
Pagi hari Chexil sudah siap dengan kemejanya. Hari ini dia mulai ikut bekerja menjadi SPG bersama Fani.
"Hari ini tujuan kita ke mall yang ada dekat dengan perusahaan suami kamu," ujar Fani dengan hati-hati.
"Jangan ngomong begitu kenapa? Bilang aja ya di jalan apa gitu kek, nggak sebut-sebut dia lagi."
"Iya sorry. Yuk siap-siap mobil rombongan sudah menunggu di depan."
"Oke aku sudah siap kok," ujar Chexil sambil meraih tasnya.
Fani mengangguk ke arah Chexil lalu keluar dari area kosan diikuti Chexil dari belakang.
"Itu sales baru yang akan menggantikan Silvi?" tanya wanita yang Chexil tebak adalah ketua rombongan.
"Iya Bu Anya. Bagaimana menarik nggak?"
"Kalau dari gaya dan wajahnya boleh juga. Dia kan cantik pasti banyak konsumen yang tertarik untuk membeli produk kita karena mereka pasti menganggap dia juga memakai merek kosmetik yang kita jual."
"Benar banget sih Bu, makannya aku ajak dia bergabung biar penjualan kita tambah laris."
"Bagus, ngomong-ngomong siapa namanya?"
"Xil perkenalkan dirimu!" perintah Fani.
Chexil mengangguk lalu mengulurkan tangan ke arah Anya. "Chexil."
Anya pun menerima uluran tangan Chexil. "Namaku Anya, senang berkenalan dan bekerjasama denganmu." Anya tersenyum ramah dibalas senyuman manis dari Chexil.
"Ya sudah ayo masuk! Kita harus berangkat sekarang takut keburu macet."
Chexil terlihat mengangguk.
"Ayo Xil!" Fani menarik pergelangan tangan Chexil dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam banyak gadis-gadis lain yang menyapa dirinya dengan ramah. Chexil merasa terharu sekali mereka menyambut kedatangan dirinya dengan suka cita.
Mobil melaju mulus di jalanan menuju kawasan salah satu mall terbesar yang ada di kota itu.
"Kamu sudah tahu tata caranya?" tanya Anya di tengah-tengah mobil yang melaju kencang.
"Sudah Bu, Fani sudah menjelaskan semuanya."
"Bagus kalau begitu. Nanti kalau ada yang mau minta tester untuk yang bedak padat, pakai spons yang berbeda ya jangan digilir. Namun, zaman sekarang mah jarang ada orang-orang yang mau minta tester karena khawatir tertular virus dari orang lain."
Chexil mengangguk paham.
"Dan lagi bila penjualan melebihi target, bonus kita bagi rata. Tidak peduli siapa yang berperan melariskan produk kita. Kita tetap satu kesatuan. Ini adalah komitmen kelompok kita."
"Oke siap," jawab Chexil mantap.
Sampai di mall mereka membagi tugas. Ada yang ditugaskan di lantai satu, dua dan seterusnya. Karena Chexil masih baru maka ia ditugaskan bersama Fani.
"Semangat! Semoga sukses menghampiri kita." Anya memberikan semangat sebelum melepas anak buahnya.
Mereka pun berpencar dan melakukan tugas masing-masing.
__ADS_1
"Wah hebat Xil, kecantikan wajahmu ternyata menjadi berkah buat kita semua," ujar Fani ketika melihat barang bagiannya sudah habis.
"Ah kamu terlalu berlebihan Fan. Ini memang sudah rezeki kita."
"Aku kagum padamu, nggak nyangka kamu bisa merayu konsumen juga padahal aslinya kamu kan kalem."
"Kalau jualan diam mana bisa laku Fan," protes Chexil. "Jadi kalemku harus ku buang jauh-jauh," ujar Chexil sambil terkekeh.
"Iya-iya benar. Kalau begitu kita ambil lagi yuk barangnya ke Bu Anya. Gimana siap nggak jualan lagi?"
"Siaplah, kan harus semangat biar dapat bonus. Lagian ini hari belum siang-siang amat," ujar Chexil begitu bersemangat.
"Iya-iya kamu benar. Kalau begitu aku turun dulu ya untuk ambil barang, kamu tunggu di sini aja," ujar Fani.
"Oke siap."
Fani turun ke lantai bawah sedangkan Chexil memilih melihat-lihat. Namun tidak beranjak jauh, hanya di sekitar tempatnya berdiri.
Ketika sedang melihat-lihat barang-barang di mall dia malah melihat dari jauh Nathan berjalan ke arah tempat ia berdiri.
Ngapain tuh orang di sini?
Chexil langsung celingukan mencari tempat persembunyian. Ia kemudian memutuskan untuk bersembunyi di balik pakaian yang menggantung.
"Hei ngapain Mbak di situ, mau maling ya?" tegur pemilik dagangan.
"Sst! Saya hanya ingin bersembunyi Mbak dari kejaran orang jahat," ujar Chexil beralasan.
Wanita itu hanya mengangguk dan membiarkan Chexil bersembunyi di tempat itu tetapi matanya terus fokus mengawasi Chexil, takut wanita itu macam-macam.
"Itu Mbak orang jahat yang mengejar Mbak?" tanya pedagang itu penasaran.
"Iya Mbak benar."
"Wah kalau penjahatnya tampan kayak dia saya mau dong dikejar-kejar."
Chexil tepuk jidat mendengar perkataan pedagang tersebut. "Hati-hati loh Mbak, penjahat yang berwajah tampan itu biasanya lebih sadis dari biasanya." Chexil terkekeh dan langsung pergi meninggalkan pedagang itu yang tampak melongo.
"Chexil menatap kepergian Nathan ternyata dia sekarang menemui Nela.
Senang banget ya dia tanpa aku. Malah bebas ketemu wanita kadal itu. Dasar pengkhianat masih aja dekatin Nathan setelah melakukan kejahatan pada Lukas. Apa yang dia rencanakan untuk Nathan sebenarnya? Ah sudahlah Chexil, apa yang kau pikirkan? Lebih baik pikirkan dirimu sendiri.
"Hei kemana saja sih kucari-cari dari tadi," protes Fani
"Tuh ngobrol-ngobrol sama Mbak yang itu," sahut Chexil enteng.
"Mau beli baju?"
Chexil menggeleng. "Nggak cuma lihat-lihat doang. Lagian baru kerja hari ini, belum terima gaji sudah mau shopping. Apa yang mau dibelanjain?"
"Boleh pinjam uangku kalau mau."
"Nggak ah." Chexil menggeleng.
"Ya udah kalau begitu kita jualan lagi."
__ADS_1
Mereka pun memulai aksinya kembali. Menawarkan produk kepada orang-orang agar mau membeli produknya.
"Wah penjualan kita hari ini hampir meningkat dua kali lipat," ujar Anya ketika mereka sudah berada di mobil dan siap-siap untuk pulang.
"Benar Bu, pasti ini semua berkat Chexil. Kedatangan dia seolah memberikan berkah tersendiri bagi kita semua," ujar salah seorang gadis dalam mobil.
"Ah jangan berlebihan, aku jadi nggak enak. Ini semua berkat perjuangan kalian semua yang begitu gigih," ucap Chexil.
"Ini bayaran kalian untuk hari ini." Anya membagi-bagikan amplop kepada kelompoknya.
"Bonusnya nanti saja ya setelah dikasih Bos."
"Oke Bu, kami siap menunggu," jawab mereka serentak.
"Makasih Bu," ujar Chexil sambil menerima amplop dari tangan Anya dan langsung menyimpannya ke dalam tas.
Sampai di kosan dia langsung membuka amplop itu karena penasaran.
"Wah lima ratus ribu?" tanyanya seperti orang yang tidak pernah melihat uang sebanyak itu.
"Jangan norak lah Xil kayak nggak pernah punya uang segitu aja. Itu mah nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan uang yang dikasih Daddy-mu ataupun suami kamu."
"Beda lah Fan ini lebih berharga karena hasil keringat sendiri," ujar Chexil tersenyum bangga.
"Iya sih Xil tapi yakin kamu akan bekerja terus seperti ini?"
"Emang kenapa?"
"Kalau ketahuan sama orang tua kamu atau si Nathan kamu bisa dibilang mempermalukan mereka."
"Ah aku nggak peduli yang penting aku tidak nyuri dan kerjaku halal," ujar Chexil mantap.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak! untuk yang minta double up othor mohon maaf karena masih belum bisa memenuhi permintaan kalian sebab othor punya 2 novel yg on going. Mungkin lain waktu ya.🙏
Sambil menunggu Othor up date lagi mampir ke sini dulu yuk! Dijamin seru dan bikin baper.
Judul: Stuck Marriage (Season 1&2)
Karya; Tyatul
Blurb:
Season 1
Rencana menyelamatkan diri dari musuh keluarganya membuat Ariana Delta terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang sopir taksi bernama Alex Bara.
Setelah terbiasa hidup bersama membuat benih benih cinta diantara mereka tumbuh.
Ariana dan Alex memiliki rahasia yang tak diketahui masing masing. Hingga kebenaran terungkap, apakah keduanya tetap bisa saling mencintai?
Season 2
__ADS_1
Menceritakan kisah anak pertama Ariana dan Alex siapa lagi kalau bukan Albian Ivander Bara dengan segala pesonanya.