
Minggu pagi Tristan tampak masih bermalas-malasan di kasur. Dia berguling ke kanan dan ke kiri tak tahu apa yang harus dilakukannya padahal matahari sudah mulai meninggi.
Tok tok tok.
"Tris bangun dong udah siang ini. Semua orang sudah berkumpul di ruang makan cuma nunggu kamu saja." Terdengar suara Isyana dari luar pintu.
Tak ada jawaban sepertinya Tristan sedang galau. Dia memandangi foto gadis kecilnya yang tertangkap kamera sedang bermesraan dengan seorang pria.
"Padahal masih bocah. Aaagh." Tristan melempar ponselnya sembarangan.
"Tris! Nak!" panggil Isyana lagi.
"Mama sama yang lain sarapan saja duluan biar Tristan nanti ambil makan sendiri."
"Baiklah kalau begitu, tetapi apa kamu hari ini tidak ada acara Tris?"
"Tidak ada Ma. Makanya hari ini Tris mau istirahat total, jangan diganggu ya Ma."
"Oke, istirahatlah." Isyana berjalan meninggalkan kamar Tristan. Wanita itu mengerti bahwa Tristan memang membutuhkan istirahat yang banyak mengingat putranya yang satu ini selalu sibuk dengan pekerjaannya ditambah lagi dia juga masih kuliah.
Tristan mengambil ponselnya lagi, mengusap-usap layarnya barangkali ada yang retak.
"Masih bagus ternyata." Tristan menghela nafas kemudian membuka galeri dan memandang foto Dilvara yang sempat ia koleksi. Mulai dari kecil hingga gadis itu beranjak remaja.
"Apakah etis jika aku mengatakan perasaanku sekarang? Apa om Dion tidak pernah mengatakan pada gadis itu bahwa aku menyukainya? Aargh." Tristan meraup wajahnya kasar.
Tiba-tiba ia teringat ucapan Chexil tempo hari saat menimpali gombalannya.
Mobil apa yang bikin galau?
Mobilang cinta tapi sayang sudah ditolak duluan.
"Benar kata Chexil, sekarang aku sudah merasakannya." Ia tersenyum kecut.
"Mengapa aku bisa sedalam ini menyukaimu? Padahal masih banyak wanita lain yang lebih cantik darimu, termasuk Chexil itu." Tristan juga mengingat bagaimana Jessica sempat mengutarakan perasaannya pada Tristan tetapi terpaksa dia tolak karena tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
"Namun, mengapa dari sekian wanita itu tidak ada satupun yang dapat mengalihkan perasaanku terhadapmu?" Tristan masih bermonolog.
"Tidak ... tidak dia tetap harus menjadi milikku bagaimanapun caranya. Bukankah dia belum menolakku? Aku harus mengatakan perasaanku sebelum terlambat," batin Tristan.
Ia segera bangkit, masuk kamar mandi kemudian berpakaian rapi. Setelah menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum ia segera bergegas keluar kamar hendak menyambangi kediaman Dion.
"Tris mau kemana? Katanya hari ini tidak ada jadwal," protes Isyana saat melihat putranya melewati meja makan.
"Ada kepentingan mendadak Ma," jawab Tristan.
"Makan dulu gih."
"Nggak usah Ma biar Tris makan di luar saja."
"Abang ini bandel juga ya masa nolak permintaan mama. Giliran Chila yang nggak makan ceramahnya panjang ngalahin kereta api," protes Chila.
"Benar kata adik kamu Tris, sebaiknya kamu sempatkan sarapan dengan keluarga kecuali memang karena terdesak dan benar-benar terburu-buru."
"Baiklah Pa." Karena tidak enak akhirnya Tristan duduk dan ikut sarapan. Di sepanjang makannya dia tidak bicara. Biasanya dia paling berisik di meja makan bersama Chila.
Nathan memandang wajah Tristan. Dari raut wajahnya, pria itu tahu bahwa adiknya sedang ada masalah. Namun ia tidak berani bertanya. Selama Tristan tidak bercerita padanya Nathan yakin bahwa adiknya itu bisa menangani masalahnya sendiri.
"Abang kenapa tidak sholat berjamaah?" tanya Chila setelah mereka sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Abang sholat di kamar," jawab Tristan cepat. Dia yang memang suka memberikan nasehat kepada sang adik selalu mendapatkan protes apabila dia tidak bisa memberikan contoh pada adiknya tersebut.
"Bilang aja Abang bohong. Abang tidak sholat subuh kan," tebak Chila lagi. Anak itu memang sering membuat Tristan jengkel.
__ADS_1
Berbeda dengan Nathan yang tidak ingin Chila dekati karena sikapnya yang dingin, Tristan selalu menjadi temannya untuk berdebat ketika di rumah karena mereka berdua terbilang dekat.
"Abang lagi datang bulan," jawab Tristan sembarangan dan langsung bangkit dari duduknya.
"Tris pergi Ma, Pa dan yang lainnya," pamit Tristan. Sebelum ada yang menjawab Tristan sudah berjalan menjauhi mereka.
"Hati-hati boy," teriak Zidane.
Chila ingin protes namun ditahan oleh Nathan. Melihat Nathan menggeleng saja Chila langsung diam karena takut.
"Nak Syasa tahu, kenapa dia jadi pendiam bagitu?" tanya Laras yang penasaran karena cucu yang biasanya menjadikan suasana jadi ramai tiba-tiba jadi kalem.
"Syasa tidak tahu Ma."
"Kamu tahu Nath?" Isyana beralih bertanya pada Nathan.
"Tidak juga Ma. Dia tidak pernah cerita."
"Apa ada masalah ya dengan pekerjaannya?" gumam Isyana.
"Mas kamu bantu dong." Kini Isyana berkata pada Zidane.
"Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri dulu kalau gagal baru kita bantu," ujar Zidane.
"Kamu benar Nak, jangan langsung dibantu biar tidak manja dan terbiasa mengandalkan bantuan orang lain. Apalagi dia anak laki-laki," sambung tuan Alberto.
"Iya Pa," jawab Zidane.
"Nath kamu tolong tanyakan ya pada adik kamu ada masalah apa. Mama takut masalahnya serius."
"Baik Ma."
🌟🌟🌟🌟🌟
Ia memandang nama yang tertera di layar ponselnya. "Dimas, ada apa dia pagi-pagi menelpon?"
📱"Halo Dim ada sih pagi-pagi begini menelponku?
📱"Kenapa sih Tris kok sewot amat jawabnya? Apa lagi pms ya?" Dari seberang telepon Dimas terdengar cekikikan.
📱"Iya habisnya kamu ganggu aja."
📱"Aits ganggu, aku telepon karena ingin memberikan informasi."
📱"Kayak wartawan aja pake ngasih informasi segala. Emang penting?"
📱"Iyalah aku wartawannya, kamu presenternya." Dimas kini terkekeh.
📱"Katakan tidak usah berbelit-belit!"
📱"Ya ampun kok jadi gini sih. Apa jangan-jangan elo tertukar Sukma ya sama Abang lo."
Tristan mematikan ponselnya karena malas mendengar ocehan temannya itu.
Cling.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponselnya. Rupanya Dimas beralih mengirimkan pesan karena sambungan teleponnya diputus oleh Tristan.
Tristan membelalak melihat foto yang dikirimkan oleh Dimas. Ia kemudian menelpon Dimas kembali.
📱"Kirimkan alamatnya!"
Tak berselang lama terdengar notifikasi lagi. Tristan berpikir pasti itu dari Dimas dan dugaannya memang benar. Dimas mengirimkan alamat yang diminta oleh Tristan.
__ADS_1
Tristan naik ke atas motornya dan segera melajukan ke alamat yang Dimas kirim tadi. Dia tidak jadi ke rumah Dion karena gadis yang dicarinya ada di tempat itu.
Sampai di depan restoran, Dimas sudah menunggunya.
"Mana dia?"
"Di dalam Tris."
"Oke aku masuk."
Dimas mengangguk dan ikut melangkah ke dalam ruangan di belakang Tristan.
"Mana?" tanyanya lagi setelah tidak menemukan gadis kecilnya di sana.
"Tadi ada di situ," jawab Dimas sambil menunjuk sebuah meja. Matanya tampak mencari-cari orang yang dilihatnya tadi.
"Itu," tunjuk Dimas pada sebuah ruangan yang di desain romantis dan terhubung pada bagian luar restoran yang terlihat sejuk karena adanya taman yang ikut menambah kesan romantis.
Tristan menoleh, darahnya tiba-tiba mendidih karena melihat Dilvara yang sedang di peluk oleh seorang pria.
Tristan langsung berjalan cepat ke arah mereka. Dia hendak melepaskan pegangan tangan pria itu pada pinggang gadis kecilnya.
"Tristan." Terdegar suara seorang menyapa. Tristan menoleh, dia melihat beberapa orang menenteng kamera.
"Apa kamu juga diundang untuk membuat iklan di restoran ini?"
"Maksudnya?" Tristan tidak mengerti.
"Kami sedang mengambil foto dari berbagai anggel di restoran untuk dibuatkan iklan. Kebetulan restoran ini kan masih baru. Jadi pemilik ingin mengenalkan restoran ini kepada masyarakat banyak."
"Jadi mereka?"
"Oh ya mereka adalah model yang ditunjuk untuk mengenalkan tempat-tempat romantis yang ada di restoran ini."
"Oh begitu ya. Terima kasih ya atas informasinya."
"Ia sama-sama."
Tristan mundur kemudian berbalik ke luar ruangan. Di luar sana Dimas menunggu Tristan dengan senyuman yang dipaksakan.
"Dimas!" teriak Tristan kesal.
"Hehe ... maaf aku salah tangkap. Aku tidak tahu kalau mereka lagi foto syut."
Tristan menggeleng. "Lain kali kalau mau ngasih informasi ngasih yang jelas. Dasar wartawan gadungan." Keduanya hanya terkekeh.
"Eh Tris itu kan ...."
"Chexil."
"Iya benar sepertinya ia diikuti oleh penjahat."
"Kamu tunggu saja di sini biar saya yang menangani."
"Yakin Lo bisa melawan mereka sendiri? Elo kan bukan abang Lo?"
"Akan ku buktikan bahwa Tristan juga mampu menjadi pahlawan." Tristan berucap sambil mengepalkan tangannya seperti orang adu panco.
Dimas terkekeh. "Ya sudah buktikan sana biar nanti Dimas yang menilai."
"Oke kamu tunggu di sini."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏