihat Chexil sudah duduk di samping kursi kemudi Lukas berbalik arah.
"Loh mau kemana? Katanya mau pulang bareng?" tanya Nathan bingung karena tiba-tiba Lukas pergi begitu saja.
"Ada yang ketinggalan, kamu balik saja duluan."
"Terus kamu balik pakai apaan?" teriak Nathan.
"Gampang jangan pikirkan aku, aku bisa nebeng sama Devan ataupun yang lainnya," sahut Lukas sambil terus berjalan menjauh.
"Baiklah," ujar Nathan sambil membuka pintu mobil. Ketika melihat Chexil di dalam Nathan tampak kaget. Ia berbalik keluar.
"Mau kemana?" cegah Chexil. Nathan tetap terdiam tidak mau menjawab. Dia hendak menyusul Lukas.
"Ini kuncinya tadi pagi Lukas menyerahkan padaku," ujar Chexil sambil mengulurkan benda itu ke hadapan Nathan.
Nathan meraih kunci mobil dari tangan Chexil lalu duduk di kursi pengemudi. Tanpa bicara sepatah kata pun ia langsung menghidupkan mobilnya dan menyetir menuju apartemen.
Di sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Sebenarnya Chexil sudah tidak sabar ingin menanyakan apa sekiranya yang membuat Nathan seolah tidak ingin berbicara padanya. Namun ia tahan karena sadar mereka berada dalam mobil, takut Nathan marah dan khilaf hingga akhirnya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Chexil hanya terlihat menyandarkan bahunya pada sandaran mobil sambil memejamkan mata. Ia sedang memikirkan kalimat apa yang cocok ia gunakan untuk bertanya pada Nathan tanpa harus menyinggung perasaannya.
Tidak butuh lama, mereka kini sudah sampai di apartemen. Setelah membersihkan diri Chexil langsung masuk dapur, menghangatkan makanan dengan Microwave kemudian menyiapkan untuk Nathan. Siapa tahu kali ini dia mau makan.
Chexil menghampiri Nathan yang tampak asyik dengan laptopnya. Entah apa yang pria itu kerjakan. Kadang Chexil penasaran karena tiap hari selalu berkutat dengan laptop.
"Makan siangnya sudah siap," ujarnya sambil duduk di samping Nathan. Pria itu tidak menjawab, karena serius dengan pekerjaannya atau memang sengaja, pura-pura tidak mendengar.
"Mau aku buatkan minum? Kopi atau susu atau yang lainnya?" tanya Chexil sebelum ia bertanya lebih lanjut akan kesalahannya.
Nathan menutup laptopnya lalu bangkit dari duduknya. "Aku harus ke kantor, tadi papa telepon." Tanpa mau mendengar jawaban sang istri dia langsung pergi meninggalkan Chexil yang terlihat syok karena diabaikan.
"Hah tahu gini aku langsung tanya saja tadi." Chexil mendesah, kesal pada diri sendiri yang mengulur-ulur waktu.
__________________________________________________________
__ADS_1
"Kamu sebenarnya kenapa sih, apa aku ada salah sama kamu? Katakan salahku apa?" tanya Chexil sedikit memaksa pada Nathan karena pria itu selalu menghindar tatkala Chexil menginginkan penjelasan kenapa sikapnya berubah, kembali dingin seperti semula.
"Kamu mau tahu apa salahmu hah? Karena kau adalah putri dari Felix Fernandez."
"Apa? Hanya itu? Bukankah kamu sendiri yang menyebut namanya di depan penghulu dan semua orang di hari pernikahan kita. Mengapa baru sekarang kamu sadar bahwa aku adalah putrinya? Apa salah Daddy padamu?"
"Kalau aku tahu kamu adalah putri Felix Fernandez yang adalah seorang ... Akh." Nathan tampak mengepalkan tangannya.
"Seumur hidup aku tidak akan pernah mau menikah denganmu," lanjutnya.
Chexil terdiam, dia tahu Nathan memang terpaksa menikahinya, tetapi bukankah pria itu sudah berjanji untuk belajar mencintainya.
Chexil menunduk dengan manik yang basah, tangannya sedikit diremas untuk mengurangi sesak di dalam dada. Dia tidak tahu kenapa Nathan membenci Daddy-nya.
"Dan kalian kan yang menjebak Tristan agar mau menikahmu. Apa sebenarnya yang kalian rencanakan?" Nathan berucap dengan menggebu-gebu.
Tunggu dulu, ini apa? Tuduhan yang sama sekali tidak beralasan.
"Benar kan semuanya?"
Tidak itu tidak benar. Chexil hanya menggeleng. Dia nampak syok dengan tuduhan Nathan.
"Tidak itu tidak benar. Meski ku akui aku memang menyukaimu sejak saat pertama kali kita bertemu, tetapi tidak ada niatan sedikitpun di hati untuk menjebakmu ataupun Tristan agar bisa menikah denganmu. Aku masih waras, aku tidak akan pernah melakukan itu. Apalagi Daddy dia pun tidak mungkin melakukan itu. Ini hanya kebetulan semakin."
"Kamu pikir aku bisa dibodohi? Tidak Chexil, ini semua rencana Daddy-mu. Seorang mafia menjebak orang lain pasti ada tujuannya," tekan Nathan.
Mendengar daddy-nya di panggil mafia Chexil tidak terima. "Jaga ucapanmu ya, Daddy-ku bukan mafia dia hanya seorang pebisnis biasa."
"Bukan cuma pebisnis biasa tapi pebisnis luar biasa sampai narkoba pun ada dalam jangkauan bisnisnya. Sangat memalukan."
"Sudah hentikan ocehanmu! Jangan pernah fitnah lagi tentang Daddy."
"Kalau kamu memang tidak suka aku ada di sisimu, kamu boleh menceraikanku, tapi tunggu paling tidak satu bulan setelah ini. Kita baru seminggu menikah, aku tidak mau ada gosip di antara kita." Akhirnya meski dengan suara bergetar Chexil memutuskan untuk angkat bicara tentang pernikahannya yang tidak mungkin lagi dipertahankan.
Perkataan Nathan yang mengatakan seumur hidup tidak akan pernah menikahinya sangat menusuk ke dalam hati Chexil. Baginya lebih baik mengorbankan rasa cinta daripada perasaannya akan terus tersakiti.
Nathan tidak peduli dengan perkataan wanita itu ia berjalan ke kamar mandi untuk meredakan amarah yang masih tersisa. Sedangkan Chexil setelah Nathan pergi terduduk lemas di lantai sambil terisak.
__ADS_1
Tuhan mengapa kau permainkan takdirku. Ia tampak putus asa.
Lalu beberapa saat kemudian ia tampak mengusap air matanya. "Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah," batin Chexil. Dia tidak mau Nathan melihat dirinya lemah meski pada kenyataannya hatinya memang rapuh.
Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk membersihkan wajahnya yang lusuh akibat menangis sambil berpikir keras bagaimana caranya agar kedua keluarga tidak kaget mendengar kabar perceraiannya nanti.
"Mungkin ini yang terbaik bagi kami," batin Chexil disela-sela mengusap wajahnya.
Beberapa saat kemudian Nathan keluar dari kamar mandi yang ada di kamar mereka. Matanya tampak memerah. Ternyata pria itu juga menangis di dalam kamar mandi tadi.
Chexil masuk, mengambil semua pakaiannya yang ada dalam kamar dan membawa keluar tanpa mempedulikan tatapan Nathan yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
"Mau kemana?" Akhirnya Nathan buka suara.
"Kau tidak boleh pergi sekarang," tambahnya.
"Aku mengerti kamu khawatir tidak bisa menjelaskan semuanya pada Mama Syasa kan? Tenanglah aku tidak akan pergi sebelum kau bisa menjelaskan semuanya dan sebelum aku menerima surat cerai darimu. Waktu kita sebulan kau jelaskan sama mama Syasa dan papa Zidane dan aku jelaskan sama Mommy dan Daddy bahwa kita tidak berjodoh," jawab Chexil begitu tenang tetapi di hati sebenarnya kacau.
"Untuk sementara aku tinggal dikamar dekat dapur," ujar Chexil sambil membawa pakaiannya ke kamar kecil yang ada di dekat dapur yang sebenarnya diperuntukkan bagi pembantu.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Rekomendasi novel yang bagus untukmu. Yang suka novel ++, Yuk kepoin siapa tahu suka.
Judul : Ranjang Tuan Lumpuh
Author : Kay_21
Rate : 22++
Blurb:
Demi dendam, demi meluapkan segala amarah dan rasa sakitnya. Aishe, gadis yang tidak mengenal fashion, rela melakukan apapun demi balas dendamnya. Mengirim tunangan yang sudah membunuhnya merasakan neraka tingkat ke-7.
__ADS_1
Novel dari karangan Kay_21 dengan judul Ranjang Tuan Lumpuh, akan menghadirkan kisah seru yang tidak dapat ditebak kelanjutannya.