
"Oh jadi kamu mau menuduhku yang meletakkan alat itu di kamar? Picik sekali ya pikiranmu. Aku tidak sehina yang kau bayangkan," ujar Chexil sambil berlari ke luar kamar sambil menahan air mata yang hampir menetes.
"Chexil!"
Chexil tidak mendengarkan teriakan Nathan. Ia langsung masuk ke dalam kamar Chila dan menguncinya dari dalam. Untung saja gadis kecil itu sudah tertidur dengan pulas sehingga Chexil bebas menangis di dalam kamar tanpa harus ada yang bertanya macam-macam.
Lama Chexil menangis, merenungi takdirnya sendiri. Mengingat-ingat saat pertemuan pertama dengan Nathan hingga bagaimana takdir mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa terduga sedikitpun. Kadang dia berpikir andai saja dirinya tidak bertemu dengan Tristan semua ini tidak akan terjadi.
"Aku tidak perlu menyesali semuanya. Mungkin dengan ini Tuhan ingin menunjukkan bahwa apa yang aku inginkan tidak selamanya adalah pilihan terbaik," gumamnya sambil mengusap air mata yang masih terus menetes.
Sesaat kemudian dia mengingat tentang tuduhan Nathan terhadap Daddy-nya. "Mungkin dia menyangka aku melakukan ini atas perintah daddy. Bukankah dia pernah menuduh daddy adalah seorang mafia," batin Chexil. Ia lalu meraih ponsel dalam tas dan langsung menghubungi mommy Karla.
"Halo Nak, kenapa malam-malam menelpon Mommy? Apa kamu sakit atau ada hal penting yang ingin disampaikannya pada Mommy?" tanya Karla dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Mommy, Chexil ingin bicara sama Daddy."
"Maaf Nak Daddy-mu sedang sakit dan baru saja tidur. Mommy tidak tega untuk membangunkannya."
"Mommy tidak bohong kan? Jangan-jangan Daddy pergi lagi ya?"
"Tidak Mommy tidak bohong, kalau tidak percaya sebentar ...." Mommy Karla mengubah panggilan menjadi video call.
"Nih lihat Daddy kamu sedang tidur." Sambil menunjukkan gambar Felix yang tertidur pulas.
"Mommy kok nggak bilang Daddy sakit? Sejak kapan?" Ekspresi Chexil terlihat bingung antara khawatir dan curiga.
"Sejak tadi pagi. Mommy tidak mau kamu khawatir makanya Mommy tidak ngabarin kamu. Lagipula Mommy dengar opa kalian masuk rumah sakit ya?"
"Iya Mom tapi tadi sudah sadar dan mendingan."
"Syukurlah kalau begitu."
"Daddy sakit apa? Apa penyakitnya parah?"
"Tidak, Daddy kamu hanya kurang istirahat saja dan dia terjatuh tadi di kamar mandi."
"Kalau begitu sudah dulu ya Mom, besok kalau tidak ada halangan Chexil pulang untuk jenguk Daddy."
"Iya Nak tapi jangan lupa izin suami kamu kalau bisa ajak dia sekalian."
"Iya Mom, udah dulu ya."
Chexil pun mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kakak telepon siapa malam-malam?" Ternyata Chila terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik dari Chexil.
"Oh, kakak telepon Mommy."
Chila langsung terduduk karena merasa ada yang aneh dari wajah Chexil. Ia menatap mata Chexil yang terlihat bengkak.
"Kakak menangis? Bang Nathan marahin kakak ya?" tanyanya polos. Yang Chila tahu sebelum ia tidur Chexil dipanggil ke kamar Nathan.
"Apa kakak nggak dibolehin ya tidur sama Chila sama bang Nathan?" tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban dari Chexil.
Chexil menatap intens mata Chila yang seolah merasa bersalah.
__ADS_1
Chexil tersenyum pada Chila dan mencubit pipi sang adik dengan gemas. "Nggak sayang, malah kakak diperbolehkan tidur di kamar Chila terus selama di sini sama bang Nathan."
"Iyakah?" Raut wajah gadis itu berubah ceria. Namun sesaat kemudian berubah lagi. "Kakak nggak bohong kan? Tapi kenapa kakak nangis?"
"Oh ini kakak lagi sedih aja karena daddy sakit."
"Daddy kakak sakit juga?"
"Iya sayang, sudah yuk tidur. Besok Chila sekolah kan?"
Gadis itu tampak mengangguk lalu berangsur-angsur merebahkan tubuhnya kembali. Namun mata gadis itu tetap tak mau terpejam.
"Kenapa masih melek gitu?"
"Nggak bisa tidur lagi kak."
"Chila, kakak boleh tanya?"
"Tanya saja kak. Kakak msu tanya apa?"
"Chila tahu apa pekerjaan bang Nathan?"
"Kakak belum tahu?" Chexil menggeleng.
"Bang Nath, kadang diminta benerin komputer di sebuah perusahaan."
"Benerin komputer? Reparasi gitu?"
"Nggak ngerti juga kak, katanya benerin sistem atau apa gitu Chila nggak paham."
"Terus nggak ada lagi?"
"Oh gitu ya?"
"Iya gitu kak, tapi kata mama itu bahaya. Makanya mama melarang bang Nath untuk ikut, tapi Abang ngotot dan selalu pergi sembunyi-sembunyi. Emang bang Nath tidak cerita sama kakak?"
"Nggak pernah, dia ceritanya cuma bantuin papa aja di kantor."
"Palingan dia takut kakak ngelarang kayak mama."
"Bisa jadi, yuk tidur biar kakak puk-puk agar kamu bisa tidur lagi."
Chila menggeleng. "Aku bukan anak TK lagi."
"Ya udah tidur, udah larut malam." Gadis kecil itu pun menurut, langsung memejamkan matanya.
Chexil pun ikut berbaring dan memejamkan mata. Dalam hati berharap agar hari esok menjadi lebih baik.
___________________________________________________________
Pagi hari di meja makan.
Isyana menatap putra dan menantunya yang tampak aneh. Tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara padahal di meja makan sedang riuh, ulah Tristan dan Chila yang seakan tidak mau diam padahal sedang mengunyah makanan.
Mendengarkan pandangan mertuanya Chexil pura-pura melayani Nathan. Mengambilkan lauk kesukaan Nathan dan meletakkan di piringnya.
__ADS_1
Tidak ada ekspresi dari Nathan karena pria itu ingatannya tidak lepas dari sang sahabat yang sekarang terbaring lemah di rumah sakit. Namun hal itu membuat semua orang menatap curiga pada hubungan mereka.
"Kalian tidak ada masalah kan?" Tatap Isyana dengan penuh curiga ke arah Nathan.
"Tidak ada Ma, kami baik-baik saja." Chexil yang menjawab karena Nathan masih tetap diam.
"Baiklah kalau begitu kalian lanjutkan makan, mama mau antar Chila ke sekolah dulu dan langsung ke rumah sakit. "Chila sudah siap kan sayang?"
"Siap Ma," jawab Chila sambil meletakkan gelas susu yang sudah tandas isinya.
"Abang-abang dan Kak Chexil, Chila berangkat dulu ya."
"Iya hati-hati," sahut Tristan dan Chexil serempak sedangkan Nathan hanya mengangguk.
"Papa juga pergi," pamit Zidane karena pagi ini dia ada meeting penting.
"Iya Pa."
Tinggallah kini Nathan, Tristan dan Chexil hanya bertiga di ruang makan.
"Aku pamit pulang sebentar untuk menjenguk Daddy karena dia sakit. Kalau kamu ada waktu, Mommy ingin kamu juga ikut."
Mendengar Chexil menyebut daddy-nya, Nathan jadi ilfeel."
Tanpa menjawab Nathan langsung menghentikan makannya dan bangkit dari duduknya. "Aku pergi."
Melihat sikap Nathan yang tidak berubah, Chexil hanya terdiam sambil mengelus dada dan menguatkan diri. Toh tidak sampai sebulan lagi dia tidak akan pernah merasakan sakit hati lagi.
"Bang tunggu!" Tristan mengejar Nathan yang sudah sampai di depan pintu.
Nathan menoleh. "Ada apa?"
"Abang jangan bersikap cuek seperti itu pada istri sendiri!"
"Kenapa? Kamu tidak terima? Kalau kamu memang peduli padanya, kenapa dulu tidak kau saja yang menikahi dia?" Setelah berkata seperti itu, Nathan lalu bergegas pergi.
"Abang! Menyesal aku menyerahkan dia sama Abang!" teriak Tristan. Namun Nathan sudah tidak mendengar karena sudah jauh.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak! Baik berupa like, komentar, vote dan hadiah. Terima kasih 🙏
Othor ada rekomendasi lagi nih buat kalian. Yang suka baca novel fantasi dan action cuss langsung meluncur dan rasakan sensasinya membaca novel ini!
Judul : the Day i become a God
Napen: haoyi
Blurb:
Menceritakan Perjalanan seorang anak tanpa bakat bernama Arjuna Daniswara.
Tepat di umurnya yang ke sepuluh tahun Juna mendapatkan sebuah system yang dapat mengetahui segala hal di dunia.
__ADS_1
Dan dengan bantuan system yang dia beri nama Eva itu Juna mulai bertambah kuat dan bertemu dengan banyak teman dan musuh.
Akankah juna bisa bertahan melawan musuh musuhnya dan siapakah Eva yang sebenarnya ?....