Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 21. Mencurigai


__ADS_3

Siang hari saat Nathan ingin berpamitan, lagi-lagi Nela mengaduh kesakitan hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya kembali.


Nathan menjadi gelisah sendiri. Di satu sisi dia tidak tega meninggalkan Nela sendiri mengingat Nela berasal dari luar kota dan di sini hanya tinggal seorang diri. Di sisi lain ia tidak nyaman meninggalkan Chexil sendiri karena kalau terjadi sesuatu sama gadis itu dialah orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan istrinya. Apalagi mereka baru saja menikah.


"Lucas." Nathan langsung meraih ponselnya dan menghubungi Lucas.


"Halo Bro."


"Sudah sampai di mana?"


"Mungkin dua jam lagi baru sampai."


"Cepetan dong Luk ini Nela harus ada yang jagain."


"Parah ya bekas tembakannya?"


"Parah nggak parah sih, cuma sedari tadi dia merintih terus. Aku jadi tidak enak kalau harus meninggalkannya seorang diri."


"Ya udah jagain aja dulu."


"Aku ninggalin Chexil sendiri di hotel, kan kasian Luk."


"Ngapain kalian di hotel?" tanya Lucas curiga.


"Habis nikah sekalian nginap di sana."


"Alamak aku lupa," ujar Lucas sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Kalau ketahuan mama aku ninggalin dia, bisa dimarahin."


"Iya deh aku kebut nih mobil biar cepat sampai."


"Oke aku tunggu."


Nathan mondar-mandir di ruang tamu, sesekali ia keluar rumah untuk melihat apakah Lucas sudah datang ataukah belum.


"Lama sekali sih Lucas ini sudah satu setengah jam-an. Harusnya kalau dia ngebut sudah sampai." Nathan bergumam sendiri.


"Aku harus menghubungi Chexil." Ia meraih ponselnya kembali dan mencari kontak Chexil tetapi kemudian teringat bahwa dirinya tidak punya nomor istrinya.


"Tristan." Ia memencet nomor ponsel Tristan.


"Halo Bang."


"Tris aku minta nomor Chexil!"


"Aneh, Abang tidak punya nomor istri sendiri?"


"Tris kamu sudah tahu semuanya, mengapa masih bertanya?"


"Iya-iya Bang, sorry." Tristan langsung mengirimkan nomor Chexil.


"Thanks Tris." Nathan hendak memutus sambungan telepon namun dicegah oleh Tristan.


"Tunggu-tunggu Bang! Abang belum pulang sedari pagi?"


Nathan tidak menjawab malah langsung mematikan ponselnya. "Apakah wanita itu mengadu pada Tristan kalau aku meninggalkannya? Apa sih mau wanita itu sebenarnya?" tanya Nathan dalam hati. Dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Chexil.


"Hai Bro." Saat-saat Nathan berpikir tentang Chexil tiba-tiba Lucas datang dan menepuk bahunya.

__ADS_1


Nathan menoleh, "Kau sudah datang, kalau begitu aku pergi dulu."


"Eh-eh aku baru datang kamu malah mau pergi. Gercep amat sih mentang-mentang punya istri cantik. Ngomong-ngomong udah belah duren belum?"


Nathan mendorong kepala Lucas ke belakang. "Otak ngeres!"


"Udah ah aku mau balik."


"Sebentar Nath aku ada oleh-oleh nih buat kamu sama Chexil."


Nathan menghentikan langkahnya. Lucas memberikan oleh-oleh kepada Nathan juga Nela.


"Nath sebentar aja aku mau ngomong, duduk ya!"


"Serius amat sih Luk."


"Emang serius, lima menit aja," pinta Lucas dan Nathan pun akhirnya duduk di sofa.


"Ada apa?"


"Apa semalam kamu tidak mendengar kabar bahwa ada seorang wanita menyelundupkan obat-obatan terlarang ke dalam sebuah diskotik?" tanya Lucas serius.


"Tidak, kamu tahu sendiri kan semalam aku sibuk resepsi dan ponselku sempat dimatikan."


"Semalam aku dapat kabar dari komandan bahwa anak buahnya sempat menembak wanita itu tetapi mereka kehilangan jejak. Katanya mereka sempat menembak di bagian punggung."


Mendengar perkataan Lucas, Nathan melihat ke arah Nela. "Bukankah Nela juga tertembak di bagian punggung? Apa artinya wanita itu adalah Nela?" tanya Nathan dalam hati.


"Ah tidak mungkin, yang saya tahu Nela wanita baik-baik. Selama bersama kami sikapnya tidak ada yang mencurigakan." Nathan membantah ucapannya sendiri sedangkan Nela yang ditatap menelan ludah kasar. Hatinya merasa tidak enak. Dia yakin Nathan mencurigainya saat ini.


"Aduh." Dia pura-pura lagi, mengaduh kesakitan.


"Ah sudahlah lebih baik aku pergi dan selidiki nanti saja," batin Nathan.


Namun ketika sampai di tengah perjalanan, rasa penasarannya terhadap luka tembakan Nela lebih tinggi dari kekhawatirannya terhadap Chexil.


Nathan memutar arah dan langsung menuju rumah sakit tempat Nela tadi ditangani.


Setelah bertanya ternyata dokter yang menangani Nela tadi masih ada di ruangannya. Nathan langsung menuju ke ruangan itu.


"Permisi Dok!"


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Iya Dok."


"Oh ini yang mengantarkan pasien yang terkena tembakan tadi kan? Apa ada yang ketinggalan?"


"Tidak Dok, saya hanya ingin bertanya perkara peluru yang bersarang di punggung teman saya tadi."


"Maksudnya?"


"Apakah Dokter masih menyimpannya?"


"Tentu saja masih ada."


"Maaf Dok kalau boleh saya ingin melihatnya."


"Maaf kalau boleh tahu untuk apa ya?"

__ADS_1


"Untuk penyelidikan Dok apakah itu peluru benar-benar punya polisi ataukah memang milik penjahat."


Dokter tersebut tampak termenung sebentar. "Baiklah saya akan ambilkan."


Dokter itu bangkit dari duduknya dan mengambil peluru di atas rak lalu berjalan mendekat ke arah Nathan.


"Ini dia, tapi sepertinya peluru ini ilegal jadi saya yakin bukan milik anggota polisi," ujar dokter tersebut sambil menyerahkan peluru tersebut kepada Nathan.


Nathan melihat-lihat peluru tersebut. "Sepertinya Dokter benar," ucap Nathan sambil mengembalikan peluru tersebut ke tangan dokter.


"Kalau begitu saya permisi Dok dan terima kasih telah meluangkan waktu untuk saya," ucap Nathan lagi.


"Sama-sama."


Nathan melangkah keluar ruangan. Dokter itu hanya menatap punggung Nathan yang kemudian hilang dari balik pintu.


"Sepertinya pemuda itu jeli, untung aku segera menukar dengan peluru lain. Kalau tidak tamatlah riwayat Nela," ujar sang dokter sambil menimang-nimang peluru di tangan.


"Buang-buang waktu saja," ujar Nathan sambil menyetir mobilnya kembali. "Tapi syukurlah berarti tidak ada yang patut aku curigai lagi," ujar Nathan dalam hati.


🌟🌟🌟🌟🌟


"Baru pulang? Dari mana saja?" tanya Chexil saat membuka pintu.


Nathan termangu di depan pintu. Mengapa dia merasa Chexil seperti mamanya, padahal yang dia tahu Chexil adalah gadis kalem.


"Dari rumah sakit," jawab Nathan kemudian.


"Kamu sakit?" tanya Chexil lagi.


Nathan menghembuskan nafas kasar. "Bukan, tapi temanku."


"Cewek apa cowok?" Sebenarnya Chexil hanya ingin mengetes kejujuran Nathan.


"Cewek."


"Kalau begitu hati-hati jangan sampai kebablasan. Ingat kamu sudah menikah."


Mengapa gadis ini jari cerewet? Apakah dia kerasukan saat aku tinggal tadi?


"Aku tahu," ujar Nathan sambil melangkah ke dalam kamar.


Chexil mengikuti langkah Nathan.


"Apalagi?"


"Mau mandi?" Tidak menjawab malah bertanya.


Nathan hanya mengangguk.


"Kalau begitu tunggu dulu!"


Nathan mengernyitkan dahi, tidak mengerti.


"Aku siapkan air hangat dulu."


Nathan mengangguk dan memilih duduk di sofa sambil menunggu pekerjaan Chexil selesai.


"Sebelum Nathan jatuh cinta sama wanita itu, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku." Chexil tersenyum sambil menuangkan air panas pada bak mandi.

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2