Terpaksa Menikahi Putri Mafia

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Bab 25 Mertua Vs Menantu


__ADS_3

Mereka sampai di apartemen siang hari. Sampai di sana apartemen sudah selesai dibersihkan dan baju-baju mereka sudah ada di sana. Chexil langsung menata baju-baju Nathan dan juga dirinya ke dalam lemari. Setelahnya ia memeriksa keadaan dapur, tetapi ternyata stok bahan-bahan makanan masih belum ada di sana.


Chexil mengambil air minum dan meneguknya karena kehausan. Setelahnya ia langsung membawakan Nathan air minum juga, siapa tahu sang suami juga kehausan.


"Ini minum dulu, maaf mau membuatkan teh atau kopi tidak ada gula jadi cuma bisa ngasih air putih saja," kata Chexil.


"Tidak masalah air putih lebih sehat," ujar Nathan sambil meraih gelas di tangan Chexil lalu meneguknya.


"Tapi bahan-bahan di dapur tidak ada. Apa boleh aku pamit belanja?" tanya Chexil. "Aku ingin membeli bahan-bahan untuk membuat menu makan siang nanti," lanjutnya.


"Emang kamu bisa masak? Kalau tidak bisa kamu tidak perlu repot-repot, kita beli saja nanti."


"Aku mau belajar, tidak mungkin kan selamanya kita beli terus?"


"Ya terserah kamu lah, nanti kita belanja," ujar Nathan sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang sedang Chexil memilih duduk di sofa, berbalas chat dengan Fani sahabatnya. Wanita itu tampak senyum-senyum menanggapi candaan Fani.


Nathan yang melihat Chexil kadang tertawa sendiri menjadi penasaran. Ia bangun dari tidurnya dan menghampiri tempat duduk sang istri. "Ada apa, kenapa tertawa?"


"Oh, ini temanku Fani dari tadi menggoda terus," sahut Chexil sambil menunjukkan chat-nya pada Nathan.


Nathan mengangguk. "Kalau sudah tidak capek aku antar ke mall."


"Sekarang?"


"Iya, berkemaslah!" perintah Nathan.


Chexil langsung bersiap-siap. Berharap masih ada waktu untuk membuatkan makan siang untuk sang suami.


"Aku tunggu di sini, kamu masuklah dan beli apa saja yang kamu inginkan," ujar Nathan. dia duduk di sebuah kursi di ruang tunggu. Lelaki itu tampak memesan minuman.


"Baiklah," sahut Chexil sambil berlalu pergi.


"Tunggu!" seru Nathan. Chexil pun menoleh dan berbalik. "Ada apa?"


"Ini kamu pakai ATM-ku aja," ujar Nathan sambil meraih kartu ATM dalam dompetnya.


"Tidak usah aku juga ada," tolak Chexil.


"Punyamu simpan saja," ujar Nathan. "Semua kebutuhan kita menjadi tanggung jawabku," imbuhnya lagi.


Tak ingin membantah sang suami akhirnya Chexil mengangguk dan meraih kartu yang disodorkan. Setelah itu Chexil mulai berjalan jauh dan berbelanja seorang diri.


Setelah selesai berbelanja, sebelum pulang ke apartemen Nathan lebih dulu mengajak Chexil untuk makan di restoran sebab kalau menunggu hasil masakan Chexil sepertinya mereka akan terlambat makan siang.


"Kita makan siang di sini dulu nanti masakanmu untuk makan malam saja," ujar Tristan dan Chexil pun mengangguk paham.


Setelah sampai ke apartemen Chexil langsung berkutat di dapur. Tentu saja memasak dengan tutorial yang ada di ponsel.

__ADS_1


Nathan hanya geleng-geleng kepala melihat Chexil yang sepertinya bingung mencari bumbu yang diperlukan untuk memasak.


"Aku ke kamar dulu mau nyelesain tugas kampus," pamit Nathan pada Chexil dan Chexil hanya mengangguk.


Tak terasa hari sudah sore dengan kerja keras akhirnya Chexil bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia mencicipi makanannya sendiri sebelum dihidangkan pada sang suami.


"Lumayan untuk orang yang pertama kali masak," Gumam Chexil sambil tersenyum puas. Dalam hati berharap Nathan bisa menyukai masakannya. Meski seumpama tidak suka sekalipun Chexil berharap paling tidak pria itu bisa menghargai usahanya.


Setelah menata makanan di atas meja makan, Chexil bergegas kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Saat ia hendak melangkah ke kamar mandi ia malah melihat Nathan tertidur pulas dengan menyandarkan tubuhnya ke sofa sedangkan laptop yang ia pakai masih dalam keadaan menyala. Ya ternyata Nathan yang berkutat dengan laptopnya ketiduran.


Chexil menghampiri Nathan, mematikan laptop dan menutupnya. Dia tampak ragu-ragu antara membangunkan Nathan ataukah membiarkan pria itu tidur di sofa. Akhirnya ia memilih membiarkan dan dirinya langsung masuk ke kamar mandi.


Sampai Chexil selesai mandi dan berhias pun Nathan masih belum bangun juga. Lelaki itu hanya tampak menggeliat lalu tertidur kembali. Entah apa yang membuat Nathan seperti orang kecapekan.


Karena hari sudah menjelang malam akhirnya Chexil memutuskan untuk membangunkan sang suami.


"Bangun hari sudah hampir petang." Chexil mengguncang tubuh Nathan dengan pelan agar Nathan tidak langsung kaget.


"Oh iya, Nathan membuka mata dan langsung bergegas ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Chexil mengajak Nathan untuk makan malam.


"Bagaimana?" tanya Chexil meminta pendapat Nathan tentang masakannya.


"Lumayan," ujar Nathan sambil terus mengunyah makanannya. Membuat Chexil menjadi tenang dan bernafas lega kemudian ikut makan.


"Apa!" seru Nathan sepertinya ada yang gawat.


Chexil ikut khawatir melihat wajah Nathan sedikit tegang.


"Iya-iya aku akan segera ke sana," ujar Nathan lagi sambil menutup telepon.


Ia kini beralih bicara pada Chexil. "Aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang gawat. Apa kamu berani aku tinggal sendiri? Kalau tidak biar aku antar kamu ke mama. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara. Nanti kalau tugasku sudah selesai aku bakalan jemput kamu," ujar Nathan.


"Tidak perlu aku di sini saja," tolak Chexil.


"Yakin berani tinggal sendiri? Soalnya aku tidak tahu jam berapa akan pulang," jelas Nathan.


"Tidak apa-apa, aku beneran berani kok."


"Ya sudah kalau begitu kunci pintunya, aku mau pergi dulu."


"Iya hati-hati."


"Kamu juga, ingat jangan keluar malam-malam kalau tidak benar-benar mendesak," nasehat Nathan.


"Oke."

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟


"Ada apa?"


"Ada yang gawat di perusahaan. Dari pagi sepertinya ada yang mau menerobos sistem komputer perusahaan tetapi karena saya sering memintamu untuk mengaudit sepertinya mereka gagal mencari data informasi perusahaan kami."


"Terus apanya yang gawat Om?" tanya Nathan tidak mengerti.


"Semua cctv yang ada di kantor mati total."


"Kenapa tidak menghubungi tukang servis saja, kenapa malah menghubungiku."


"Astaga Nathan, Om Louis curiga nih ada yang tidak beres di sana. Kata pak satpam listriknya juga mati mendadak padahal listrik di sekitarnya menyala."


"Ya itu pasti karena korsleting, jadi listrik mati sekalian cctv juga mati."


"Sudah ayo jangan banyak bicara, bantu om Louis kali ini saja."


"Baik kita periksa ke sana."


"Nah gitu dong kalau nikah tuh harus semangat bukan malah loyo kayak tadi. Atau kamu kebanyakan makan anu hingga loyo."


"Anu-anu apa? Om pikir Nathan tuh kayak Om Louis. Udah ah kalau mau bercanda Nathan pulang saja." Nathan berbalik.


"Eh-eh-eh, enak aja balik. Ayo ke kantor!"


Sampai di kantor Nathan langsung memeriksa keadaan listrik dan cctv. "Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini dan sepertinya mereka mau nyuri data-data perusahaan Om tapi karena tidak berhasil mereka merencanakan cara lain," ujar Nathan.


"Maksudnya?" tanya Louis tidak paham.


"Apa Om Louis menyimpan cetak biru perusahaan di tempat ini?"


"Iya benar."


"Berarti dugaanku benar. Mereka datang ke sini untuk mencuri langsung."


Saat Nathan mengatakan ini dia melihat seseorang dalam kegelapan sedang mencari sesuatu. Nathan mengejarnya dan langsung menyentrong wajah pria itu dengan senter.


"Dia?" Nathan termangu, sepertinya ia kenal dengan wajah itu. Saat Nathan menyenter lagi untuk memastikan tiba-tiba saja ada seseorang yang melempar bubuk di depan Nathan hingga membuat penglihatannya kabur.


"Aaakh!" seru Nathan sambil mengucek matanya yang terasa perih.


Bersambung............


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


Rekomendasi novel yang bagus untukmu cus kepoin dijamin seru

__ADS_1



__ADS_2