
Di dalam sebuah gedung, Lukas kewalahan menghadapi Nathan. Nathan yang sedang mabuk tidak mau menghentikan aktivitasnya yang meneguk minuman.
"Chexil kau di mana? Mengapa kau tega bersembunyi dariku. Apakah kau memang suka bermain bersembunyi dan mencari seperti anak SD? Hahaha ... baiklah aku akan mencari mu sampai dapat. Chexil! Chexil!" teriaknya pada seorang wanita yang lewat di hadapannya.
"Sudahlah Nathan, dia bukan Chexil."
"Dia Chexil Luk, dia Chexil." Nathan bangkit dari duduknya kemudian ingin mengejar wanita tadi.
"Sudah duduk, dia bukan Chexil!" Lukas menahan tubuh Nathan dan mendudukkan kembali.
"Mas ambilkan bir untukku lagi!" Perintahnya pada seorang pelayan laki-laki.
"Baik Mas, sebentar." Pelayanan tersebut pun menurut.
"Tidak usah Mas," cegah Lukas. Dia tidak ingin sahabatnya bertambah mabuk.
"Lukas kenapa kamu mencegahnya? Aku masih membutuhkan itu agar bisa terlepas dari bayang-bayang Chexil," protes Nathan. Tubuhnya yang mulai tampak oleng ke kanan dan ke kiri kini dipenuhi keringat.
"Yang ada setiap orang yang lewat kau anggap Chexil. Sudah ayo pulang saja! Kau tidak biasa mabuk-mabukan seperti ini. Kalau kau paksa tubuhmu menkonsumsi minuman ini nyawamu terancam melayang." Lukas berucap sambil menarik tubuh Nathan agar mau keluar dari tempat terkutuk itu. Namun sayang pegangan Nathan kuat terhadap meja dan tubuhnya terasa berat dalam tarikan Lukas.
Nathan menggeleng. "Tidak Luk biarkan aku mati saja. Biar dia menyesal telah meninggalkan ku sendiri. Hahaha ..."
__ADS_1
Kali ini Lukas yang menggeleng-gelengkan kepala. "Bodoh, kalau kau mati dia akan menikah dengan orang lain."
"Itu tidak akan terjadi. Kalau dia menikah lagi aku akan terus menghantuinya."
"Dah lah males debat dengan orang mabuk yang ada aku jadi ikutan stres. Mati dalam keadaan mabuk aja siksanya udah berat memang ada waktu ya buat ngehantui orang lain," batin Lukas. Pengen jitak kepala Nathan dan tertawa sekencang-kencangnya tapi kasihan.
"Mas, mana bir nya!" teriak Nathan lagi. Pelayan tadi menoleh tetapi memandang ke arah Lukas yang menggeleng lalu memberi kode kepada pelayanan tadi lewat gerakan bibirnya untuk
mengambilkan sesuatu. Untung saja pelayanan tersebut mengerti dan dengan sigap mengambilkan apa yang diinginkan Lukas.
"Ini Mas." Pelayan tadi menaruh botol bir di depan Nathan.
Pelayan tadi memandang wajah Lukas. Lukas tersenyum lalu memberikan kode supaya pria itu cepat pergi.
Saat Nathan sedang asyik memutar-mutar gelas yang kini sudah terisi Lukas segera menelpon Tristan.
"Halo Luk."
"Kamu segera ke sini! Abang kamu dalam keadaan mabuk berat. Aku nggak kuat gotong tubuh dia sendirian."
"Tubuh kekar macam kamu nggak kuat bawa Abang?"
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya, cepat ke sini atau ku tinggal Abang kamu sendirian."
"Iya-iya, cepat kirimkan alamatnya!"
"Oke."
Prank.
Terdengar bunyi gelas pecah. Lukas menoleh ke arah Nathan. Ternyata pria itu yang melempar gelas dengan amarah.
"Suara apa itu Luk?"
"Abang kamu ngamuk."
"Cepat kirimkan alamatnya!"
Lukas langsung mengetik alamat tempat tersebut dan mengirimkan kepada Tristan.
"Oke otw." Tristan langsung menyambar kunci mobil dan jaket lalu dengan tergesa-gesa keluar dari rumah.
Bersambung...
__ADS_1