Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 53. Bertemu Davin


__ADS_3

Sudah sebulan Chexil berdiam diri di rumah nenek Salma. Sebenarnya orang-orang Felix sudah tahu keberadaan Chexil tetapi Felix meminta agar anak buahnya tidak mengusik dan membiarkan Chexil tinggal di sana sementara waktu untuk menenangkan diri.


Setelah putrinya itu sekiranya sudah bisa melupakan Nathan, barulah dirinya akan menjemput Chexil pulang. Kalau dibawa pulang sekarang pasti Nathan akan mudah menemukan putrinya tersebut.


Orang-orang Felix hanya dimintai untuk mengawasi putrinya tersebut tanpa boleh menunjukkan diri ataupun ikut campur dengan urusan Chexil. Yang terpenting mereka harus memastikan bahwa Nathan dan orang-orang Zidane tidak bisa menemukan keberadaan putrinya tersebut.


Selama sebulan Chexil tidak pernah keluar rumah. Ia hanya berdiam diri di rumah nenek Salma sambil membantu-bantu pekerjaan rumah. Akhirnya hari ini ia memutuskan untuk pamit mencari pekerjaan.


"Nek, Chexil pergi dulu ya. Doakan Chexil cepat dapat pekerjaan," ucap Chexil pada nenek Salma.


"Sebenarnya nenek pengen kamu bantu-bantu nenek di rumah saja tetapi kalau kamu tetap ingin mencari pekerjaan, ya nenek tidak bisa menghalangi karena nenek tidak bisa memberikan gaji yang besar untuk kamu."


"Bukan begitu Nek, saya tidak enak kalau terus menumpang hidup dengan nenek. Bisa-bisa saya disangka manfaatin nenek oleh cucu nenek. Kalau masalah pekerjaan rumah Chexil pasti akan tetap bantu nenek sebisa mungkin meski tidak nenek bayar," jelas Chexil.


"Tapi nenek ikhlas bayarnya," ujar nenek Salma lagi.


"Lebih baik uang nenek untuk belanja dan sebagian ditabung saja takut ada kepentingan mendesak nantinya. Tidak usah memberikan pada Chexil. Toh Chexil kan sudah makan pakai uang nenek," ujar Chexil dengan halus.


"Baiklah kalau begitu," ujar nenek Salma pasrah.


Sebenarnya nenek Salma menawarkan Chexil untuk bekerja di rumahnya saja tidak perlu bekerja di luar dan dia pun menawarkan gaji terhadap Chexil. Tentu saja Chexil menolak karena mana mungkin dia meminta bayaran kepada nenek Salma yang telah mau menampung dirinya selama ini. Apalagi nenek Salma sudah tua dan hanya mengandalkan kiriman uang dari cucunya.


Meskipun demikian tidak bisa dipungkiri Chexil pun membutuhkan uang untuk kebutuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu ia mendesak agar nenek Salma mau mengizinkan dirinya mencari pekerjaan.


"Ya sudah saya berangkat dulu ya Nek." Chexil mengambil tangan nenek Salma dan menyalaminya lalu hendak bergegas pergi.


"Tunggu Nak Xil!"


"Ada apa lagi Nek?"


Chexil mengelus dadanya sendiri. Harus ekstra sabar menghadapi nenek-nenek pikir Chexil.


"Begini nenek ada kenalan dekat. Eh sebenarnya keluarga nenek juga sih."


Chexil mengernyit tidak mengerti apa yang akan disampaikan oleh nenek Salma.


"Begini, kemarin nenek bertemu dengan cucu adik nenek. Katanya dia sedang membutuhkan seseorang untuk membantunya di rumah sakit. Jadi apa tidak sebaiknya kalau kamu bekerja di rumah sakit bersama dia."


"Bagus sih Nek tapi Chexil tidak ada kemampuan untuk bekerja di bidang kesehatan. Kalau untuk bagian cleaning servis baru Chexil bisa," ujar Chexil terkekeh.


"Kayaknya tidak beda-beda jauh sih dari itu. Cuma katanya yang dia butuhkan bukan di bidang bersih-bersih gedung atau ruangannya tetapi lebih ke bidang makanan."


"Maksudnya Nek? Cucu adik nenek profesinya apa sih?"

__ADS_1


"Itu, ada gizi-gizinya tapi nenek lupa dah apa nama pekerjaannya."


"Ahli gizi mungkin?"


"Nah itu benar. Katanya dia butuh seorang di bagian saji-saji apa itu? Katanya ada salah seorang karyawan yang berhenti mendadak kemarin."


"Bagian pramusaji kah maksud Nenek?"


"Iya-iya benar itu. Sebenarnya nenek sudah ngusulin kamu kemarin sama Ella dan dia memintamu untuk menghubungi dia kalau berminat tapi nenek lupa ngasih tahu kamu. Maklum nenek sudah tua dan sedikit tulalit," ujar nenek Salma sambil cekikikan.


"Nenek serius?" tanya Chexil antusias.


"Iya serius lah. Kalau kamu mau, nenek akan menelpon dia sekarang untuk ke sini bertemu langsung denganmu."


"Boleh Nek, boleh," ujar Chexil bersemangat.


"Sebentar Nenek akan telepon dia dulu." Nenek Salma berjalan ke arah ruang tamu dan menelpon wanita yang bernama Ella tersebut. Chexil pun mengikuti langkah nenek Salma dari belakang.


"Kamu duduk dulu, dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini," terang nenek Salma.


Chexil mengangguk kemudian duduk di samping nenek Salma. Menanti Ella dengan harap-harap cemas.


Beberapa saat kemudian bel rumah terdengar di pencet.


"Oke Nek ayo."


Benar saja yang datang hari itu adalah wanita bernama Ella. Seorang ahli gizi sekaligus cucu dari pemilik rumah sakit swasta tempatnya bekerja.


Setelah berbicara sebentar dan terjadi kesepakatan antara Chexil dan Ella, mereka langsung pergi ke rumah sakit yang berada di kabupaten.


"Ingat tugasmu mengantar makanan sekaligus memastikan alat-alat makan dalam keadaan higienis," jelas Ella.


"Baik Bu," jawab Chexil.


"Ya sudah sekarang kamu antarkan makanan ini ke kamar-kamar pasien. Ini daftar kamar yang harus kamu antar selebihnya biar menjadi tugas yang lainnya."


"Baik Bu." Tanpa banyak bertanya Chexil langsung melaksanakan tugasnya.


"Wah hampir kelar nih tugas pagi ku," ujar Chexil setelah mengantarkan makanan ke banyak pasien. Lumayan rumah sakit yang cukup besar, ditambah lagi harus naik turun tangga membuat kaki dan betisnya terasa pegal.


"Sekarang tinggal nasi terakhir." Ia menghela nafas lega. Lalu dengan bersemangat ia menuju kamar terakhir.


"Kok sepertinya sudah ada dokternya sih. Masuk nggak ya?" Chexil tampak ragu-ragu.

__ADS_1


"Masuk, jangan biarkan pasien terlambat sarapan!" seru dokter tersebut melihat Chexil yang masih maju mundur.


Chexil nampak mengangguk dan dengan posisi yang menunduk ia masuk ke dalam ruangan. Sedangkan dokter tersebut pandangannya tidak lepas dari Chexil. padahal urusannya sudah selesai dengan pasien tetapi belum beranjak keluar juga.


"Ini Nyonya sarapannya," ujar Chexil tersenyum ramah sambil meletakkan makanan tersebut di meja dekat pasien.


"Terima kasih Sus," jawab pasien dan keluarganya.


"Sama-sama Nyonya."


Chexil langsung berjalan keluar melewati dokter yang berdiri tanpa mau memandang wajah dokter tersebut karena masih gugup. "Mari Dok."


"Hei Nona tunggu dulu!" Dokter tersebut menghentikan langkah Chexil tetapi wanita itu tidak mau menoleh.


"Iya Dok ada apa?"


Dokter tersebut menyusul Chexil ke arah pintu.


"Tidak sopan. Seharusnya kalau diajak berbicara ya lihat siapa lawan bicaramu," ujar dokter tersebut membuat Chexil terpaksa mendongakkan kepalanya dan memandang wajah dokter tersebut.


"Kamu? Dokter itu? Mengapa bisa ada di sini?" tanya Chexil kaget.


"Ya, yang namanya dokter itu ya ada di rumah sakit. Kalau di kampus itu dosen namanya," protes dokter tersebut.


"Calon dokter juga ada," jawab Chexil.


"Ya kan baru calon."


"Kalau ada yang sakit dokter juga ada di sana."


"Iya-iya deh aku kalah."


"Abisnya ngeselin orang maksudnya biasanya tugas di kota kok malah ada sini, tapi sudahlah bukan urusanku juga. Permisi!" Chexil langsung melenggang pergi.


"Hei tunggu! Namaku Davin. Siapa namamu?" teriak dokter tersebut dan lalu langsung menutup mulutnya sendiri tatkala sadar tempat yang dipijaknya sekarang adalah rumah sakit. Bisa jelek image-nya kalau pasien-pasien tahu bahwa dia suka berteriak tak tahu tempat.


Chexil terus berjalan tidak mau menggubris teriakan dokter tersebut karena kini dia ingat Nathan.


"Gara-gara dokter, Nathan sampai memperlakukan ku sekasar itu. Aku tidak boleh dekat-dekat dengan pria itu," batin Chexil.


Bersambung....


Maafkan Othor ya yang tidak bisa update rutin. Masih sibuk di real karena masih dalam suasana lebaran.🙏

__ADS_1


__ADS_2