Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 90.


__ADS_3

Sementara yang lain masuk ke dalam rumah Zidane menemui Pak Budi. Orang yang kemarin menolong putrinya yang kebetulan kedatangan dia beserta keluarganya bersamaan dengan kepulangan Zidane dan keluarga.


"Sebelum bekerja ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak," ucap Zidane.


"Baik Tuan."


"Bik tolong antarkan mereka ke kamar biar Pak Budi ini saya ajak ngobrol dulu."


"Baik Den." Bik Ina mengajak istri Pak Budi beserta dengan putrinya ke rumah yang ada di belakang.


"Mari ke sini Pak!" Zidane menggiring Pak Budi pada sebuah kursi yang terletak di depan rumah.


"Ada apa Tuan?" Pria itu khawatir dan menebak-nebak. Jangan-jangan pria di hadapannya tidak menyukai dirinya. Apalagi dirinya memboyong keluarganya untuk ikut tinggal di rumah itu.


"Duduk dulu!" Zidane menepuk kursi di depannya.


"Iya Tuan, terima kasih." Pria itu ikut duduk.


"Terima kasih telah menyelamatkan putri saya," ujar Zidane mengawali pembicaraan.


"Sama-sama Tuan."


"Saya dengar kemarin Bapak hampir kalah dengan para preman itu. Tubuh Bapak babak belur. Bahkan kata Chila Bapak hampir putus asa untuk melawan mereka. Apa yang membuat Bapak bisa bangkit lagi? Kenapa Bapak tidak meninggalkan Chila kemarin?"


"Pertama menolong sesama manusia itu adalah kewajiban kita. Yang kedua saya dulu tidak bisa menyelamatkan putra sulung saya jadi kali ini saya bertekad harus bisa menyelamatkan putri Tuan."


"Putra Bapak?"


"Ya mereka telah membunuh putra saya karena tidak mau menyerahkan uang hasil mengamin dan saat saya datang semua sudah terlambat. Putra saya telah tiada."


"Saya ikut bersimpati, tetapi kenapa Bapak tidak melaporkan mereka kepada polisi?"


"Saya tidak berani karena mereka mengancam akan membunuh putriku kalau sampai melapor. Kemarin saja saat saya menyelamatkan dan membawa putri Tuan ke sini, istri dan putriku dikejar-kejar oleh mereka. Syukurlah keduanya bisa melarikan diri dari kejaran mereka."


"Syukurlah, berarti keluarga Bapak sudah aman karena tinggal di sini. Bapak mau membantu saya agar mereka bisa ditangkap dengan mudah oleh polisi? Saya yakin Bapak pasti tahu dimana saja mereka mangkal dan mencari mangsa."


"Iya Tuan saya tahu. Saya akan membantu."


"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi!"


✨✨✨✨✨


10 bulan kemudian.


Di rumah sakit Nathan tampak bicara dengan seorang dokter kandungan.


"Kandungan istri Bapak sudah melebihi bulan. Ini sudah lebih dari 42 Minggu dan air ketubannya sudah mulai berkurang. Saya sarankan kita melakukan operasi saja."


"Tidak ada cara yang lain Dok? Istri saya sangat ingin melahirkan secara normal. Dia sama sekali tidak ingin dioperasi."


"Ada, tetapi resikonya lebih besar dibandingkan operasi."


"Apa itu Dok?"


"Dengan induksi yaitu merangsang agar pintu rahim terbuka dan bayi akan lahir secara normal."


"Iya Dok saya mau di induksi," jawab Chexil yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Nathan dengan dokter kandungan. Padahal dokter kandungan itu belum selesai menjelaskan.


Dokter kandungan dan Nathan sama-sama menoleh ke arah Chexil.


"Di caesar saja ya sayang. Kalau di induksi takut kamu merasa sakit nanti," rayu Nathan. Bukan karena apa Nathan memilih operasi karena ia tidak tega melihat tubuh Chexil yang seakan lemah.


"Pokoknya aku mau lahir normal, aku takut operasi."


"Tapi aku lebih takut melihatmu di induksi," ujar Nathan.


"Nggak apa-apa aman kan ya Dokter?"


"Bagaimana Pak?" Dokter tidak menjawab malah meminta persetujuan pada Nathan.


"Aman tidak Dok?" tanya Nathan.


"Sejauh ini sih aman tapi tergantung kondisi bumil juga sih. Kalau aku lihat istri Bapak seperti mampu untuk di induksi."


"Baiklah Dokter bagaimana yang terbaik saja."


***


"Bagaimana Dokter, ini sudah lama mengapa bayinya belum keluar juga?" Nathan tampak khawatir melihat Chexil begitu gelisah, sedang masih belum ada tanda-tanda bayinya mau keluar.

__ADS_1


"Sayang, aku kehabisan nafas," ujar Chexil pada Nathan dengan suara yang mulai melemah.


"Bagaimana ini Dokter?" tanya Nathan gusar sedang dia hanya sendiri dari keluarga yang menemani persalinan sang istri di dalam ruangan. Keluarga yang lain menunggu di luar bahkan Karla pun tidak diizinkan masuk ke dalam oleh Chexil dengan alasan malu.


"Tenang saya akan memasang tabung oksigen untuk membantunya bernafas."


Nathan mengangguk tetapi dalam hati masih ketar-ketir. Bagaimana kalau bukan cuma bayinya yang tidak bisa diselamatkan? Bagaimana kalau Chexil juga? Rasa takut menghantuinya dalam hati.


Ya Tuhan jangan pisahkan kami. Selamatkan dia dengan cara apapun.


Jam demi jam terlewati begitu saja, tetapi belum ada tangisan bayi. Keluarga yang ada di luar menjadi gelisah hingga terpaksa Karla dan Isyana ikut masuk ke dalam.


"Bagaimana Nath?" tanya Isyana mendekat.


"Nggak tahu Ma." Nathan sudah terlihat berurai air mata melihat Chexil begitu lemah bahkan sampai saat ini dia sudah menghabiskan tiga tabung oksigen dan beberapa botol infus.


Dokter kandungan pun sudah terlihat gusar. Tidak pernah ia menangani pasien selama ini. Biasanya ketika ia melakukan induksi kepada bumil selalu saja berhasil. Namun kali ini sudah berjam-jam belum ada tanda-tanda keberhasilan.


"Apa tidak bisa dialihkan ke operasi Dok?" tanya Karla.


"Bisa Nyonya asal keluarga setuju."


"Kalau begitu operasi saja Dok saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri saya." Akhirnya Nathan memutuskan jalan operasi meskipun itu sangat bertentangan dengan keinginan sang istri.


"Baiklah kalau begitu kita akan pindahkan pasien ke ruangan operasi."


"Secepatnya Dokter. Tolong selamatkan istri saya," mohon Nathan.


Saat Chexil masuk ke dalam ruangan operasi semua keluarga yang menunggu di luar tampak khawatir dan gelisah. Hingga saat terdengar suara tangisan bayi mereka baru bisa bernafas lega.


Beberapa saat kemudian seorang suster tampak membuka pintu dengan menggendong seorang bayi.


"Bayi dari mantu saya Sus?" tanya Isyana. Saking khawatirnya malah bertanya bayi siapa padahal sudah jelas-jelas yang dioperasi di dalam adalah Chexil.


"Bayi Nyonya Chexil," ucap suster itu sambil berlalu pergi.


"Jeng aku mau lihat cucu kita dulu ya," ucap Isyana pada Karla. Wanita itu hanya mengangguk tak bersemangat karena pikirannya kini masih fokus pada Chexil.


Begitupun dengan Nathan dia sama sekali tidak bergerak dari samping Chexil. Rasa takut akan kehilangan Chexil lagi menderanya, dan kalau kehilangan yang sekarang akan lebih menyakitkan hatinya. Karena dia tidak mungkin bisa bersua kembali.


"Nath ini putramu ayo di adzani dulu sebelum diletakkan di box bayi," ujar Isyana.


"Eh cowok ya Ma?"


Nathan menggeleng, Isyana pun ikut menggeleng. "Aneh kamu Nath."


"Ma Chexil bagaimana?"


"Tenanglah nanti juga dia sadar. Ini bayimu dulu."


"Iya Ma." Akhirnya Nathan mengambil putranya dari gendongan mamanya dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.


"Mau dikasih nama siapa?"


"Tunggu Chexil sadar aja deh Ma, biar dia yang ngasih nama."


Sudah 24 jam Chexil belum sadar juga. Nathan dan Karla tetap tidak ingin beranjak dari sampingnya.


"Mom bagaimana ini? Seharusnya dia sudah sadar kan Mom? Apa yang harus kita lakukan?"


"Mommy juga tidak tahu," jawab Karla dengan raut muka yang sedih.


"Sudah tenang nanti juga dia sadar. Kita hanya perlu bersabar." Felix menepuk pundak istrinya.


"Tapi kapan Dad?" tanya Nathan. Pikirannya sudah tampak kacau.


"Lima belas menit lagi," jawab Felix.


Beberapa saat Isyana dan Zidane masuk ke dalam ruangan bersama dengan cucu pertamanya. Sengaja Isyana membawa cucunya itu agar semua orang bisa sedikit melupakan kesedihan karena Chexil belum sadar juga.


Benar saja untuk sementara semua pandangan beralih kepada putra kecil Nathan itu. Mereka mencoba mengajak bayi itu berbicara meski belum bisa merespon.


Hingga 15 menit kemudian Nathan menggendong putranya itu dan mendekati Chexil.


"Sayang bangunin Mommy dong biar cepat bangun dari tidurnya!" Nathan mencolek-colek pipi putra kecilnya itu.


"Hoek ... hoek." Manjur juga bayi itu tangisannya memenuhi ruangan hingga Chexil mengerjapkan mata dan membukanya.


Pandangannya menyusuri ruangan hingga berhenti pada Nathan yang menggendong bayi.

__ADS_1


"Sayang itu bayi siapa?" tanya Chexil bingung. Mungkin pengaruh anestesi atau karena ia tadi pingsan sebelum bayinya keluar.


Nathan tersenyum karena akhirnya Chexil mau membuka mata. "Bayi kita, memang bayi siapa lagi?"


"Benarkah?" Chexil memandang wajah Nathan dengan serius. Nathan terlihat mengangguk bahkan semua orang juga mengangguk.


Chexil melihat ke perutnya sendiri yang sudah tidak buncit lalu tersenyum.


"Sini aku mau lihat putri kita."


"Cowok bukan cewek," ucap Nathan.


Chexil terlihat kaget. "Bukankah waktu itu hasilnya USG-nya cewek ya."


"Ya, mungkin pas di USG putra kita menyembunyikan alat kelaminnya. Jadi tidak terdeteksi kalau dia cowok."


"Sini aku mau lihat!"


"Jagoan Daddy sama Mommy dulu ya biar Mommy tidak tidur lama lagi." Nathan memberikan bayinya pada Chexil.


"Memangnya aku tidur berapa lama sih sayang?" tanya Chexil penasaran.


"24 jam. Kamu tahu tidak kau membuatku khawatir."


"Benar Mom?"


"Bukan tidur tapi pingsan," sahut Karla.


Chexil memandang semua wajah yang ada dalam ruangan itu satu persatu. Semua ada tanda-tanda bahwa mereka habis menangis.


"Kalian semua nangisin Chexil?"


"Iya kecuali papa sama Felix," jawab Zidane terkekeh.


"Papa sama Daddy nggak sayang ya sama Chexil?" tanya Chexil sambil membelai pipi putra kecilnya itu.


"Bukan nggak sayang tapi sangat yakin kalau kamu pasti selamat dan akan sadar," jawab Zidane.


"Bagaimana bisa yakin?"


"Kalau Daddy kamu sudah menebak kemungkinan besar akan terjadi," jawab Zidane.


"Daddy sekarang jadi peramal ya?"


"Ah nggak kebetulan saja benar," jawab Felix. "Daddy sudah pasrah dengan takdir Tuhan. Kalau Tuhan memang ingin kamu hidup maka dengan apapun kamu akan tetap hidup begitupun sebaliknya."


"Dan tadi juga kebetulan ya, Lima belas menit lagi Chexil akan sadar dan memang terjadi. Sepertinya kau memang punya indra keenam ya," goda Zidane membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengganti tangis mereka dengan tawa.


Pintu ruangan nampak ada yang membuka. Terlihat Tristan berjalan ke arah Nathan sambil menggandeng Fazila.


"Hei kapan balik?" tanya Nathan.


"Kemarin sore Bang Tris datang ke pesantren dan meminta izin agar bisa membawaku pulang. Selamat ya Bang, Kak. Kalian sudah menjadi orang tua."


"Makasih Chila," ucap Nathan.


"Makasih Sayang," jawab Chexil.


"Selamat ya Bang. Selamat ya Xil. Nanti kalau sudah bisa bicara kasih tahu anakmu mana yang ayahnya mana yang Omnya. Kan nggak asyik kalau dia memanggilku ayah sedang aku masih muda seperti ini."


"Hmm, mulai nih Abang," protes Fazila.


"Tenang nanti aku kasih tahu dia. Bahwa yang berdiri di hadapannya adalah om muda yang syok ganteng," ucap Chexil.


"Ya, payah loh Xil. Ini mah emang ganteng beneran. Eh tunggu-tunggu! Kok dia lebih mirip aku sih dari pada Abang?"


"Iya karena saat aku hamil kalau lihat kamu itu ngeselin dan bawaannya pengen muntah," ucap Chexil cemberut.


"Astagfirullah hal adzim."


Nathan tertawa melihat ekspresi Tristan yang menunjukkan raut wajah tidak suka. Begitupun dengan yang lainnya.


"Rasain."


 ---------------------------------------------------


Terima kasih untuk kalian semua yang telah meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Maafkan kalau ada tulisan yang tidak berkenan di hati pembaca. Ambil sisi positif dan buang negatifnya. Maafkan juga atas frekuensi update yang tidak teratur. Nasehat Othor untuk kalian semua, bijaklah berkomentar di novel siapapun yang kalian baca. Lebih baik skip dan tinggalkan kalau sekiranya tidak suka daripada harus meninggalkan jejak yang membuat Author down. Silahkan berikan masukan dengan sopan kalau memang ada yang kalian ingin koreksi ataupun ingin memberikan ide. Sampai di sini dulu ya.


Salam 🙏

__ADS_1


***. Wr. Wb


TAMAT


__ADS_2