
Setelah berhasil membujuk sang kakak, Tristan kini harus merayu sang mama untuk merestui pernikahan Nathan dan Chexil yang terkesan mendadak.
"Benar Tris abang kamu yang mau nikah, bukan kamu?"
"Ya ampun Ma, sudah berapa kali Tristan jelaskan bahwa memang bang Nath yang mau nikah bukan Tris. Masa Mama belum percaya juga sih?"
"Mama nggak percaya. Mana mungkin abang kamu nikah secepat ini, orang mama nggak pernah lihat dia dekat dengan cewek manapun. Kalau kamu mah Mama percaya kalau ngebet pengen nikah, kan kamu jago tuh ngerayu cewek-cewek." Isyana ingat beberapa waktu yang lalu Tristan membuat beberapa wanita baper akan gombalannya hingga menganggap gombalan Tristan serius. Para wanita itu mendatangi rumah utama dan membuat kegaduhan di sana karena sama-sama merasa berhak memiliki Tristan. Hal itu membuat Isyana kewalahan karena mereka tidak mau pergi sebelum Tristan menemui mereka. Sedangkan yang dicari sedang asyik-asyik berjalan-jalan dengan sahabatnya tanpa mau diganggu. Tristan malah mematikan ponselnya. Isyana sampai menyuruh Zidane pulang dari kantor untuk menangani semuanya.
"Benar Ma. Ya Tuhan harus berapa kali Tristan menjelaskan Ma."
"Tapi kenapa justru kamu yang semangat dengan pernikahan ini sedangkan abang kamu mah cuek-cuek saja."
"Mama kan tahu bang Nath kayak apa orangnya. Dia tuh sulit ditebak, tidak bisa dibedakan lagi senang atau susah. Tristan tahu, bang Nath sebenarnya sudah lama menyukai Chexil tapi dia cuma diam saja, tidak berani mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Sekarang saat gadis itu mau dijodohkan sama pria lain oleh ayahnya baru tuh dia kelabakan, dan bang Nath bilang bahwa dia menyukai Chexil. Tak ada salahnya kan Tristan bantu untuk menyampaikan pada Mama. Kan kasian Ma kalau abang sampai patah hati."
"Panggil abang kamu!" Isyana masih belum percaya dengan perkataan Tristan. Ia ingin mendengar pernyataan langsung dari bibir Nathan.
"Baik Ma." Tristan bangkit dan berjalan ke kamar Nathan.
"Bang, dipanggil Mama."
Nathan menoleh dan mengangguk. Ia lalu menutup laptop dan beranjak menemui sang Mama di ruang keluarga.
"Ada apa Ma?" tanya Nathan setelah duduk di sofa depan mamanya.
"Adik kamu bilang, kamu ingin menikah?"
Nathan memandang wajah Tristan yang terlihat ketir. Sebenarnya Tristan ingin mewanti-wanti Nathan agar tidak mengatakan yang sebenarnya, tetapi nyalinya ciut kala mengingat Nathan adalah orang yang serius dan tidak suka berbicara dua kali. Namun bagaimanapun hati Tristan tetap was-was, takut abangnya berubah pikiran.
Nathan terlihat mengangguk membuat Tristan bisa bernafas lega.
"Kalau begitu besok bawa gadis itu kemari."
"Iya Ma." Nathan melirik Tristan yang memberikan jempol tangannya, laki-laki itu mengerti apa yang diinginkan Nathan.
Keesokan hari Tristan benar-benar membawa Chexil dan mommy Karla.
__ADS_1
"Tris ke kamar dulu ya Ma," pamit Tristan kepada Isyana setelah pamit pada Chexil dan Mommy Karla.
Mommy Karla dan Isyana terlihat langsung akrab. Mereka berbicara panjang lebar sampai Isyana lupa belum menyuguhkan minuman untuk tamunya tersebut. Bukan hanya tentang persiapan pernikahan kedua anaknya tetapi juga tentang hal-hal yang lainnya. Sedangkan Chexil hanya diam saja. Dia kadang bingung dengan mommy Karla. Padahal Chexil sudah bicara pada Mommy-nya bahwa pernikahan ini terpaksa terjadi karena ancaman daddy Felix, tetapi mengapa mommy-nya seakan antusias dengan pernikahan ini.
"Oh ya Jeng untuk gaun pernikahan biar saya saja yang jahit sendiri. Besok Nak Chexil bisa langsung dibawa ke butik untuk pemilihan bahan, model, juga biar saya ukur sekalian."
"Baik Jeng besok saya akan bawa putri saya ke sana."
"Baiklah saya tunggu. Oh ya ini alamat rumahnya." Mommy Karla meraih kartu nama yang diberikan Isyana.
"Mana nih bik Ina kok lama banget," gumam Isyana. Tiba-tiba ia ingat belum memberitahukan pada pembantu bahwa hari ini kedatangan tamu.
"Sebentar ya Jeng saya ke belakang dulu."
"Iya Jeng, silahkan."
Isyana pun pergi ke dapur menemui bik Ina dan pembantu yang lainnya. Ternyata mereka telah mempersiapkan segalanya. Mungkin Tristan sudah mengatakan pada mereka. Isyana memeriksa apakah jamuan untuk calon besan sudah siap apa belum.
"Kenapa cemberut?" tanya Mommy Karla karena melihat wajah putrinya ditekuk sedari tadi.
"Bukankah kamu dulu bilang ya bahwa kamu pernah menyukai calon suamimu ini. Sampai jaketnya diciumi segala."
"Mommy tahu dari mana kalau itu jaket dia?"
"Dari pak sopir. Makanya Mommy semangat pas tahu yang ingin dijodohkan oleh daddy kamu adalah dia."
"Tapi dia berbeda Mom tidak seperti waktu pertama kali Chexil ketemu."
"Maksudnya?"
"Yang dulu cool mom nggak banyak tingkah, tapi Tristan yang kutahu sekarang suka baperin cewek-cewek cantik di kampus."
"Ah sudahlah, dia nanti kalau sudah jadi suami kamu juga akan berubah. Pasti dia akan setia sama kamu."
"Ah nggak tahu lah Mom, yang jelas Chexil tidak yakin. Apalagi dia tuh artis yang banyak disukai pada wanita, pasti godaannya besar."
__ADS_1
"Harus yakin lah."
"Maaf ya Jeng lama nunggu," ujar Isyana sambil membantu bik Ina meletakkan camilan dan minuman di depan Mommy Karla.
"Nggak apa-apa Jeng."
"Ayo diminum Jeng dan Nak Chexil."
"Iya Jeng terima kasih."
"Iya Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil mama saja biar terbiasa. Kan sebentar lagi kamu akan menjadi anak mama juga seperti halnya Nathan sama Tristan."
"Nathan sama Tristan? Siapa itu Nathan? Ah sudahlah, mungkin cuma adik Tristan," batin Chexil.
🌟🌟🌟🌟🌟
Tak seperti pernikahan biasanya dimana sang pengantin bersemangat menyiapkan segala yang berkenaan dengan pakaian maupun foto prewedding Nathan dan Chexil malah tidak perduli dengan semuanya. Chexil hanya mau mengukur pakaiannya karena merasa tidak enak saja kepada Isyana.
Pernikahan yang sederhana digelar di kediaman Zidane karena Nathan tidak mau acara pernikahannya dibuat mewah. Awalnya Isyana dan Zidane kaget dan tidak mengerti mengapa Nathan menginginkan pernikahannya dihadiri oleh teman-teman dan kerabat dekatnya saja. Setelah membujuk sang mama dibantu Tristan, Isyana pun menyetujuinya. Begitupun Zidane yang sudah memasrahkan semunya kepada sang istri.
Disinilah sekarang Chexil berada. Setelah selesai dirias, mommy Karla langsung menuntut sang putri ke meja ijab.
Beberapa saat kemudian Tristan menggandeng tangan Nathan dan membawanya menemui Chexil yang kini sedang duduk dengan gugup dan cemas. Dia tidak pernah berpikir sekalipun akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya juga tidak mencintainya.
"Xil," sapa Tristan sambil menepuk pundak Chexil.
Chexil menoleh, seketika matanya terbelalak melihat dua laki-laki yang berparas sama berada di depan matanya.
Chexil mengucek matanya. "Kenapa ada dua orang yang sama? Apa aku bermimpi?"
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
__ADS_1