Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 48. Pencarian


__ADS_3

Nathan segera bangkit dan berlari lagi keluar dari apartemen. Kali ini ia bertekad harus mencari Chexil sampai dapat.


Tujuan yang pertama tentu saja adalah tempat kosan Fani. Sebenarnya Nathan selama ini sudah tahu bahwa Chexil tinggal di sana, tetapi untuk datang langsung ke sana, pria itu masih merasa gengsi. Namun untuk kali ini, dia harus membuang rasa itu jauh-jauh agar sang istri bisa kembali ke pangkuannya.


Sampai di tempat kos Fani, ibu kos mengatakan Fani belum pulang dari bekerja. Nathan pun meminta nomor Fani dan segera menghubunginya.


Meski merasa aneh, Fani pun memberikan alamat kafe tempatnya sekarang berada dan memberitahukan bahwa sebenarnya tadi Chexil ada di sana. Nathan merasa lega. Ternyata masih ada harapan untuk membawa Chexil kembali di sisinya.


Setelah mendapat telepon dari Nathan, Fani meminta maaf dan meninggalkan para konsumen yang sedang antri membeli produk kosmetik untuk menghampari tempat Chexil berada. Namun ternyata tempat duduk Chexil telah berganti dengan orang lain.


"Mas tadi lihat wanita yang duduk di sini tidak?" Fani mencoba bertanya pada pria yang duduk di tempat tersebut.


"Maaf Mbak saya tidak melihatnya. Tadi saat saya tiba di tempat ini kursi ini sudah kosong," sahut pria tersebut.


"Oh, kalau begitu terima kasih."


"Iya sama-sama Mbak."


Fani segera meraih ponsel dalam tasnya dan segera menghubungi nomor Chexil tetapi sayang nomor wanita itu sudah tidak aktif lagi.


"Kamu kemana sih Xil?" Fani terlihat khawatir. Selama ini, seperti apapun keadaan Chexil dia tidak pernah menonaktifkan ponselnya.


Sedangkan Nathan saat mendengar Chexil ada di kafe dia tidak ingin membuang-buang waktu. Ia segera kembali ke mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Tak peduli jalanan yang padat, Nathan tetap mencari celah agar bisa menerobos mobil di depannya hingga ia beberapa kali mendapat bunyi klakson dan hujatan dari pengemudi lain. Nathan tak perduli, tidak apa-apa dia kena amarah orang-orang yang penting dia tidak terlambat menemui sang istri.


"Fan, mana Chexil?" tanya Nathan langsung saat sampai ke tempat tersebut.


"Aku tidak tahu Nat, tadi dia di sini. Aku tinggal sebentar tapi sekarang dia sudah tidak ada," ujar Fani merasa bersalah.


Wajah Nathan berubah pucat kala mendengar perkataan Fani.


"Benar kamu tidak tahu dia kemana?"


Fani menggeleng. "Kali ini aku benar-benar tidak tahu. Memang kalian ada masalah apa sih hingga ia harus pergi lagi? Apa sudah menghubungi orang tuanya? Barangkali dia pulang ke sana," usul Fani.


"Ya kamu benar. Dia pasti tidak akan kemana-mana. Kalau tidak bersamamu pasti dia bersama Mommy Karla." Terbit harapan di hati Nathan karena mengingat Chexil tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali keluarganya, Fani maupun keluarga Nathan sendiri.


Fani mengangguk.


Nathan langsung menghubungi Mommy Karla.


📱"Halo Nak, ada apa ya?" Terdengar suara Mommy Karla dari balik telepon.

__ADS_1


📱"Chexil ada di situ nggak Mom?"


📱"Tidak ada, memangnya dia bilang mau ke sini?"


📱"Nggak Mom, cuma tadi pagi dia mengatakan akan mampir ke sana dulu sebelum balik ke apartemen."


Nathan tidak ingin Mommy Karla khawatir dulu dengan keadaan putrinya. Dalam hati ia berharap segera menemukan Chexil sebelum kedua orang tua Chexil tahu bahwa wanita itu minggat dari apartemen karena ulah dirinya.


📱"Sejak menjenguk Daddy-nya yang sakit Chexil tidak pernah datang kemari lagi."


📱"Oh gitu ya Mom, ya sudah Nathan cek dulu di apartemen barangkali dia sudah balik."


📱"Baiklah, kalau ada apa-apa sama anak Mommy tolong kabari mommy ya Nak Nathan."


📱"Iya Mom, Nathan tutup teleponnya dulu ya!"


📱"Iya Nak."


Nathan menutup teleponnya lalu mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan kasar. Lelaki itu mulai frustasi.


"Fan kamu tahu nggak tempat favorit dia itu dimana?"


Fani menggeleng. "Dia tidak pernah kemana-mana."


Nathan tahu kehidupan di luar sana sangat berbahaya bagi Chexil. Bukan hanya karena wanita itu cantik, yang bisa saja menjadi mangsa para lelaki hidung belang, tetapi juga karena latar belakang Felix yang bisa saja menjadikan dia sebagai target para musuh sang Daddy.


"Chexil kamu dimana?" gumamnya sendiri.


"Fan tolong bantu carikan dia ya please! Kalau ketemu dia cepat hubungi aku ya."


"Iya Nath itu pasti. Kamu tenang saja begitu dia menghubungiku, aku langsung telepon kamu," ujar Fani berusaha tenang padahal dalam hati tak kalah khawatir dengan Nathan.


"Hei Bang, Chexil mana?" Tiba-tiba saja Tristan menghampiri tempat Nathan dan Fani berdiri.


"Aku tidak tahu Tris, apa kamu melihatnya?"


"Tunggu-tunggu! Sebenarnya kalian ada apa sih? Tadi saya lihat Chexil menangis di sini dan sekarang penampilan Abang acak-acakan seperti itu kayak orang stres saja."


"Tris, Chexil kabur Tris." Nathan yang biasanya tegar di hadapan Tristan kini terlihat begitu rapuh. Bahkan matanya kini tampak berkaca-kaca.


"Apa? Kabur? Apa yang Abang lakukan hingga ia memutuskan untuk pergi?"


"Abang salah Tris, Abang salah. Abang menyesal." Nathan terduduk lemas dilantai.

__ADS_1


"Abang kita pindah ke sana!" Tristan membantu Nathan untuk bangkit dan mengarahkan dia untuk duduk di kursi kosong.


"Sekarang Abang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian!"


Nathan pun mengangguk dan mulai bercerita tanpa ada yang dikurangi sedikit pun.


"Astaga Abang. Berarti Abang telah memperkosa istri sendiri. Pantas saja dia kabur. Dia pasti kecewa berat sama Abang dan tidak menutup kemungkinan dia juga takut hidup bersama Abang yang kasar," ujar Tristan kaget begitupun dengan Fani yang juga ikut duduk di samping mereka.


"Abang khilaf, Abang tidak bisa mengendalikan amarah saat melihat dia begitu nyaman bersama orang lain bahkan dia juga tersenyum pada pria itu."


Tristan menggeleng melihat sikap Nathan. "Seharusnya Abang membuat dia lebih nyaman di samping Abang bukan malah membuat dia takut, tapi sudahlah semua sudah terlanjur terjadi."


"Bantu Abang Tris mencarinya."


"Iya nanti aku bantu. Sebentar aku telepon anak buah papa dulu agar menyebar orang-orang untuk ikut mencari."


Nathan mengangguk sedang Tristan tampak menelpon seseorang.


Setelah itu mereka langsung cabut dari tempat itu dan melakukan pencarian terhadap Chexil menggunakan mobil Nathan. s


Sedangkan kunci mobilnya sendiri Tristan memberikannya pada Fani agar wanita itu yang membawanya.


Sampai tengah malam mereka melakukan pencarian tetapi Chexil belum diketemukan juga.


"Kita pulang dulu ya Bang, besok kita cari lagi."


"Tidak Tris, Abang tidak mau pulang sebelum menemukan Chexil."


"Tapi ini sudah tengah malam, tubuh Abang juga butuh istirahat."


"Tidak, aku tidak bisa tidur sementara dia terancam di luaran sana. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia Tris?"


"Tenanglah Bang, tidak akan terjadi sesuatu sama Chexil. Tris yakin dia bisa menjaga diri."


"Tidak Tris dia tidak bisa." Terbayang beberapa waktu lalu saat ada seorang yang bertindak tidak senonoh pada Chexil. Untung saja dia segera datang kalau tidak dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada istrinya.


"Pokonya sekarang pulang, kalau tidak, Tris tidak akan membantu Abang lagi," ancam Tristan.


Tanpa mau mendengar jawaban Nathan, Tristan memutar arah mobilnya menuju apartemen.


Bersambung....


Jangan lupa like-nya!🙏

__ADS_1


__ADS_2