
"Kita berdoa saja ya," ucap Louis sambil mengacak-acak rambut keponakannya itu.
Mikey mengangguk dengan wajah penuh harap.
"Sebentar, sepertinya adik-adik kamu sudah sampai," ujar Louis saat seperti mendengar suara mobil berhenti di luar.
Bersamaan dengan itu ponsel Louis berdering. "Tuh, kan adik-adikmu sudah datang."
"Ikut Om."
"Ayo."
Anak itu mengangguk lalu berdiri dan mengikuti langkah Louis keluar.
"Kakak!" seru Akito saat melihat Mikey di belakang sang ayah.
Ketiga anak itu langsung berbaur dan bermain bersama.
"Bagaimana Mas keadaan daddy-nya Mickey?" tanya Safa.
"Kayaknya sudah mulai sadar. Tadi tangannya sudah mulai bergerak. Ayo masuk kakakmu ada di dalam kamar Tuan Max."
Safa mengangguk dan mengikuti langkah Louis dari belakang.
Louis menoleh dan berkata, "Bunda mana sayang?"
"Biasa kalau dia ke sini malah ngobrol dengan Rena dulu. Sekalian minta bantuan Rena untuk menghidangkan makanan kesukaan Kak Lisfi. Kebetulan bunda masak banyak jadi kita makan bareng ya nanti?"
"Oke siap setelah itu aku langsung ke kantor ya?"
"Baiklah."
Louis dan Safa masuk menemui Lisfi.
"Bagaimana Kak keadaan dia?"
"Kayaknya sudah mulai sadar," jawab Lisfi sedikit lega. Mereka berpelukan.
Setelah mereka berbincang-bincang sekilas Farah datang menghampiri mereka.
"Bunda!" seru Lisfi dan langsung memeluk Farah. "Lisfi kangen," ucapnya manja.
__ADS_1
"Sudah yuk kita makan bareng dulu mumpung Nak Louis belum ngantor. Bunda masak spesial buat kamu loh. Masakan kesukaan kamu."
"Terima kasih ya Bunda. Bunda masih ingat makanan kesukaan Lisfi." Ada air mata yang menetes dari pelupuk mata Lisfi, air mata haru. Wanita itu semakin memeluk erat tubuh Farah.
"Pastilah mana mungkin bunda lupa." Farah mengurai pelukan putrinya.
"Sudah yuk makan dulu, kasihan suami adikmu, katanya tadi ke sini belum sarapan."
"Iya ayo Bun."
Mereka bertiga menuju meja makan, meninggalkan Maximus untuk sementara waktu. Lisfi memerintahkan Rena untuk memanggil anak-anak.
Pagi menjelang siang mereka menikmati masakan Farah bersama.
Setelah sarapan Louis pamit pergi ke kantor.
"Aku pulang sore ya Mas," izin Safa.
"Oke siap biar aku saja nanti yang jemput sepulang kerja."
"Oke."
Sampai sore Farah, Safa dan juga anak-anaknya menemani Lisfi di kediaman Maximus.
Farah tampak ragu, tetapi kemudian mengangguk sedangkan Safa dan anak-anaknya sudah siap untuk pulang, hanya menunggu jemputan Louis saja.
"Nak, kalau kamu mau tetap tinggal di sini sebaiknya kamu menikah saja dengan Max kalau dia sudah sembuh nantinya. Bunda tidak mau kamu terjebak ke lubang zina terus-menerus," ujar Farah pada Lisfi dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
"Bunda tenang, Lisfi hanya akan tinggal di sini sampai dia sembuh. Kalau dia sudah sembuh Lisfi akan pulang."
Mendengar perkataan Lisfi mulut Maximus tampak bergerak tetapi tidak jelas apa yang dia ucapkan.
"Bunda, dia beneran sadar." Lisfi nampak senang sambil mendekat ke arah Maximus.
"Tuan ngomong apa? Ada yang ingin saya ambilkan untuk Tuan?" Maximus tampak menggeleng.
Lisfi tampak bangkit dari duduknya dan hendak pergi mengambilkan air minum. Namun, dicegah oleh Maximus dengan cara menggenggam tangan Lisfi.
Wanita itu pun duduk kembali. Karena melihat Maximus sepertinya ingin bangkit, Lisfi membantunya duduk.
"Jangan pergi! Jangan bawa Mikey pergi dariku," ucap Maximus dengan suara lemah.
__ADS_1
"Saya tidak akan memisahkan Tuan dari putra Tuan sendiri, tetapi izinkan saya membawanya pergi. Saya janji akan sering-sering membawa Mickey kemari."
Maximus menggeleng. "Kalau kau pergi siapa yang akan merawatku lagi."
"Kan ada Bik Rena. Baik-baiklah Tuan hidup dengan dia karena setelah ini saya akan ikut bunda pulang. Sudah cukup lama saya meninggalkan keluargaku."
"Maafkan aku telah memisahkan kalian semua. Kumohon jangan pergi!"
"Saya tidak yakin kamu tidak akan berbuat jahat sama putri saya lagi dan satu hal saya tidak suka putri saya dijadikan budak nafsumu semata," gerutu Farah.
"Saya akan menikahinya dan saya bersumpah tidak akan menyakiti dia lagi. Kumohon berikan aku kesempatan."
Lisfi kaget mendengar jawaban Maximus.
"Tuan tidak bercanda, kan?"
"Tidak, aku serius."
"Bunda?"
Farah mengangguk.
"Tapi ingat satu hal kalau kamu menyakiti dia lagi, saya pastikan kamu tidak pernah melihat dia seumur hidupmu bahkan juga putramu," ancam Farah.
"Saya setuju. Apapun akan saya lakukan asal dia tidak pergi dari sisiku."
"Baiklah kalau begitu, bunda merestui hubungan kalian," ujar Farah kemudian.
"Biar nanti aku minta Mas Louis untuk mengurus semuanya," sambung Farah.
"Terima kasih," ucap Lisfi.
"Sama-sama. Sekarang aku balik dulu ya Kak, Bun."
"Iya Dek hati-hati," jawab Lisfi.
"Iya hati-hati Saf. Bunda tetap nginap di sini ya."
"Iya Bun, jagain Kak Lisfi jangan sampai disentuh oleh Tuan Max lagi sebelum mereka menikah," ujar Safa cekikikan.
"Pasti," jawab Farah.
__ADS_1
Maximus hanya tersenyum mendengar celotehan Safa sedang Lisfi tampak malu-malu.
Bersambung.....