Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 29. Mengerjai Dimas


__ADS_3

"Dimas." Dia kemudian ingat Dimas yang menunggunya di luar.


"Ya aku harus minta tolong pada Dimas," gumam Tristan.


Tristan langsung merayu wanita itu sehingga wanita tersebut mau membawanya pada orang yang bertanggung jawab akan pembuatan iklan.


"Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan Bu Bos. Kamu bisa berbicara langsung dengannya." Tristan mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu keluar ruangan.


Ketika keluar ia melihat Dimas masih duduk anteng di sebuah kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan mungkin sedang mengontrol medsos atau hanya sekedar bermain game online saja. Entahlah, Tristan tidak tahu.


Krek.


Saat pintu ruangan terdengar dibuka, Dimas menoleh. "Hei Tris, sudah?" tanya Dimas sambil melambaikan tangan ke arah Tristan.


"Belum, tunggu aku ya jangan kemana-mana."


"Oke siap."


Sampai di depan ruangan, wanita yang mengantarkan Tristan mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Masuk!" perintah orang di dalam ruangan.


"Bu Bos ada yang mau bicara dengan Anda."


"Suruh masuk!"


Wanita itu tampak mengangguk.


"Silahkan masuk Mas Tristan, saya pergi dulu." Wanita itu pamit dan meninggalkan ruangan.


Di dalam ruangan terlihat dua orang laki-laki dan satu orang wanita yang sedang berbicara serius. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, Tristan mencoba bernegosiasi dengan pihak perusahaan tersebut. Bahkan dia sampai mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak panu di paha sehingga tidak mungkin membintangi iklan ****** ***** tersebut.


Makanya ia tidak pernah tampil di depan kamera dengan celana yang pendek Begitu alasan yang dia lontarkan. Namun entah mengapa orang-orang langsung percaya dengan kebohongan Tristan.


"Aku tahu kamu berbohong wahai pemuda tampan." Wanita yang dipanggil Bu Bos oleh wanita tadi tidak percaya tidak seperti kedua orang yang duduk disampingnya.


Ais kupikir dia percaya.


Tristan tersenyum pahit.


"Bagaimana kalau saya berikan kalian ganti seorang pemuda yang lebih tampan dan berkharisma dibandingkan diriku?" Huek, Tristan mau muntah mengatakan hal itu. Masa iya ada yang lebih tampan dari dirinya dan itu adalah Dimas. Dirinya kalah sama Dimas? Dalam hati dia berontak dengan ucapan sendiri. Hah, teta'pi tak apalah demi menyelamatkan diri pikir Tristan.


"Sebegitunya kau ingin lepas dari tanggung jawab?" Wanita itu tersenyum menyeringai.


Aih senyumannya terlihat berbahaya.

__ADS_1


Ternyata orang yang ada dihadapannya kini tidak bisa diajak kompromi.


"Daripada kalian harus memanipulasi hasil kamera. Lebih baik kalian menerima tawaranku. Saya pikir temanku lebih cocok untuk menjadi bintang iklan produk kalian. Bodynya bagus dan saya yakin banyak wanita yang akan klepek-klepek melihat penampilan dan gayanya nanti."


"Kamu pikir ini ajang pencarian jodoh? Hei pemuda, ini adalah iklan untuk membuat produk kami laris bukan untuk membuat kaum hawa senang dan puas."


Alamak, ingin rasanya Tristan mencaci-maki wanita yang ada di depannya kini. Dalam hati sudah berteriak-teriak ingin mengatakan kata 'bodoh' tetapi ia tahan takut masalah akan menjadi panjang. Bisa-bisa ia diseret ke kantor polisi karena telah melanggar kontrak.


Sabar Tris, sabar. Tristan mengusap dadanya sendiri.


"Dia juga terkenal kok dan yang pasti tidak kalah tampan." Tristan masih terus merayu sambil menunjukkan foto-foto Dimas dan media sosial Dimas yang ternyata banyak followernya.


"Kalau Ibu masih ngotot ingin saya yang jadi bintang iklannya, jangan salahkan kalau nanti produk ibu akan berubah karena saya akan mengenakan ****** ***** produk perusahaan ini diluar bajuku layaknya Superman."


Kedua orang yang duduk di samping Bu Bos terlihat cekikikan tetapi wanita yang dipanggil Bu Bos itu tidak terpancing dengan perkataan Tristan karena fokus menatap layar ponsel milik Tristan.


Wanita yang dipanggil Bu Bos tadi meraih ponsel Tristan dan memeriksa. Dia seolah terpana dengan gambar yang ada dalam ponsel Tristan.


Wanita itu terlihat tersenyum, Tristan yakin orang dihadapannya menyukai Dimas. Iyalah bagaimana orang tidak menyukai Dimas toh gaya dia berpakaian terlihat keren, tidak mau kalah sama Tristan. Orang yang tidak mengenal Dimas pasti menyangka Dimas itu anak orang kaya kecuali saat melihat dia menaiki motor bututnya yang sering macet di jalanan. Dimas mempunyai slogan tetap keren meski kere. Ada-ada saja tuh orang. Untung saja tuh orang sering nebeng dengan Tristan sehingga sering mendapatkan bantuan baik dari segi biaya sekolah maupun untuk bergaya.


"Bagaimana Bu bos, tertarik?" Wanita itu terlihat mengangkat kedua alisnya.


"Boleh saya bertemu sebelum memutuskan?"


"Boleh kebetulan sekarang orangnya ada di luar."


"Bagus, panggil sekarang!"


Dari jauh Tristan melambaikan tangan dan memanggil Dimas, tetapi sang sahabat tidak melihat karena masih fokus dengan ponselnya.


"Hei Dim dari tadi dipanggil nggak nyaut-nyaut," protes Tristan.


"Sorry Bro nggak dengar."


"Bro, bro. Kram tahu dari tadi mulutku panggil-panggil namamu." Suara Tristan terdengar kesal.


"Emang aku bang Toyyib pake dipanggil-panggil segala." Dimas tak kalah sewot.


"Ish nih orang ...." Tristan tidak melanjutkan perkataannya kala mengingatkan tujuan awal dirinya menemui Dimas.


"Kenapa sudah keluar, sudah kelar?"


Tristan menggeleng.


"Apa jam pemotretannya ditunda?"


Tristan menggeleng lagi.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu ada di sini? Sana masuk lagi biar cepat selesai. Nih anak suka ngulur-ngulur waktu."


"Dim kamu mau nggak jadi orang terkenal?" Tristan berkata dengan lemah. Sebenarnya ia tidak tega membohongi Dimas tetapi kalau tidak, dirinya tidak bisa lepas dari kontrak ini.


Sesekali mengorbankan sahabat demi kebaikan diri sendiri tidak masalah. Apalagi Dimas sering merepotkanmu, begitu bisik setan berbaju hitam yang mengeluarkan kobaran api dari kedua telinganya.


"Terkenal? Ya mau lah. Kamu pikir aku suka posting-posting buat apa? Ya buat jadi orang terkenal lah walau nggak mungkin seterkenal kamu sih," ujar Dimas panjang lebar.


"Tapi kali ini kalau kamu mau bantu aku. Aku yakin kamu bakal terkenal beneran."


"Benarkah?" Dimas terlihat sumringah.


"Mau?" tawar Tristan.


"Mau lah Tris. Mau-mau-mau," ucap Dimas senang.


"Kalau begitu ikut aku ke dalam menemui Bu Bos."


"Oke." Dimas langsung bangkit dari duduknya. Raut mukanya tampak cerah karena diliputi bahagia. Sepertinya keinginan dirinya untuk menjadi orang terkenal sewaktu kecil sekarang akan terkabulkan.


Benar tebakan Tristan bahwa Bu Bos itu menyukai Dimas. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Bu Bos akhirnya mereka membawa Dimas ke ruangan yang banyak segitiga beracunnya.


Ketika Dimas memasuki ruangan, Tristan terlihat khawatir. Dia membayangkan ekspresi Dimas saat tahu bahwa yang akan dipakainya adalah semvak. Dalam hati Tristan berdoa semoga saja Dimas tidak kabur.


Beberapa saat kemudian Dimas keluar dari ruangan dengan wajah yang terlihat lesu. "Gini amat mau jadi orang terkenal. Apes nasib anakmu Mak." Dimas mengingat emaknya di kampung bagaimana kalau sampai tahu dia telah mengambil job seperti ini.


Melihat Dimas keluar dari ruangan dengan keadaan lesu, Tristan langsung kabur.


"Tega kamu Tris!" teriak Dimas sambil mengejar Tristan keluar.


Tristan terus berlari sambil tertawa.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


Rekomendasi novel yang bagus untukmu.


Judul : After Darkness


Penulis :SkySal



Blurb:


Hanya karena beberapa lembar foto bersama bosnya Elsa harus terkena masalah besar yang datang dari putra bosnya yang bernama Robin Sriwijaya.

__ADS_1


Robin menuduh Elsa sebagai salah satu simpanan ayahnya. sehingga Robin balas dendam dengan menjadikan Elsa pelayan di rumahnya. Namun Elsa bukanlah wanita yang lemah seperti yang Robin pikirkan. Elsa arogan dan keras kepala yang justru membuat Robin semakin marah hingga akhirnya Elsa mengalah dan lebih memilih menyerang Robin dari hatinya.


Bisakah Elsa melakukannya?


__ADS_2