
Chexil menoleh, seketika matanya terbelalak melihat dua laki-laki yang berparas sama berada di depan matanya.
Chexil mengucek matanya. "Kenapa ada dua orang yang sama? Apa aku bermimpi?"
"Xil!" panggil Tristan lagi, dia yakin Chexil pasti syok mengetahui semuanya.
Bukan hanya Chexil mommy Karla pun kebingungan melihat Tristan punya kembaran.
"Berarti yang dibicarakan Chexil waktu itu bukan Tristan melainkan saudara kembarnya itu," gumam Mommy Karla. "Tapi kira-kira siapa yang berpakaian pengantin itu?" batin Mommy Karla namun ia tidak berani bertanya. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan ekspresi Chexil yang juga nampak kebingungan.
"Ah iya," jawab Chexil masih dengan raut wajah yang bingung sedang Nathan sudah duduk di sampingnya dengan ekspresi yang datar.
"Aku mau bicara," ucap Tristan lagi sedang Chexil hanya mengangguk kemudian berdiri dan berjalan mengikuti langkah Tristan.
"Ada apa Tris?" tanya Chexil pada Tristan. Sebisa mungkin dia menutupi rasa kagetnya.
"Dia abangku, namanya Nathan. Dia yang akan menggantikanku untuk menikahimu. Maafkan aku ya Xil tidak bisa menepati janji pada saat itu. Aku tidak bisa menikahimu karena sebenarnya dihatiku ada wanita lain. Aku tidak ingin mengecewakanmu ataupun gadis itu."
Chexil mengangguk. "Aku bisa mengerti."
"Kamu tenang saja bang Nathan tidak pernah ada hubungannya dengan wanita manapun, saya pikir dia akan lebih mudah untuk bisa mencintaimu. Kamu hanya perlu memberikan perhatian padanya saja."
Sekali lagi Chexil mengangguk. Meski di hatinya merasa kecewa karena Tristan main seenaknya mencari pengganti, seolah mempermainkan dirinya dan pernikahan ini, tetapi Chexil akui bahwa ia malah senang dengan keputusan Tristan karena sang pengganti cocok baginya.
"Ayo kita kembali ke sana!" Tristan menepuk bahu Chexil.
Mereka pun kembali ke meja ijab. Chexil duduk di samping Nathan dengan canggung. Dia menatap wajah Nathan sekilas lalu tersenyum sedangkan pria itu masih terlihat berekspresi datar sambil memandang wajah Tuan Alberto.
Chexil tidak menyangka bahwa kejadian yang dialami kemarin bersama Tristan telah membawa dirinya kepada orang yang selama ini selalu terngiang-ngiang di ingatannya. Dia baru sadar bahwa orang yang ditemuinya selama ini adalah dua orang yang berbeda. "Pantas saja, kupikir sifatnya yang berubah-ubah," batin Chexil.
"Bagaimana sudah siap?" Pak penghulu bertanya pada Nathan, pria itu hanya mengangguk. Oma Laras mengusap-usap bahu Nathan untuk menyemangati cucunya tersebut.
"Baiklah kita mulai." Pak penghulu mengulurkan tangannya pada Nathan dan Nathan pun menjabat tangan Pak penghulu tersebut.
"Nathan Alberto saya nikahkan kamu dengan Chexil Felixia binti Felix Fernandez dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sebesar 50 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Chexil Felixia binti Felix Fernandez dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan sekali hentakan Nathan langsung mengucapkan kalimat qabul dengan jelas dan tegas membuat Chexil tersenyum sumringah.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Kata sah menggema dari seluruh ruangan.
__ADS_1
Felix termenung dan berpikir. "Bukankah mereka mengatakan laki-laki yang menolong Chexil itu bernama Tristan? Apa mereka salah menangkap orang mengingat kedua anak ini kembar?" batin Felix.
"Alhamdulillah."
Semua orang merasa bahagia kecuali Tristan yang masih nampak khawatir. Ia takut Chexil tidak bisa beradaptasi dengan Nathan yang memiliki sikap dingin tersebut.
Isyana dan Mommy Karla nampak berpelukan begitupun dengan Zidane yang langsung merangkul Felix. Untuk sementara Felix memang memilih pulang ke dalam negeri demi menghadiri acara nikahan sang putri.
Kedua pengantin tampak melakukan sungkem terhadap kedua orang tua masing-masing secara bergiliran.
"Kamu baik-baik ya Nak, mulai sekarang kamu sudah jadi seorang istri, mommy harap kamu bisa menjaga kehormatan suami. Nurut sama suami kamu, karena mulai sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab dia." Karla berpesan sambil mengusap kepala putrinya. Matanya tampak berkaca-kaca. Sebenarnya dia tidak ingin berpisah dengan sang anak mengingat Chexil adalah anak satu-satunya sedangkan Felix jarang pulang. Dia pasti akan tambah kesepian di rumah. Namun tidak dipungkiri mommy Karla bahagia karena ternyata orang yang menikahi Chexil adalah orang yang dicintai oleh putrinya.
"Iya Mom." Chexil berucap sambil mengangguk.
"Nak Nathan saya titip Chexil!" Felix menepuk punggung Nathan.
"Iya." Nathan tidak tahu harus memanggil Felix apa.
"Panggil dia Daddy dan aku Mommy," ujar mommy Karla.
Nathan hanya mengangguk.
Mereka kini beralih kepada orang tua Nathan.
"Semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan," ujar Isyana.
"Iya Pa."
Tuan Alberto langsung memeluk Nathan. "Saya bersyukur masih diberikan umur panjang oleh Tuhan sehingga masih bisa melihat cucu opa menikah. Opa berharap semoga opa masih hidup sampai opa dapat cicit dari kamu." Mata tua pria itu tampak berembun karena terharu.
"Iya Opa."
"Nak, Nathan itu orangnya dingin beda dengan Tristan. Saya harap kamu bisa menjadikan dia pria yang hangat," bisik Tuan Alberto di telinga Chexil dan gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bagus," ucap Tuan Alberto melihat cucu menantunya mengangguk. Mereka lalu bersalaman pada Laras.
"Selamat ya Bang, Xil," ucap Tristan sambil menyalami tangan keduanya.
"Makasih Tris."
Saat Nathan ingin menjawab ucapan Tristan teman-teman Zidane menghampiri.
"Selamat ya Nat, kamu udah nikah. Nggak kerasa om Edrick udah tua ternyata," ucap Edrick lalu terkekeh.
"Nggak nyadar kamu ya bahwa putramu Elfano juga sudah besar," protes Adrian. "Selamat ya Nat."
"Makasih Om dokter."
__ADS_1
"Iya sih hehe...." jawab Edrick sambil nyengir.
"Duh nggak kerasa, kayaknya baru kemarin aku jagain kalian berdua eh udah nikah aja."
"Iyalah aunty masa cuma aunty sama dokter aja yang mau ngerasain surga dunia, kita jugalah." Tristan yang menjawab. Membuat teman-teman Zidane menggeleng sedangkan Annete mukanya tampak merah karena malu dengan jawaban Tristan.
"Makanya nikah juga sana!" Nikah itu enak loh apalagi saat musim hujan kayak gini. Hem, pokoknya asyik," sambung Ara.
Andy mendorong kepala adiknya. "Jangan meracuni otak keponakanmu yang masih polos."
"Ish siapa yang polos? Tristan polos?" tanya Ara tak percaya.
"Kalau Nathan mah baru aku percaya, tapi entar dia juga jago polos-polosin," imbuhnya.
"Lex!" ptotes Zidane pada Lexi.
"Biasa Bang dia udah lihai sekarang soal begituan," jawab Lexi sambil terkekeh.
"Ya iyalah lihai sudah punya tiga anak masih hamil lagi." protes Yuna.
"Kami planning-nya punya anak setengah lusin, tapi apalah daya Ara baru hamil lagi sekarang," jawab Lexi.
"Buset dah, setengah lusin? Kayak barang pecah belah aja," protes Dion.
"Kan memang hasil belah-membelah," sambung Louis sambil nyengir kuda.
"Nathan, nanti kalau malam pertamanya kamu kebingungan bisa japri om Louis ya, biar om Louis ajarin." Sontak Louis mendapatkan cubitan di perut dari sang istri. Sedangkan Chexil tampak tertawa mendengar guyonan Louis.
"Auw sakit Sayang."
"Biarin," ujar Safa.
"Udah lebih baik aku antar kalian ke kamar. Kalau bicara sama teman-teman papa kamu nggak akan ada habisnya," ucap Laras sambil memegang tangan keduanya lalu mengantarkan mereka berdua ke kamar pengantin.
"Tris kapan kamu nikah?" tanya Edrick.
"Masih nunggu gadis om Dion lulus sekolah." Dion dan Vania hanya memandang Tristan tanpa berkata-kata.
"Kenapa nggak sekalian nunggu adiknya Elfano aja?"
"Ogah ah Om, masih kecebong dia. Bisa prostat duluan aku."
"Ya ampun nih orang kayak aki-aki aja," ujar Yuna sambil terkekeh dan semua pun ikut tertawa.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak biar Othor semangat!🙏
__ADS_1