Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 63. Pengkhianat


__ADS_3

Felix pun langsung berangkat menuju ke apartemen dengan mengajak beberapa anak buahnya yang masih standby di rumah.


Sampai di apartemen dia langsung menyuruh beberapa anak buahnya itu untuk berpencar mencari keberadaan Nathan. Siapa tahu menantunya itu masih ada di sekitaran apartemen.


Melihat anak buah Tuan Smith yang biasanya menjadi teman, Felix langsung teringat akan fitnah dan kematian ayahnya.


Felix langsung memutar pistol dan mengarahkan kepada mereka dan menembak membabi buta.


"Tuan Anda salah sasaran!" teriak salah satu anak buah Tuan Smith yang berdiri tidak jauh darinya. Namun Felix tidak perduli dia malah beralih mengarahkan pistol di tangannya kepada mereka dan langsung menembak mereka.


"Akhh." Terdengar suara kesakitan dan jeritan dari segala penjuru.


"Awas! Tuan Felix pengkhianat!" teriak salah satu orang dari mereka dan mereka langsung menembak Felix tepat di dadanya.


"Tembak bersamaan!"


Dor-dor-dor.


Beberapa peluru yang mengenai dada Felix sama sekali tidak berpengaruh karena tubuhnya sudah terhalang pelapis.


Para polisi pun semakin gesit melakukan perlawanan hingga anak buah Tuan Smith kewalahan karena selain menghadapi para polisi mereka juga harus menghadapi Felix yang sepertinya tidak takut mati.


Tuan Smith memukul mundur pasukannya sebelum terlanjur jatuh banyak korban.


"Mundur!"


Mereka pun melempar bom ke arah musuh kemudian kabur di tengah kobaran api.


Setelah kobaran api telah padam, anak buah Tuan Smith sudah tidak terlihat satu pun. Kecuali Nela dan satu orang yang bersamanya kini sudah terlihat diborgol.


Di tengah perjalanan Tuan Smith langsung menelpon Maximus supaya memindahkan stok obat-obatan terlarang yang ada di markas ke tempat yang aman karena yakin markas mereka telah ketahuan sebab bukan tidak mungkin Felix sudah bekerja sama dengan para anggota polisi.


"Bagaimana ini, mereka sudah kabur?" tanya salah satu anggota polisi pada yang lainnya.


"Aku akan menunjukkan markas mereka dan ku mohon bantuannya untuk menyelamatkan menantuku Nathan." Felix melangkah ke arah beberapa polisi yang tampak bergerombol di samping Nela.


Nela menatap tajam dan penuh kebencian kepada Felix. Dia terlihat ingin melepaskan diri dan ingin memukul Felix tetapi gerakannya ditahan oleh polisi.


"Nathan? Menantu Anda? Diculik?" Beberapa polisi tampak kaget.


"Mari ikut aku!"


Para polisi tampak ragu, takut-takut mereka akan dijebak karena penampilan Felix terlihat mencurigakan.


"Luk?" Mereka meminta pendapat pada Lukas.


"Ikuti saja, dia memang ayah mertua Nathan."


Mereka mengangguk. "Oke siap."


Mereka pun mengikuti kemana Felix mengendarai motornya.


"Nanti sampai di tempat jangan lupa hubungi saya ya Pak. Saya mau cari teman saya dulu." Bukan hanya Nathan yang perlu dikhawatirkan tetapi keadaan Tristan pun perlu dipastikan. Lukas takut pria itu menjadi korban di tengah-tengah keganasan api tembakan maupun bom tadi.

__ADS_1


Lukas langsung berlari ke dalam apartemen kembali untuk mencari keberadaan Tristan. Ternyata pria itu sudah lebih dulu kembali ke dalam kamar apartemen dan mencari keberadaan sang kakak.


"Tris kamu tidak apa-apa?" tanya Lukas khawatir.


"Tidak apa-apa Luk, tapi Abang mana?" Raut wajah Tristan tak kalah khawatir.


"Abang kamu diculik Tris," ucap Lukas dengan penuh sesal. Kalau bukan karena idenya mana mungkin saat ini Nathan akan diculik. Ya walaupun mereka telah berhasil menangkap Nela tapi kalau nyawa Nathan yang akan menjadi taruhannya dia benar-benar tidak ikhlas.


"Kamu tidak bercanda kan Luk?"


"Mana mungkin aku bercanda dalam kondisi seperti ini Tris."


"Kalau begitu, mengapa kamu masih di sini? Apalagi yang kita tunggu? Ayo segera kita cari Abang." Tristan menarik tangan Lukas ke luar kamar.


Lukas melepas pegangan tangan Tristan. "Kamu tidak perlu ikut, ini salahku jadi aku yang bertanggung jawab."


"Jangan begitu Luk, kita cari sama-sama."


"Tidak Tris, keadaan ini terlalu berbahaya untukmu yang tidak pernah terjun ke dalam sebuah pertempuran."


"Tapi Luk, bagaimanapun dia saudaraku. Aku akan selalu mengkhawatirkannya."


"Aku tahu tetapi aku janji akan membawa Nathan dalam keadaan selamat meski nyawaku pun yang menjadi taruhannya," ucap Lukas dengan bersungguh-sungguh sedang Tristan matanya tampak berkaca-kaca. Kalau saja dia tidak ikut mengejar Nela tadi dan tidak meninggalkan Nathan seorang diri di kamar hal ini tidak akan pernah terjadi. Baik Tristan maupun Lukas memiliki pikiran yang sama.


Lukas menepuk pundak Tristan. "Sudahlah kau hati-hati, aku akan pergi. Jangan khawatir mertua Nathan, om Felix juga ikut membantu." Setelah berkata seperti itu Lukas langsung berlari ke luar.


"Ini pak markas mereka." Felix memberitahu para polisi.


"Kepung tempat ini!"


Tidak lama kemudian Maximus datang dan langsung membuka sandi pintu.


Felix menepuk pundak Maximus sehingga pria tersebut tampak kaget.


"Kau sudah tahu perihal anak buah Tuan Smith yang berkhianat?"


"Tidak tahu, yang aku tahu hanya harus memindahkan barang-barang kita karena Tuan Smith mengatakan tempat ini sudah tidak aman."


"Sepertinya tidak perlu repot-repot, kita hanya perlu menghabisi siapa dari mereka yang datang karena kedatangannya untuk menguasai obat-obatan ini."


"Siapa yang akan datang?" tanya Maximus sedikit bingung. Pasalnya sebelum menjelaskan Tuan Smith langsung menutup panggilan teleponnya.


"Para pengkhianat."


Maximus hanya mengangguk dan ketika teman-temannya datang untuk membantu memindahkan obat-obatan terlarang tersebut agar sudah berpindah sebelum ditemukan para polisi, dia malah mengikuti gerakan Felix menembak setiap ada yang datang.


Hingga beberapa saat setelah Tuan Smith datang, pria itu terlihat murka karena anak buahnya sudah banyak tergeletak di tanah dalam keadaan tak bernyawa.


"Bre*gsek! Kalian ternyata sudah bekerjasama," teriak Tuan Smith dengan murka.


Dor.


Satu tembakan terarah ke sisi mereka tetapi keduanya berhasil menghindar.

__ADS_1


Dor-dor-dor.


Tembakan selanjutnya membabi buta hingga semua anggota polisi keluar dari persembunyiannya dan melakukan aksi perlawanan kembali.


Maximus tampak bingung dengan keadaan. Bagaimana mungkin tak ada satu orang yang mau menjelaskan kepadanya.


"Siapa di sini yang pengkhianat?"


Dari keadaan dia menyimpulkan bahwa Felix lah yang telah berkhianat tetapi saat menyadari semuanya sudah terlambat sebuah teriakan dan bunyi tembakan terdengar samar-samar di telinganya.


"Pengkhianat!"


Dor-dor-dor.


Sebuah peluru telah berhasil bersarang di dadanya dan peluru tersebut berasal dari Tuan Smith.


"Max!" teriak Felix hendak mendekat. Namun naas satu buah peluru malah mengenai kepalanya hingga ia tak sadarkan diri.


"Felix!" Sekarang Maximus yang berteriak meski suaranya tercekik.


Beberapa anggota polisi segera mendekat untuk melakukan pertolongan dan sebagian lain masih melakukan perlawanan.


Melihat para polisi mendekat, Maximus merangkak menjauh dari tubuh Felix. Bagaimana pun dia tidak ingin tertangkap setelah kejahatan yang selama ini dia lakukan. Dengan menahan rasa sakit yang begitu sangat ia menyeret tubuhnya menuju mobil yang terdekat, yaitu mobil Tuan Smith yang sekarang tampak kosong.


Dengan susah payah dia masuk ke dalam mobil dan menyetir meski langkah mobil tidak bisa stabil karena pengemudinya yang tidak bisa menjaga keseimbangan laju mobil akibat rasa panas seperti terbakar di sekitar perutnya.


Di tengah perjalanan Nathan yang ada di dalam mobil tersebut tampak tersadar dari pingsannya.


"Aku dimana?" Nathan tampak mengucek matanya dan melihat keadaan sekitar.


"Aku di dalam mobil?" gumamnya.


"Dia?" Nathan refleks menutup mulutnya kala melihat orang yang mengemudikan mobil dalam keadaan terluka. Karena penasaran ia bersembunyi di belakang dan berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan pria itu sebenarnya.


"Felix kenapa kau melakukan ini semua? Kau yang berkhianat malah menuduh yang lain berkhianat," keluhnya.


Nathan membelalak mendengar nama mertuanya di sebut.


"Kalau tidak Tuan Smith tidak akan melakukan ini dan kita tidak akan seperti ini. Aakkkh sakit sekali." Mobil sedikit oleng.


Nathan semakin mengerti kala nama Tuan Smith disebut.


"Berarti dia salah satu anggota komplotan mafia seperti daddy."


Dengan bekerja keras mobil pun sampai di halaman rumah Maximus. Nathan terbelalak kembali melihat rumah yang terpampang di hadapannya.


"Rumah ini bukankah yang ada wanita mudanya dengan seorang anak yang tampak ketakutan? Kalau tidak salah di belakang rumah ini terdapat rumah lain yang digunakan untuk menyekap Chexil waktu itu. Mungkin Chexil sekarang juga ada di sini. Aku harus menyelidikinya," batin Nathan.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


Waktunya iklan ya, kali ini othor akan merekomendasikan novel yang berjudul Dosen Tampan Pemikat hatiku karya Ippiieee yuk kepoin dijamin ceritanya seru abis.

__ADS_1



__ADS_2