Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Part 45. Tangisan Chexil


__ADS_3

Akhirnya orang-orang mundur dan membiarkan Nathan membawa Chexil begitu saja.


Setelah sampai di mobil Nathan mendudukkan tubuh Chexil dengan kasar di kursi lalu menguncinya. "Jangan coba-coba kabur!"


Setelah berkata seperti itu Nathan langsung memutar tubuhnya menuju kursi kemudi.


"Mulai sekarang aku minta jangan bekerja lagi, aku masih bisa membiayai dirimu," ujar Nathan penuh tekanan sambil menyetir mobilnya dengan kencang.


Chexil terlihat ketakutan apalagi laju mobil itu sudah diambang batas normal.


Chexil tidak menjawab perkataan Nathan, sepanjang perjalanan dia hanya terdiam. Dia tidak berani bersuara karena melihat wajah Nathan terlihat memerah. Sepertinya pria itu masih dikuasai amarah.


Oh Tuhan selamatkan aku.


Sampai di depan apartemen, saat mobil sudah terparkir, Nathan tetap menggotong tubuh Chexil karena takut kabur sedang Chexil hanya bisa pasrah saat tubuhnya digendong seperti itu meski ia juga merasa malu. Karena setiap orang yang melintas di hadapan mereka memandang dirinya aneh. Beda dengan Nathan yang memang biasa cuek. Dia sama sekali tidak mempedulikan pandangan orang-orang terhadap mereka.


Nathan langsung membawa Chexil menuju kamar dan menguncinya dari dalam.


"Katakan ada hubungan apa kamu dengan pria tadi!"


"Aku ... aku tidak ada hubungan apa-apa bahkan aku tidak mengenalnya," ujar Chexil dengan gugup.


"Jangan berbohong! Bagaimana dia bisa terlihat akrab denganmu kalau kalian tidak saling mengenal. Apa jangan-jangan kau menjalin hubungan dengannya di belakangku."


"Ini yang aku benci darimu, suka menuduh orang sembarangan." Chexil mulai kesal lagi. Rasa takutnya pada Nathan menguar begitu saja.


"Apa karena dia, makanya kau ingin segera bercerai dariku?"


"Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri, mengapa aku menginginkan bercerai lebih dini. Ini tidak ada hubungannya dengan dokter itu."


"Renungkan lah! Apa kau sudah menjadi suami yang baik untuk istrimu ini? Ingat itu Nathan! Ingat! Kau bukan suami yang baik untukku."


"Oh begitu ya? Kau pikir kau istri yang baik hingga harus bekerja tanpa seizin suami? Bukankah aku sudah memberikan uangku untuk kau belanjakan, tapi kenapa kau memilih bekerja seperti itu sehingga bisa mengundang kaum lelaki untuk menggodamu hah?"


"Aku lelah Nathan, aku lelah hidup denganmu."


"Oh jadi kamu ingin pergi dariku dan bersama dokter itu?"

__ADS_1


"Terserah apa yang mau kau katakan, tetapi asal kamu tahu saja bahwa seorang istri tidak hanya membutuhkan nafkah lahir saja tapi juga butuh perha ..."


"Oh jadi kamu menuntut itu sekarang?" Nathan mendekat ke arah Chexil. Chexil mundur ke belakang melihat gelagat aneh di diri Nathan.


Astaga, apa aku salah ngomong?


"Jangan Nath!" Chexil mendorong tubuh Nathan saat tubuhnya terhimpit ke dinding. Namun sayang tubuh kekar Nathan tetap tidak bergeming di tempat.


"Jangan!"


Nathan tidak mendengar malah semakin merapat ke tubuh Chexil. Chexil nampak ketakutan melihat Nathan masih terlihat emosi.


"Nath sadarlah!"


Nathan tidak menggubris malah mendekatkan bibirnya ke bibir Chexil dan memagutnya secara kasar. Chexil yang berada dalam posisi tidak berdaya hanya bisa meneteskan air mata.


Dia tahu Nathan halal menyentuhnya tetapi dia tidak mau Nathan melakukannya dalam keadaan marah.


"Ini hukuman karena bibir ini telah berani tersenyum pada pria lain," ujar Nathan setelah melepaskan bibir Chexil karena wanita itu hampir kehilangan nafas.


"Kenapa? Hari ini aku akan memberimu nafkah batin seperti yang kau inginkan." Nathan mendorong tubuh Chexil ke atas ranjang.


"Nath jangan lakukan, aku mohon!"


(Skip..... Bulan puasa 😂😂😂)


_____________________________________________________


Setelah menyelesaikan adegan ranjang yang penuh dengan amarah akhirnya Nathan sadar bahwa apa yang ia lakukan itu salah.


Nathan panik saat melihat Chexil pingsan dan bahkan banyak darah yang menetes dari bagian inti Chexil.


"Bagaimana ini?" Menghubungi dokter keluarga tidak mungkin karena dia pasti malu sekaligus akan dapat amarah dari kedua orang tuanya karena telah membuat Chexil sampai pingsan.


"Maafkan aku Xil," gumamnya.


"Aku harus cari obat merah dulu, pasti ada yang terluka pada bagian itu. Ah kenapa kau bodoh Nathan sampai melakukanya dengan kasar." Nathan merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

__ADS_1


Ia menarik selimut, menutupi tubuh sang isteri kemudian memungut pakaiannya. Setelah memakai pakaiaannya kembali, ia keluar dari kamar untuk mencari obat dan meninggalkan Chexil seorang diri untuk sementara. Nathan harap Chexil mendapat pertolongan terhadap lukanya dulu baru setelah sadar dia akan membawanya ke rumah sakit.


Chexil tersadar saat Nathan memakai pakaiannya kembali lalu keluar dari kamar.


Chexil duduk, melihat sekitar lalu menyingkap selimut yang menutupi dirinya.


Air matanya luruh tidak tertahankan melihat tubuhnya sudah tak berbusana bahkan darah segar mengalir dari intinya.


"Nathan kenapa kau melakukan ini semua? Hiks hiks hiks." Kejadian tadi berputar di otaknya. Chexil merasa kecewa Nathan telah merenggut paksa kesuciannya. Padahal jika mau Nathan bisa memintanya secara halus dan Chexil tidak mungkin menolaknya.


Semakin deras saja air mata Chexil kala mengingat Nathan meninggalkan begitu saja dirinya di ranjang apartemen seorang diri dalam keadaan seperti itu.


Ia mengusap air matanya lalu turun dari ranjang. "Aduh." Chexil meringis kesakitan. Namun ia tetap berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Ia memungut pakaiannya lalu berjalan ke arah kamar mandi dan menaruh baju itu di keranjang cucian yang ada di dalam sana.


Setelah membersihkan diri ia keluar dengan mantel mandinya dan segera berganti baju.


Ia duduk di tepi ranjang, menanti kedatangan Nathan. Namun sampai bosan Chexil menunggu pria itu tidak kembali juga.


"Hah." Chexil mendesah kasar.


"Emang dia anggap aku ini siapa? Aku berasa psk ditinggalkan begitu saja setelah digauli." Tanpa disengaja air matanya meleleh lagi.


"Sepertinya dia tidak akan pernah bisa menghargai diriku. Sebaiknya aku pergi jauh saja darinya." Chexil langsung mengemas pakaiannya ke dalam koper.


Setelah selesai dia menulis pesan di atas kertas dan meletakkannya di atas laptop Nathan yang kini terletak di atas sofa.


Semoga kita menemukan kebahagiaan masing-masing." Chexil menatap potret pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Potret itu mereka letakkan bersama tatkala mereka berkomitmen untuk saling belajar mencintai dan menerima karakter masing-masing meski pada kenyataannya saat itu di hati Chexil memang sudah terukir nama Nathan.


Nyatanya semua hanya angan-angan semata dan kisah yang mereka rajut harus berakhir sampai di sini.


"Selamat tinggal Nathan semoga aku bisa melupakanmu dan Terima kasih telah memberi kesempatan hidup denganmu meski ..." Chexil tidak melanjutkan ucapannya karena kini suaranya tercekat di tenggorokan. Hanya air mata yang senantiasa lancar mengalir di pipi mulusnya.


Maafkan aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu." Setelah berkata seperti itu Chexil mendorong koper ke luar kamar dan meninggalkan apartemen tanpa tujuan yang jelas.


Bersambung....


Jangan lupa like-nya!🙏

__ADS_1


__ADS_2