
"Baiklah ayo, tetapi jangan lupa tetap waspada dan selalu hati-hati."
"Siap Pak."
Mereka pun bergerak memasuki ruangan. Sampai di dalam ruangan suasana terasa pengap dan lembab, tidak ada sirkulasi udara yang masuk ke tempat itu sedikitpun karena jendela tertutup rapat. Penampakan sarang laba-laba yang menyambut mereka dan keadaan lantai yang berdebu menjadi tanda bahwa rumah itu memang sudah tidak ditempati lagi. Namun, entah kenapa Nathan dan anggota polisi yang lainnya masih memiliki feeling bahwa tempat itu sebenarnya masih digunakan.
"Kalian yakin mobil silver tadi masuk ke sini?" tanya Nathan sedikit agak ragu. "Kalau saja itu benar dimana mobil tersebut terparkir sekarang?"
"Kami yakin mobil itu menghilang dari pandangan kami saat berada di depan pintu besi tadi, tetapi kami tidak dapat memastikan apakah mobil itu masuk ke dalam pintu besi tersebut ataukah tidak. Tiba-tiba menghilang begitu saja," jawab pak Bambang yang tadi ikut melihat mobil tersebut hilang begitu saja bak ditelan bumi.
"Ini sedikit aneh, apa Pak Bagas tidak merasa curiga?"
"Curiga pasti, tetapi yang lebih penting sekarang kita menyelamatkan gadis yang kamu maksud itu. Saat ini nyawa perempuan itu lebih penting dari sekedar mengetahui misteri yang ada di tempat ini."
"Iya, pak Bagas benar. Untuk penyelidikan lebih lanjut kita bisa lakukan nanti saja," sambung pak Bambang sambil melambaikan tangannya pada beberapa anggota polisi supaya ikut masuk ke dalam.
"Baiklah kita berpencar saja mengingat rumah ini terdiri dari banyak ruangan."
Mereka pun melakukan aksi pencarian. Mencongkel dan mendobrak pintu mereka lakukan agar bisa membuat pintu setiap kamar terbuka. Namun, sayangnya setelah terbuka mereka tidak mendapatkan apa-apa. Semua kamar yang berhasil mereka buka kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sana.
"Pak itu ada lorong-lorong," ujar Nathan saat melihat salah satu kamar itu terhubung dengan lorong-lorong yang gelap.
Salah satu polisi menghidupkan senter dan berjalan menyusuri lorong-lorong itu diikuti Nathan di belakang.
"Hemm, Hemm." Di ujung lorong-lorong itu tampak seseorang yang diikat dengan kursi besi. Orang itu terlihat berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang membelenggunya. Mulutnya yang tertutup dengan lakban hitam tampak bergerak-gerak, berusaha meminta tolong saat melihat cahaya senter mengarah kepadanya.
"Nath mungkin itu gadis yang kamu maksud." Pak Bagas langsung berlari ke ujung lorong itu dan membantu melepaskan ikatan tali yang mengekangnya. Nathan dan yang lainnya berjalan cepat ke arah pak Bagas.
Wanita yang diselamatkan itu langsung menangis tatkala mulutnya sudah terlepas dari lakban. Tubuhnya terlihat bergetar karena ketakutan seolah dia baru saja melihat hal yang menyeramkan.
__ADS_1
"Nath kamu bawa perempuan itu keluar terlebih dulu karena tidak baik ia berlama-lama di tempat ini. Bisa-bisa dia sesak nafas. Kami masih ingin melakukan penyelidikan di tempat ini."
"Siap Pak."
Nathan langsung memangku gadis itu dan membawanya keluar ruangan.
Sampai diluar Nathan menurunkan gadis itu. "Kamu ...." Nathan baru sadar bahwa wanita itu adalah gadis yang pernah bertemu dengannya di pos satpam kampus beberapa waktu yang lalu.
"Tris ...." Tanpa menyelesaikan ucapannya Chexil memeluk Nathan dengan erat.
"Aku takut, aku bermimpi melihat mayat-mayat tergantung di sebuah ruangan."
"Tris? Apakah maksudnya Tristan?" batin Nathan.
"Tenanglah." Nathan menepuk-nepuk pundak Chexil membuat gadis itu terlihat sedikit lebih tenang.
"Aku antar kamu ke mobil polisi biar mereka yang mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau Tris. Kamu saja ya, yang mengantarku." mohon Chexil.
"Maaf aku harus ke dalam lagi untuk ikut penyelidikan."
"Pak tolong antarkan gadis ini ke rumahnya," pinta Nathan pada salah satu anggota polisi dan dirinya melangkah ke dalam kembali.
Chexil menggeleng. "Aku tidak mau." Tubuhnya bergetar hebat, keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Bayangan kakeknya yang diseret paksa oleh polisi saat ia masih kecil dan masih tinggal di negara R terlintas di kepalanya. Saat itu kakeknya diperlakukan tidak senonoh di depan keluarga hingga membuat sang nenek menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga karena syok.
Karena kejadian itu ayah Chexil -Felix Fernandez- bersumpah akan selalu menentang kepolisian karena ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka. Ayahnya dituduh membunuh seseorang atas dasar yang tidak jelas. Felix tidak tahu bahwa yang melakukan hal jahat pada sang ayah hanya oknum polisi saja yang bekerja sama dengan penjahat untuk menyingkirkan sang ayah dengan mengatasnamakan kepolisian. Hingga akhirnya Felix menjadi terbiasa dengan kejahatan yang ia lakukan karena menurutnya selain menghasilkan uang yang banyak, kegiatan bergabung dengan para mafia itu sungguh menantang adrenalin.
"Nath sebaiknya kamu saja yang mengantarnya!" perintah seorang polisi karena takut Chexil menjadi pingsan kalau dipaksa.
__ADS_1
Nathan berbalik. "Baiklah."
"Ayo!" Nathan menarik tangan Chexil tetapi gadis itu masih larut dalam ingatannya. Karena tidak ada respon Nathan langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya menuju motor.
"Sadarlah aku menggunakan motor bukan mobil, kalau kamu terus begini bisa jatuh nanti di tengah jalan." Nathan berucap sambil naik ke atas motor. Sikapnya yang begitu tegas membuat Chexil berpikir apakah Tristan memang memiliki dua karakter yang berbeda.
Chexil hanya mengangguk kemudian Naik ke atas motor dan berpegangan pada pinggang Nathan.
"Sudah," katanya.
"Katakan dimana rumahmu!"
Chexil menyebut alamat rumahnya.
Tanpa bicara lagi Nathan langsung menstater motornya dan tancap gas, melajukan motornya menuju alamat yang disebutkan tadi.
🌟🌟🌟🌟🌟
Di tempat lain.
"Tuan, Maximus tadi menelpon. Dia ingin Tuan mundur dalam pemilihan ketua klan. Nona Chexil sekarang dalam jarahannya. Dia mengancam akan membunuhnya jika Tuan masih nekat ikut pemilihan.
"Apa! Bagaimana mungkin putriku sampai diculik? Apa kalian tidak mengawasinya?!" Suara Felix terdengar murka.
"Nona Chexil kan tidak mau kalau ke kampus diikuti Tuan."
"Bodoh. Mengapa tidak diawasi dari jarak jauh? Pokoknya aku tidak mau tahu kalian harus membawa putriku kembali dalam keadaan selamat. Kalau tidak, habis kalian semua," ancam Felix.
Dari seberang sana penelpon menelan ludah mendengar ancaman majikannya yang tidak pernah main-main.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya! Baik berupa rate bintang 5, like, vote, komentar, dan hadiahnya. Terima kasih. 🙏