
Esok hari Nathan langsung memboyong sang istri ke rumah utama. Dia melarang Chexil untuk membawa baju-baju mereka karena dia sudah menyuruh seseorang untuk membawanya nanti ke apartemen. Ya dia memang tidak bermaksud menginap di rumah utama. Kedatangannya hanya untuk mengunjungi orang tuanya sekaligus ingin meminta izin kepada Tristan untuk menggunakan apartemen karena apartemen tersebut dibeli dengan uang bersama sewaktu mereka masih kecil.
"Wei pengantin baru datang," ujar Tristan menyambut kedatangan Nathan dan kakak iparnya.
"Hai kakak cantik sudah bikin ponakan buat Chila belum?" tanya Chila dengan polosnya membuat Chexil salah tingkah dengan perkatan gadis cilik itu.
"Emangnya Abang janji bikinin ponakan buat Chila?" tanya balik Nathan.
"Katanya kalau udah nikah itu harus bikin dedek bayi," ujar Chila sambil menunduk karena takut pada Nathan.
"Kata siapa?" tanya Nathan sambil menggendong adiknya itu. Sejak waktu Chila meminta tolong mengerjakan pr mereka sudah lumayan dekat, tetapi sayang terkadang Chila masih merasa sedikit canggung pada Nathan karena sikapnya yang kaku.
"Kata Abang Tris," jawab Chila dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Nathan hanya memandangi Tristan sekilas yang nampak terkekeh.
"Ayo masuk Bang, Xil, kebetulan mama dan papa ada di rumah," ujar Tristan
Nathan dan Chexil hanya mengangguk, kemudian Tristan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah diikuti keduanya.
Sampai di dalam orang-orang menyambutnya dengan suka cita. Nathan menurunkan Chila pada sebuah sofa.
"Jadi sekarang kalian sudah mau tinggal di sini?" tanya Isyana saat keduanya sudah duduk.
"Nggak kurang lama ya nginap di hotelnya?" tanya Laras.
Chexil hanya diam, dia tidak tahu keinginan sang suami yang sebenarnya. Kemarin Nathan mengatakan akan pulang ke rumah tetapi saat berangkat tadi dia bilang akan tinggal di apartemen. Yang mana yang benar Chexil tidak tahu. Dia hanya pasrah pada sang suami kemanakah dia akan dibawa. Dia hanya bisa menurut saja.
"Sebenarnya kami ke sini bukan mau tinggal di rumah ini tapi kami mau meminta izin kepada mama sama papa juga Tristan untuk diizinkan tinggal di apartemen," tutur Nathan.
"Loh kok minta izin sama aku sih Bang," protes Tristan.
"Kan apartemen itu milikmu, nanti kalau Abang sudah beli kami akan langsung pindah," jelas Nathan.
"Jangan begitulah Bang itu milik Abang juga. Jadi tempati aja nggak perlu beli, daripada mubazir nggak kepakai," terang Tristan.
Nathan mengangguk. "Kalau menurut mama sama papa?" tanyanya kemudian pada kedua orang tuanya.
"Kalau mama sih terserah baiknya saja. Kalau menurut kalian lebih enak di sana ya tinggal di sana kalau lebih enak di sini ya lebih baik kalian tinggal di sini kumpul bareng kita-kita," ujar Isyana.
"Papa juga setuju dengan mama kamu," timpal Zidane.
"Oma sama Opa nggak ditanya nih," protes Laras.
"Menurut Oma?"
"Tinggal di sini saja biar tiap hari bisa ketemu Oma sama Opa."
"Ma mereka butuh berduaan Ma, mereka kan masih pengantin baru," protes Zidane membuat pipi Chexil tiba-tiba memerah.
__ADS_1
"Oh iya Oma lupa, tapi malam ini nginap di sini dulu ya," pinta Laras.
Nathan memandang Chexil untuk meminta persetujuan dan Chexil yang mengerti langsung mengangguk.
🌟🌟🌟🌟🌟
Pagi-pagi nampak Nathan dan Chexil sudah menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi.
"Auw." Tiba-tiba saja Chexil terpeleset dan terjerembab di lantai.
Nathan membungkuk dan membantu Chexil berdiri. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Nathan khawatir.
"Tidak apa-apa kok," jawab Chexil.
"Benar tidak ada yang terluka?" Nathan mencoba memeriksa lutut Chexil.
"Tidak ada luka, aku baik-baik saja," ujar Chexil menghentikan gerakan tangan Nathan.
"Ya sudah kalau tidak ada, lain kali lebih hati-hati. Ayo ke bawah orang-orang sudah menunggu kita di ruang makan." Nathan mengulurkan tangan dan Chexil pun menerima uluran tangan Nathan hingga keduanya menuruni tangga dengan berpegangan tangan.
Sampai di lantai dasar Tristan yang ditugaskan sang oma untuk memanggil sepasang pengantin baru ke kamarnya berhenti melihat kemesraan keduanya.
"Cck, cck. Dasar pengantin baru kemana-mana nempel kayak perangko," protes Tristan.
"Abang Tris iri ya," goda Chila yang ternyata menguntit di belakang sang kakak.
"Kamu...."
"Dasar bocah lo." Tristan mendorong kepala sang adik karena kesal.
"Abang sakit tahu, awas nanti kalau Chila jadi anak bodoh berarti gara-gara Abang."
"Loh kok gara-gara Abang sih," protes Tristan.
"Bodoh ya bodoh sendiri, nggak usah bawa-bawa nama Abang."
"Ish kata teman-teman kalau kepala sering di dorong bisa menyebabkan kebodohan."
"Ilmu darimana tuh?"
"Dari kamus anak-anak, huek!" Chila berucap sambil menjulurkan lidah membuat Tristan mengejarnya.
"Sudah hentikan! Kalian disuruh memanggil Nathan kok malah main kejar-kejaran sendiri sih," protes Laras.
"Ini gara-gara Bang Tris iri sama Bang Nath Oma," terang Chila.
"Iri? Iri kenapa?" tanya Laras tak paham.
"Itu Bang Tris kepengen nikah juga Oma tapi sayang ceweknya masih bocah, hahaha...." Chila tertawa renyah membuat Tristan semakin dongkol.
__ADS_1
"Awas kamu ya kalau ada pr nggak boleh tanya Abang," ucap Tristan kesal.
"Biar nanti aku tanya mama atau Bang Nath saja."
"Cih mentang-mentang udah dekat sama Bang Nath. Dulu merengek-rengek sama Abang."
"Sudah-sudah tidak usah berdebat sekarang waktunya makan," ujar Isyana menenangkan kedua anaknya yang memang suka membuat kegaduhan di rumah.
"Tuh lihat Bang Nath sama Kak Chexil sudah menunggu kalian."
"Baik Ma," ujar keduanya serentak lalu semua memulai sarapan bersama.
Selesai sarapan Nathan dan Chexil berpamitan.
"Kalian serius mau pergi sekarang?" tanya Alberto.
"Iya Opa kami ingin hidup mandiri. Kalau tinggal bersama kalian semua kami takut tidak bisa berpikiran dewasa," terang Nathan.
"Cih takut tidak bisa jadi orang yang dewasa apa takut ada yang ganggu?"
"Tris!" seru Isyana.
"Bercanda Ma."
"Bercanda mulu nggak ada seriusnya," protes Isyana.
"Iya Ma," ujar Tristan sambil menunduk dan berusaha untuk diam membuat sang adik malah tertawa kencang.
"Chila!" seru Isyana yang langsung membuat bocah itu menghentikan aktivitas tawanya secara paksa.
"Iya Ma."
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian semua.
Karya: Ponn Ponn
Judul: Mengejar Cinta Guru Tampan
Blurb:
Nayra baru saja putus dengan sang pacar justru dipertemukan dengan seorang pria tampan yang menjadi guru baru di sekolahnya.
Nayra lama-kelamaan mulai jatuh Cinta dengan sang guru, walau umur mereka bedah jauh, tapi Nayra tidak peduli dengan itu, dia tetap akan terus mengejar Cintanya dengan sang guru tampan tersebut.
Akankah Cinta Nayra diterima? Atau justru Cintanya tersebut akan bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1