Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 81. Hilang


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Nathan dan Chexil masuk ke ruangan dokter kandungan sedangkan Fazila meminta izin untuk berjalan-jalan di luar ruangan.


"Jangan jauh-jauh nanti kamu tersesat." Bukan tanpa alasan Nathan berpesan seperti itu karena Fazila tidak pernah pergi sendirian. Paling tidak ada pembantu atau sopir yang akan menemaninya.


"Baik Bang."


"Baiklah kami masuk dulu." Fazila mengangguk.


Gadis itu duduk di kursi di depan ruangan tempat Chexil diperiksa. Mengurungkan niatnya kala mendengar kata tersesat.


"Lama sekali sih." Gadis itu mulai jenuh menunggu.


Apa aku harus benar-benar jalan-jalan aja ya?


Tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Oh ya aku ke sini kan ingin menemui dokter Davin." Beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah poliklinik penyakit dalam. Dia sudah bertanya semalam pada kakaknya bahwa Dokter Davin bertugas di bagian itu.


"Antrian selanjutnya!" terdengar suara dari mikrofon dari ruangan poliklinik penyakit dalam.


Fazila melihat keadaan sekitar sepertinya pasien penyakit dalam sudah ditangani semuanya. Ia langsung masuk ke dalam ruangan periksa.


"Maaf berkasnya mana?" tanya asisten yang duduk di dekat pintu.


"Tidak ada," jawab Fazila santai.


"Loh kok tidak ada? Mana keluargamu?"


"Tidak ada juga."


"Kalau begitu adik keluar dulu. Daftar dulu di bagian pendaftaran, ikuti prosedur selanjutnya lalu baru ke sini."


"Saya ingin langsung bertemu dengan Dokter Davin."


"Tidak bisa, harus ikuti prosedur dulu."


"Suster nanti saya bayar berapapun biayanya," ucap gadis itu dengan santai.


"Tapi kamu bisa membuatku dipecat."


"Nggak apa-apa kalau dipecat nanti kamu bisa kerja di rumah sakit papa."


"Ih kecil-kecil sok nih orang. Kalau punya rumah sakit sendiri kenapa harus periksa ke sini coba," gumam wanita tersebut.


"Ayolah sus izinkan saya bertemu dengan Dokter Davin."


"Tidak Boleh."


"Ayolah suster. Boleh ya boleh."


"Tidak boleh, titik tidak pakai koma."


"Ya suster jelek."


"Biarin, keluar sana!"


"Ada apa ribut-ribut?"


"Nih Dokter ada pasien anak kecil yang ngotot ingin masuk tanpa mengikuti prosedur dari rumah sakit."


"Saya bukan anak kecil," protes Fazila.


"Suster Tantri, pasien masih ada?" tanya Dokter Davin.


"Sepertinya sudah tidak ada Dok."


"Oke, kamu bisa santai dulu."


"Iya Dok."

__ADS_1


"Dan kamu ada apa?"


"Perkenalkan Dok nama saya Fazila. Aurora Belle Fazila Alberto atau bisa di panggil Chila." Gadis itu mengulurkan tangannya disambut jabatan tangan Dokter Davin.


Namun, disambut cebikan dari suster Tantri sambil memalingkan muka.


"Davin, Dokter Davin. Silahkan duduk. Ada masalah yang bisa saya bantu?"


Fazila duduk. Diam sejenak untuk memikirkan alasan mengapa ia menemui dokter Davin.


"Tunggu! Sepertinya saya pernah melihatmu."


"Iya Dok kemarin kita ketemu di rumah Kak Chexil."


"Oh iya benar saya melihatmu di sana. Kamu adik kandung Chexil?" tanya Dokter Davin sumringah.


"Bukan, tapi adiknya Bang Nath."


"Oh, adiknya Nathan?"


Fazila mengangguk.


"Oh ya apa keluhanmu?"


Fazila terlihat gugup karena belum menemukan alasan yang tepat. Tidak mungkin kan dia jujur bahwa dirinya ke sana hanya ingin berkenalan dengan Dokter Davin. Seharusnya hal ini bisa dia lakukan kemarin tetapi dia malu pada orang tuanya.


"Saya mengalami nyeri di sini dan kadang detak jantung saya lebih cepat dari biasanya. Kayak sesak nafas gitu Dok." Fazila menunjuk dadanya."


Apalagi kalau dekat dengan dokter seperti ini.


"Seharusnya kamu mengikuti prosedur dulu. Ada ruangan lain yang dikhususkan untuk USG, tetapi sudahlah tidak apa-apa biar aku periksa langsung. Silahkan berbaring."


Fazila terpaksa menuruti kemauan Dokter Davin. Kalau menolak dia takut Dokter Davin curiga dan bisa saja marah karena waktunya terganggu.


"Maaf ya." Dokter Dokter memegang bagian bawah hem Fazila dan menyingkapnya.


"Dingin," gumamnya saat Dokter Davin mengoleskan gel.


"Tidak usah takut ini tidak sakit kok."


"Iya."


"Kok masih merem sih?" tanya Dokter Davin sambil tangannya terus bekerja.


"Sudah." Katanya sambil menutup baju Fazila kembali.


"Hah." Fazila menghembuskan nafas tetapi bukan nafas lega karena dia masih khawatir saat Dokter tahu bahwa dirinya tidak sakit dia akan marah.


"Sering sakit dadanya?"


"Nggak juga sih Dok, jarang aja."


"Sejak kapan?"


"Sejak kemarin."


"Baru kemarin?"


"Iya."


"Oh barangkali kamu hanya stres saja atau banyak pikiran? Coba kendalikan emosi sebab setelah diperiksa tadi kamu tidak mengidap penyakit dalam apapun."


"Alhamdulillah jadi aman ya Dok?"


"Oke terima kasih. Berapa biayanya Dok?"


"Tidak usah, karena kamu adik ipar Chexil saya kasih gratis saja."

__ADS_1


"Wah terima kasih ya Dokter. Chila boleh tanya sesuatu?"


"Boleh tanyakan saja mumpung pasien lagi kosong."


"Baik." Fazila pun menanyakan tentang pelajaran Biologi yang ada di sekolahnya. Terutama tentang organ dalam manusia dan apa saja penyakit yang bisa menyerangnya.


"Cih modus." Tantri tidak suka melihat Chexil sok dekat dengan Fazila.


"Dokter ada pasien lagi."


Di tempat lain, di rumah sakit yang sama, Chexil dan Nathan kelabakan mencari Fazila yang tidak mereka temukan di manapun.


"Tuh anak sudah dibilangin jangan jauh-jauh," keluh Nathan.


"Sebentar aku tanya pak satpam ya barangkali Chila sudah keluar lebih dulu."


Nathan mengangguk sambil mencoba bertanya kepada para pengunjung barangkali ada yang melihat Chila.


"Mbak lihat orang ini nggak?"


"Nggak Mas aku nggak lihat."


"Oke terima kasih."


"Bagaimana Xil?" tanyanya saat melihat Chexil berjalan ke arahnya.


"Nggak ada. Pak satpam tidak melihat Chila keluar. Mungkin tuh anak masih di dalam."


"Kemana ya kita harus mencari lagi sedang setiap dokter dan suster yang kita temui tidak ada yang tahu. Apa aku harus minta pihak rumah sakit ya supaya memberikan pengumuman orang hilang. Tumben-tumbenan lagi tuh anak tidak bawa hp." Nathan merasa stres sendiri. Kalau tahu begini dia tidak akan mau mengajak Fazila.


"Tenang kita cari sendiri dulu."


"Oh ya Xil kita ke bagian cctv saja biar kita cek dari sana kemana Chila beranjak pergi."


"Bagaimana kalau aku hubungi seseorang barangkali dia melihat Chila."


"Seseorang? Siapa?"


"Maaf, Dokter Davin."


"Nggak apa-apa hubungi saja."


"Oke."


Chexil pun menghubungi Davin untuk menanyakan tentang adik iparnya.


"Bagaimana?" tanya Nathan khawatir.


"Ternyata Chila memang ada di sana."


"Astaghfirullah adzim, ngapain tuh anak ke sana. Bikin aku khawatir saja." Ayo kita jemput ke sana!"


"Baik." Chexil pun membawa Nathan ke ruangan poliklinik.


"Yang mana ruangannya?" tanya Nathan tidak sabar ingin segera bertemu adik perempuannya.


"Bentar aku pun tidak tahu dimana ruangannya. Yang pasti dia itu dokter spesialis dalam. Kalau ada tulisan dr, Davin Sudrajat Sp. PD. di pintu berarti itu ruangannya."


"Baik ayo kita cari. Panjang banget ini lorongnya ya. Berapa


banyak ruangan dokter spesialis di tempat ini."


"Nggak tahu yang pasti banyak aja. Sepertinya itu dia ruangannya."


Bersambung....


Jangan lupa like-nya! Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2