
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Xil. Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu. Ah kenapa harus seperti ini?" Nathan terduduk lemas di atas sofa sambil meraup wajahnya dengan tangan kanan.
"Xil maafkan aku," ucapnya dengan penuh sesal.
Sementara Chexil setelah keluar dari kamar, dengan langkah yang terseok-seok ia menyeret kopernya masuk ke dalam lift kemudian ia keluar dari apartemen, langsung masuk ke dalam taksi online yang sempat dipesannya tadi.
Chexil sempat melihat punggung Nathan yang berlari-lari menuju apartemen. Namun, dia tidak perduli. Kekecewaannya pada sikap Nathan sudah teramat dalam. Dia tidak ingin lagi menambah luka dalam hatinya karena terlalu banyak berharap.
Chexil mengusap air matanya lalu memalingkan muka. Dia tidak ingin goyah hanya karena melihat tubuh sang suami.
Taksi melaju mulus di jalanan hingga melintasi sebuah kafe yang ramai dengan anak-anak muda.
Chexil baru sadar belum makan siang tatkala terasa perutnya keroncongan.
"Pak bisa berhenti di sini!" perintahnya pada sopir taksi.
Sopir pun menurut. Dia menghentikan mobilnya dan menurunkan Chexil di depan kafe tersebut. Sebelum turun dari taksi terlebih dahulu Chexil mengoleskan bedak di pipinya untuk menyamarkan bekas dia menangis tadi.
"Mbak, kok ramai sekali, ada apa ya?" tanyanya pada seorang yang memakai baju pelayan.
"Begini loh Mbak, tempat ini kan baru dibuka, jadi pemilik tempat ini memberikan makanan gratis kepada pengunjung dalam waktu sehari ini saja. Mereka juga mengundang beberapa artis ibu kota dalam acara pembukaan kafe tersebut."
"Oh gitu ya Mbak, pantesan orang-orang pada antusias masuk ke tempat ini."
"Iya Mbak, silahkan masuk!"
"Terima kasih, Mbak."
Wah lumayan nih dapat makanan gratis.
Benar saja saat masuk ke dalam kafe, dia langsung disuguhkan dengan penampilan penyanyi ibu kota yang memiliki suara-suara merdu. Namun, Chexil tidak perduli, yang ia butuhkan sekarang hanya makan bukan melihat pertunjukan.
Chexil masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk di sebuah pojok ruangan. Ia meletakkan kopernya di belakang ia duduk.
Beberapa saat waiters datang menanyakan pesanan makanan. Chexil pun memesan makanan berat karena tubuhnya teramat lapar.
Tidak menunggu lama pesanan pun datang. Ternyata pemilik kafe sudah mengantisipasi bahwa pengunjung bakalan membludak hari itu dengan menyiapkan banyak pelayan sehingga mereka tidak keteteran melayani pengunjung.
Chexil pun antusias melahap makanannya. Selain rasa lapar yang didera, dia pun harus mengembalikan stamina tubuhnya yang sekarang nampak lemah.
"Hei kamu kok di sini?" tanya Fani ketika melihat Chexil duduk dan menyantap makanan.
"Fani? Kamu juga kok ada di sini? Bukannya tadi kalian jualan di tempat lain ya?" Chexil malah balik bertanya.
"Iya Xil, tapi karena kami dengar di sini ramai jadi kami pindah ke sini deh. Jadi SPG tuh harus bisa membaca pasar. Dimana yang lebih ramai ya kita hampiri," ujar Fani terkekeh.
"Iya-iya kamu benar. Nggak mau makan? Ini gratis loh."
"Sudah tadi. Ngomong-ngomong kamu tadi, kan sama Nathan. Dimana tuh orang?"
"Oh, dia pergi ke toilet tadi," sahut Chexil berbohong.
Kali ini dia tidak ingin ada seorangpun yang tahu dirinya akan kemana. Selain dia tidak tahu harus kemana juga berpotensi mereka memberi tahu Nathan tentang keberadaannya nanti. Untung saja koper yang dia letakkan terhalang oleh pot bunga hias yang besar sehingga tidak jelas terlihat.
"Mbak sini!" panggil seorang wanita pada Fani. Ada beberapa wanita yang berkumpul di sisinya.
__ADS_1
"Aku ke sana dulu ya Xil, sepertinya bakal laris nih produk."
"Iya sana, semangat dan semoga benar-benar laris."
"Siap Xil," ujar Fani sambil melangkah pergi.
Saat mereka berbincang-bincang pemandu acara mempersilahkan seseorang untuk naik ke atas panggung untuk menggantikan artis sebelumnya.
Seperti biasa, Chexil tidak memperdulikan semuanya karena setelah Fani pergi dia fokus menyantap makanannya kembali.
Hingga akhirnya Chexil terdiam tatkala pemilik suara di atas panggung menyanyikan lagu yang menyentuh ke dalam hatinya.
Bagaimana mestinya
Membuatmu jatuh hati kepadaku?
T'lah kutuliskan sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku
Haruskah ku mati karenamu?
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku?
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku
Untuk memilikimu
Dalam palung jiwamu mengetukku?
Ajarkanmu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku
Haruskah ku mati karenamu?
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku?
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku
Untuk memilikimu
Tiadakah ruang di hatimu untukku
__ADS_1
Yang mungkin bisa 'tuk kusinggahi?
Hanya sekedar penyejuk disaat kulayu
Ku s'lalu menantimu hingga akhir masa, oh
( Lagu ini dipopulerkan oleh Ada Band, salah satu band ternama di tanah air yang berjudul Haruskahku Mati).
Tanpa sadar lagu itu mengingatkan Chexil akan perjuangannya mendapatkan hati sang suami selama ini. Saat-saat bersama Nathan, kembali terbayang di ingatannya. Mulai ia baru pertama kali bertemu, saat dia mendapatkan pertolongan, pernikahan, semua tuduhan hingga kini ia memutuskan untuk pergi dari kehidupannya.
Akhirnya bulu mata yang lentik itu harus basah lagi dan pipi yang telah teroles dengan make up itu harus kembali dibanjiri oleh air mata.
"Tuhan kuatkan aku," doanya pada Tuhan di dalam hati.
Selama menangis ia tidak memperdulikan sekitar. Beberapa orang memandang kepadanya dan berpikir wanita itu menjiwai lagu tersebut hingga meneteskan air mata.
Chexil sampai tidak sadar bahwa lagu itu sudah berakhir karena ingatannya belum berakhir.
"Xil!" Seseorang menepuk pundak Chexil dan duduk di kursi di depannya.
Chexil terperanjat melihat siapa yang duduk di depannya kini. Namun, beberapa saat kemudian dia langsung tersadar bahwa orang yang ada di depannya bukanlah Nathan, sang suami melainkan Tristan sang adik ipar.
"Tris kamu disini?" tanya Chexil dan langsung mengusap air matanya.
Tristan mengernyit. "Jadi kamu tidak tahu kalau yang tadi nyanyi itu aku?"
Chexil menggeleng.
Tristan menilik wajah Chexil. Dia baru sadar kalau wanita itu baru saja menangis.
"Kamu menangis? Apa Abang nyakitin kamu lagi?"
Chexil menggeleng. "Tidak Tris," bohongnya.
"Terus kenapa kamu menangis?"
"Aku hanya menjiwai lagu yang kamu nyanyikan saja. Kamu hebat Tris bisa bikin orang baper dengan lagumu," kilahnya.
"Kamu tidak berbohong kan, Xil?"
Chexil menggeleng.
"Pasti itu karena seperti kisahmu sama Abang dulu ya Xil. Sekarang tidak lagi, kan?"
"Tidak Tris, sekarang Abangmu sudah baik kok."
"Syukurlah kalau begitu." Tristan menghela nafas lega.
"Tris!" Seseorang lalu memanggil Tristan.
"Aku ke sana dulu ya Xil. Jangan kemana-mana! Nanti aku balik ke sini lagi."
Chexil mengangguk tetapi saat Tristan pergi, dia buru-buru mengambil koper dan pergi dari tempat tersebut dengan terburu-buru.
Bersambung.
__ADS_1