
Satu minggu berlalu.
Di kediaman Felix masih tampak ramai. Banyak orang-orang yang berobat kepada Felix
karena mendengar cerita orang-orang yang kemarin mencoba berobat dan ternyata sembuh.
"Nath besok mama akan bawa Opa kamu ke sana. Siapa tahu penyakit jantung Opa bisa sembuh atau paling tidak mendinganlah kalau dibawa berobat sama mertua kamu." Isyana Menelpon Nathan pada suatu malam.
"Coba aja Ma. Siapa tahu berhasil."
Esok hari Isyana menelpon Nathan kembali dan mengabari bahwa Opa Alberto akan dibawa ke kediaman Felix siang hari saat jam makan siang Zidane karena pria itu juga ingin ikut tanpa meninggalkan pekerjaan kantor.
"Ma, Chila nanti tidak langsung pulang ya. Chila mau ikut kak Dilvara ke rumahnya."
"Oke biar nanti pak sopir yang menjemput dan membawamu ke rumah Om Dion."
"Oh nggak usah Ma, aku langsung ikut mobil kak Dilvara saja biar nggak repot, kan kak Dilvara dijemput juga."
"Oke biar nanti pulangnya aja ya biar pak sopir yang jemput kamu ke rumah Om Dion."
"Oke siap." Gadis itu terlihat antusias.
"Mama nanti mungkin saja pulang malam atau kalau Opa disuruh nginep mungkin mama juga nginep, nemenin Oma Laras."
"Nggak masalah Ma, kan masih banyak orang di rumah."
"Iya."
"Ya sudah Ma, Chila berangkat sekolah dulu."
"Oke, hati-hati."
Pagi itupun Chila diantar sopir ke sekolah sedang Zidane sebelum berangkat ke kantor terlebih dahulu mampir ke rumah Felix untuk bicara langsung kepada besannya itu bahwa nanti siang akan membawa papanya. Sedangkan Tristan pagi itu tidak pulang ke rumah karena syuting sampai pagi.
***
"Yes, akhirnya aku ada waktu juga untuk menemui Dokter Davin."
"Ada apa senyum-senyum sendiri?" tanya Dilvara aneh melihat perubahan raut wajah Chila."
"Kakak ikut yuk nanti."
"Kemana?"
Fazila berbisik di telinga Dilvara.
"Ish, lagi kasmaran deh nih orang kayaknya."
Fazila hanya bersemu malu.
"Kakak pengen ikut sih cuma siang ini ada pemotretan."
"Ya, sayang dong."
Dilvara mengangguk.
__ADS_1
"Tapi aku pulangnya nanti tetap ikut kak Dilvara ya, dan aku nanti turun di rumah Dokter Davin. Satu lagi kak Dilvara harus bilang sama siapapun kalau Chila bersama kak Dilvara."
"Yakin? Tapi bisa nggak jaga diri? Kakak nggak mau loh disalahkan nanti kalau ada apa-apa."
"Tenang aja Kak, Chila akan jaga diri. Lagian Dokter Davin tuh orangnya baik kok."
"Baiklah kalau begitu."
Siang itupun saat Dilvara dijemput, Chila ikut dengannya sedangkan orang-orang di rumah, Laras, Isyana maupun Opa Alberto sudah dijemput oleh Zidane dan menuju ke rumah Felix untuk berobat.
"Kamu ikut ke rumah aja dulu ya, nanti baru aku antar pas menuju tempat pemotretan."
"Tapi ...."
"Sudah nurut sama kakak kalau kamu turun sekarang di rumah dokter itu, kakak khawatir Om Zidane atau Tante Isyana akan menelpon orang tuaku. Kan ribet kalau mereka lihat kamu tidak bersamaku."
"Oh ya benar juga ya Kak. Kalau begitu Chila nurut sama kak Dilvara aja."
"Oke bagus tapi ingat harus benar-benar jaga diri. Kadang orang yang terlihat baik dimata kita belum tentu hatinya baik."
"Iya Kak Chila ngerti. Terima kasih ya kak."
"Oke, sama-sama."
Mereka pun pulang ke rumah Dilvara. Setelah mandi dan ganti baju. Vania mengajak Chila dan putrinya untuk makan siang bersama.
"Sudah bilang sama orang tuamu untuk ikut Dilvara ke pemotretan?"
"Belum Tante cuma bilang ke sini tadi. Jadi kalau papa sama mama nelpon, Tante yang bilang aja ya."
Dilvara mengangguk dan siang itu kedua gadis ini pergi bersama lagi. Sebelum sampai ke tempat pemotretan terlebih dahulu Dilvara menurunkan Fazila di depan rumah Dokter Davin.
"Terima kasih ya Kak tapi nanti jangan lupa jemput Chila sebelum balik ke rumah biar tidak ada yang curiga."
"Oke siap."
Fazila pun turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke rumah Dokter Davin sedang mobil yang tadi ditumpanginya masih belum pergi.
Dilvara memang memerintahkan sopir supaya jangan mengemudikan mobil dulu sampai memastikan keadaan Fazila aman. Setelah pintu rumah Dokter Davin terbuka dan Fazila masuk ke dalam barulah Dilvara berkata, "Jalan Pak!"
"Baik Non."
Mobil pun melaju kembali dengan mulus di jalanan.
"Mau bertemu siapa?" Nenek Salma membuka pintu.
"Dokter Davinnya ada?"
"Oh, ada. Ayo silahkan masuk! Nenek mau panggil dia di kamar dulu."
Fazila mengangguk dan masuk ke dalam rumah lalu melihat-lihat keadaan dalam rumah kontrakan itu.
Beberapa saat kemudian Dokter Davin keluar dari kamar dan menghampiri Fazila di ruang tamu. "Eh kamu ada apa?"
"Hehe, nggak apa-apa cuma mau tanya tentang pelajaran. Dokter Davin tidak sibuk?"
__ADS_1
"Kebetulan hari ini sedang santai. Ayo silahkan duduk!"
Fazila mengangguk dan duduk.
"Mana pelajaran yang ingin ditanyakan?"
Fazila pun mengeluarkan buku dan pena dari dalam tas lalu menanyakan hal yang ingin ditanyakan pada dokter Davin. Gadis itu sudah menyediakan beberapa pertanyaan sejak kemarin.
Dokter Davin pun menjelaskan secara detail hal-hal yang ditanyakan oleh Fazila.
"Bagaimana mengerti?"
"Iya Dok, Chila ngerti."
"Oke ada yang mau ditanyakan lagi mumpung aku belum sibuk?"
"Hmm." Fazila tampak berpikir. "Bagaimana kalau tentang pelajaran matematika? Dokter Davin bisa?" Kebetulan pr matematikanya belum dikerjakan.
"Bisa, tanyakan saja."
Fazila pun mengeluarkan buku matematika dan menanyakan pr yang belum dia selesaikan. Dengan telaten Dokter Davin menjelaskan. Seperti seorang kakak yang begitu sayang pada adiknya saja dan itu membuat Fazila jadi baper.
"Bagaimana mengerti?" tanya Dokter Davin yang telah usai menjelaskan. Namun, yang ditanya tidak menjawab malah menatap wajah dokter Davin tidak berkedip.
"Chila mengerti tidak?"
"Ah, apa tadi Dokter bilang?"
"Sudah paham atau belum?"
"Belum," jawab gadis itu.
"Baiklah aku jelaskan sekali lagi." Dokter Davin pun mengulangi penjelasannya sedang Fazila masih menopang dagu sambil memperhatikan gerakan bibir Dokter Davin.
Dokter Davin melirik gadis itu yang terlihat senyum-senyum sendiri. "Awas kalau tidak mengerti nanti aku tidak akan menjelaskan lagi dan kamu tidak perlu datang kemari lagi."
Fazila menelan ludah mendengar pernyataan Dokter Davin.
"Makanya serius." Dokter Davin mulai kesal.
Nih anak emang Abangnya nggak bisa ngajarin apa? Sampai-sampai tanya kemari.
"Iya Dok.
"Baik saya ulangi lagi. Nanti kalau aku tes tidak tahu, lebih baik kamu pulang saja."
"Iya Dokter. Ganteng-ganteng suka ngambek."
Akhirnya gadis itu mendengarkan dengan seksama dan ketika di tes ternyata memang bisa.
"Karena aku bisa berarti aku bisa tanya lagi dong kalau ada pr lagi."
Dokter Davin diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ingin menolak tidak tega ingin membantu, gadis ini terlihat menyebalkan dimatanya.
Bersambung....
__ADS_1